
Libra menatap Arzan dengan mata menyala. Kedua tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, bahkan dadanya bergemuruh.
Arzan sedang duduk di kursi kebesarannya dengan stelan jas berwarna hitam. Matanya sibuk meneliti dokumen yang harus di tanda tanganinya.
“Selamat pagi, Pak. Tamu Bapak sudah datang,” kata seorang wanita cantik yang menjadi sekertaris sekaligus pacarnya.
Arzan mendongak lalu mengangguk sekilas kepada wanita itu. Lalu mempersilahkan Libra untuk duduk di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Arzan setelah sekertarisnya keluar dari ruangan.
“Ck...ck…ck,” decak Libra sambil geleng-geleng kepala. Dia berjalan santai mendekati Arzan, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Tatapannya begitu tajam, senyum yang tampak mengerikan tercetak jelas di wajah Libra.
“Ternyata lo masih bisa hidup santai,” ucap Libra sinis.
Arzan bangkit dari kursinya, lalu berdiri tepat di hadapan Libra. “Maksud lo apa?”
Libra memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Dia menatap sekeliling sejenak, lalu menatap tepat pada bola mata Arzan.
“Pembunuh seperti lo harusnya gak bisa menikmati hidup seperti ini.”
Arzan mendengus, dia mengerti apa maksud Libra. Namun dia pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Libra.
“Gue gak ngerti sama ucapan lo.”
Bugh…
Satu bogem mentah mendarat di rahang Arzan. Dia sampai terhuyung ke belakang karena serangan itu begitu mendadak. Dia mengusap rahangnya sekilas, lalu melempar tatapan tajam ke arah Libra. Dia kembali berdiri tegak di depan Libra, seolah-oleah tak terjadi apa-apa.
“Lo gak usah ikut campur sama urusan gue!” serunya.
Mendengar itu, Libra bagaikan api yang di siram dengan bahan bakar. Emosinya berkobar begitu saja.
“Bangsat!” Libra kembali melayangkan pukulan ke wajah Arzan. Lalu menendangnya dengan membabi buta. Ketika Arzan jatuh di lantai, Libra segera menghampirinya dan duduk di atasnya. Dia yang sudah gelap mata menghajar Arzan habis-habisan. Untuk sesaat Arzan tak bisa melawan, dia hanya bisa bertahan.
Namun akhirnya dia berhasil mendorong Libra dan balas memukul Libra. Untuk beberapa lama mereka masih berkelahi. Napas mereka terengah-engah, wajahnya sudah babak belur tak karuan. Kondisi Arzan yang belum terlalu fit membuatnya kewalahan. Dia tak bisa mengimbangi serangan Libra.
Brak…
Libra menendang dada Arzan sampai Libra terpental dan menghantam meja yanga d di belakangnya. Bertepatan dengan itu, sekertaris Arzan masuk dan berteriak histeris. Dia segera memanggil satpam untuk melerai perkelahian di antara Arzan dan Libra.
“Brengsek! Urusan kita belum selesai!” teriak Libra tak terima ketika tubuhnya di seret paksa oleh dua satpam.
“Lepasin, Pak. Saya mau bicara dengan dia,” kata Arzan sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Kedua satpam itu terlihat ragu. Namun setelah Arzan meyakinkannya, satpam itu akhirnya menurut. Mereka melepaskan Libra dan memberi peringatan agar tak mengacau di kantor. Jika Libra mengacau lagi, mereka akan melaporkan Libra ke polisi.
***
Arzan dan Libra duduk di sofa bersebrangan. Kini keduanya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Wajah mereka berdua babak belum, bahkan bibir Arzan sampai pecah. Sesuai janji Libra kepada Isabela, dia menamparnya dengan sangat keras hingga bibir Arzan berdarah seperti itu.
“Andai waktu bisa di putar, gue gak akan ngelakuin hal bodoh itu.”
“Bahkan, gue sempet berpikir untuk menukar nyawa gue sama nyawa Ava. Lebih baik gue yang mati daripada dia.”
