
Selesai mewarnai rambut, Sarah bergegas menyusul Sabrina dan Ava di sebuah kedai es krim yang tak jauh dari salon. Dia menuju tempat tujuan menggunakan taksi. Dia sengaja meninggalkan mobilnya agar Libra bisa mengantar Isabela pulang.
Sesampainya di tempat tujuan, Sarah langsung mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Pandangannya berhenti ketika melihat seorang wanita sedang bersama anak kecil sedang menikmati es krim sambil tertawa riang.
Sarah tersenyum dan langsung menghampirinya. Sabrina yang melihat itu langsung ikut tersenyum.
"Wah, keliatannya enak tuh," ujar Sarah setelah duduk di seberang Sabrina.
"Bunda mau?" tanya Ava seraya memberi satu suapan es krim dengan rasa strawberry.
Sarah membuka mulut dan menerima suapan es krim. Dia mengacungkan ibu jarinya, menandakan bahwa es krim itu enak.
"Brin, maafin gue ya. Lo jadi harus jagain Ava gini," kata Sarah setelah menelan es krimnya. Dia merasa tidak enak hati dengan Sabrina. "Gak apa-apa, lagian gue seneng kok ngajak Ava makan es krim gini. Daripada di sana gue ketemu Mak Lampir," sahut Sabrina dengan nada sewot.
"Hah? Mak lampir siapa?"
Sabrina membersihkan sudut bibir Ava yang belepotan menggunakan tisu, lalu berucap dengan nada kesal. "Siapa lagi kalo bukan Victoria!"
Sarah terbelalak, "Lo ketemu dia? Kok tadi gue gak liat ya?"
"Mungkin dia udah gak di salon lagi kali."
"Mungkin. Tapi tadi Libra juga gak ngomong apa-apa ke gue."
Sabrina memajukan tubuhnya sedikit, "Waktu gue dateng dan nyamperin Ava sama Libra, dia langsung sewot gitu. Gue di maki-maki, dia ngira gue deketin Libra."
"Itu cewe emang gak ada otak! Jelas-jelas gue satu kelas sama Libra, apalagi satu circle. Wajar kalo gue kenal deket sama Libra," imbuhnya. Dia mulai mengungkapkan kekesalannya kepada Sarah. Sejak dulu dia memang tak suka dengan Victoria. Gayanya yang sok cantik membuatnya muak.
Sarah hanya diam, dia menunggu kelanjutan cerita dari Sabrina.
"Akhirnya daripada gue dengerin ocehan dia, gue milih bawa Ava pergi. Muak gue liatnya!"
Sarah tersenyum simpul. Sepertinya pacar Libra memang sangat pencemburu. Dan ternyata benar yang di katakan Libra, Victoria pemarah.
Meskipun Sarah belum pernah bertemu langsung dengan Victoria, tapi dia bisa membayangkan seperti apa Victoria itu.
"Kalo lo ketemu sama dia terus dia ngomong yang enggak-enggak, lo jambak aja rambutnya," pesan Sabrina.
Sarah hanya terkekeh, rupanya Sabrina benar-benar kesal dengan Victoria. Dia jadi penasaran seperti apa rupa Victoria.
Setelah puas menumpahkan isi hatinya, Sabrina pamit pulang terlebih dahulu. "Kapan-kapan kita ketemu lagi ya," ujarnya sebelum berlalu pergi.
"Bye, Tante Sabina," ucap Ava sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Sebelumnya dia sudah mengucapkan terimakasih kepada Sabrina karena di belikan es krim.
***
Jantung Sarah berdebar lebih kencang dari pada biasanya. Dia berdiri mematung dengan tatapan yang sulit di artikan. Di sampingnya berdiri Ava yang sedang asik menatap aneka macam buah.
Jantung Sarah semakin berdebar ketika seseorang yang menatapnya tadi berjalan dengan cepat ke arahnya. Tatapannya begitu tajam, ekspresi wajahnya datar.
“Hai, Tante,” sapa Sarah dengan sopan. Meskipun dia sedikit takut, tapi dia tetap bersikap seperti biasanya.
Mirna tersenyum tipis, lalu bertanya dengan tegas, “Kamu sudah pindah dari apartemen Libra?”