“Tapi penyesalan gue gak ada artinya, karena gak bisa merubah apapun. Dua hari yang lalu, gue berusaha buat hidup normal. Tapi sulit banget buat gue,” tutur Arzan panang lebar. Dia menyandarkan punggungnya sambil menunduk dalam-dalam. Hatinya terasa sangat sakit, air matanya mulai membahasahi pipi.
Libra tahu jika penyesalan Arzan memang tulus. Tapi dia masih tak bisa memaafkan kesalahanArzan begitu saja.
“Sarah lebih parah dari lo!”
Arzan mengangguk, “Pasti. Dia sayang banget sama Ava.”
Kini keduanya kembali terdiam, bukan karena bingung mau berkata apa, tapi mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Meskipun gue mati, Sarah tetep gak bisa maafin gue,” ujar Arzan dengan tatapan kosong. Dia sadar akan hal itu, bahkan sangat sadar. Nyawany tak bisa menukar maaf dari Sarah.
“Zan, kenapa lo tega sama Sarah? Selingkuh, ngrebut Ava, nyia-nyian Sarah, bahkan lo bikin Ava meninggal. Kenapa lo tega ngelakuin itu? Sarah kurang apa?” Libra melontarkan banyak pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.
Arzan tampak menghela napas berat. “Sarah gak kurang apa-apa. Gue yang terlalu bego.”
“Gue cinta sama Sarah. Tapi semua yang gue lakuin justru bikin Sarah terluka,” sambungnya dengan air mata yang masih berurai bebas di pipinya. Baru kali ini dia menangis di depan orang lain. Biasanya dia menangis seorang diri.
“Asal lo tau, dari SMA gue udah suka sama Sarah. Tapi perasaan dia ke gue biasa aja. Gue memendam perasaan ke Sarah dari SMA sampai sekarang,” kata Libra yang membuat Arzan terkejut. Dia tak menyangka jika Libra memendam perasaan selama itu.
“Gue memilih memendam perasaan itu karena gak mau ngerusak persahabatan gue sama dia. Setiap kali lo nyakitin Sarah, hati gue ikut sakit,” imbuhnya. Rahasia besar yang dia simpan selama ini akhirnya terbongkar. Arzan adalah orang pertama yang dia kasih tahu.
Dia memilih kuliah di luar kota karena tak sanggup melihat Sarah yang saat itu menjadi istri Arzan. Dia patah hati hebat. Dengan tertatih-tatih, Libra kembali menata hidupnya.
Harapannya kembali muncul setelah Sarah bercerai dengan Arzan. Tapi dia tak langusng mengungkapkan perasaannya. Dia memilih memendam entah sampai kapan. Dia takut jika persahabatnnya dengan Sarah berakhir hanya karena sebuah perasaan.
“Maaf, gue gagal jadi laki-laki yang baik buat Sarah. Sekarang gue sadar kalo Sarah lebih cocok sama lo,” celetuk Arzan. Dia mengubur dalam-dalam perasaan cemburunya. Dia ingin melihat Sarah memiliki kesempatan kedua untuk bahagia.
“Harusnya lo gue bunuh. Tapi gue gak ngelakuin itu karena bagaimanapun lo pernah jadi bagan dari hidup Sarah.”
Kini Arzan terisak. Rasa bersalahnya begitu besar. Dia mengingat semua yang telah dia lakukan kepada Sarah.
“Gue harap, setelah ini lo gak muncul di kehidupan Sarah lagi. Lo harus menghilang dari hidupnya,” pinta Libra sambil menatap Arzan dengan tatapan yang sulit di artikan. Tapi dia sudah tak menyimpan dendam lagi kepada Arzan.
Arzan mengangguk mengerti. Lagipula dia tak memiliki nyali untuk menghadapi Sarah. Dia terlalu malu.
“Sarah bunuh diri, sekarang dia di rumah sakit,” lirih Libra.
“APA?” tanya Arzan tak percaya. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Libra tak percaya. Dia tak menyangka jika Sarah akan berbuat sejauh itu.
“Semoga Sarah baik-baik aja,” kata Libra lagi penuh harap. Sampai detik ini, Isabela belum memberinya kabar apapun.