Mirna mengangguk sekilas ke arah Ava, lalu pandangannya kembali ke arah Sarah. Dia masih menunggu jawaban Sarah.
“Em, belum Tante. Sarah lagi cari-cari rumah. Sebentar lagi juga pindah, kok.” Sarah menatap Mirna ragu-ragu, jari tangannya saling bertautan dan bergerak-gerak tak nyaman.
“Ck, kamu tuh gimana, sih. Tante kan udah kasih kamu banyak waktu, masa belum dapet rumah juga,” desak Mirna. Kini tatapannya benar-benar tajam dan menyiratkan rasa tidak suka. Dia bersedekap dan mengangkat wajahnya.
“Maaf, Tante. Soalnya ada ken-”
“Saya tidak menerima alasan! Pokoknya kamu harus pindah secepatnya! Jangan mentang-mentang saya kenal kamu lama jadi kamu seenaknya gini. Saya gak suka kalo anak saya tinggal sama janda beranak satu!” maki Mirna. Dia sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Wajahnya sudah merah menyala oleh amarah.
“Satu lagi, saya harap kamu gak terlalu dekat dengan Libra. Saya gak mau ada berita miring tentang Libra!”
“Baik, Tante,” ucap Sarah dengan hati yang sedikit perih. Tidak! Hatinya memang benar-benar perih. Lagi-lagi status jandanya di permasalahkan. Apa seburuk itu pandangan orang lain terhadapnya?
“Ya sudah, saya pergi dulu.” Mirna segera berlalu pergi. Hatinya masih dongkol ketika mengetahui bahwa Sarah masih tinggal bersama anaknya.
Setelah Mirna menghilang dari pandangan Sarah, Ava langsung bertanya.
“Bunda di marahin sama Nenek ya?”
Pertanyaan Ava sukses membuatnya semakin menyedihkan. Sedikit demi sedikit Ava sudah tahu beberapa hal.
“Enggak, sayang.”
“Bohong, itu tadi Nenek marah-marah kok. Mukanya merah, terus nyeremin lagi. Persis kaya setan,” ucap Ava polos.
“Sayang, gak boleh ngomong gitu. Sama orang tua harus menghargai, gak boleh jelek-jelekin. Paham, Nak? Jangan di ulangi lagi ya,” peringat Sarah. Meskipun tebakan Ava benar, tapi dia tak mau jika anaknya itu menjelek-jelekan orang lain.
“Baik Bunda, maafin Ava,” ujarnya sambil meraih tangan Sarah dan menarik-nariknya. Dia memasang wajah memelas.
Sarah menelan ludahnya secara susah payah, lalu mengajak Ava untuk segera memilih buah-buahan. Dia akan berbelanja buah-buahan dan susu untuk Ava. Dia segera menuntun Ava untuk memilih buah.
Meskipun hatinya masih cukup sakit oleh kata-kata Mirna, tapi Sarah berusaha tersenyum dan tertawa ketika Ava melakukan hal konyol. Dia harus terlihat bahagia di depan Ava.
“Sabar, Sarah,” batin Sarah seraya mengambil buah melon.
Selesai berbelanja, dia langsung pulang. Sepanjang jalan ingatannya terus berputar pada ucapan Mirna. Dia harus segera mencari rumah agar Mirna tak marah-marah lagi padanya.
“Mah, maaf ya, Sarah harus jual rumah Mamah,” batin Sarah dengan sedih. Jika uangnya masih kurang, dia juga akan menjual mobilnya. Meskipun terasa sangat berat, dia harus melakukannya.
“Bunda, Ava pengen berenang. Waktu itu Om Ibra ngajakin Ava berenang. Ava mau lagi,” pinta Ava. Dia duduk dengan kaki yang di goyang-goyangkan ke depan dan belakang.
“Besok-besok ya, sayang. Bunda lagi sibuk kerja,” jawab Sarah. Nanti malam dia harus begadang untuk menulis lima bab novel. Beberapa hari ini pembacanya sudah protes karena dia selalu upload dua bab novel saja.
“Jangan lama-lama, Bunda janji ya?”
Sarah menoleh sekilas, lalu mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Ava. Jari kelingking mereka saling bertautan, sepakat untuk membuat janji. Sarah akan berusaha memenuhi semua keinginan Ava. Apapun itu.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️