WHISPER

WHISPER
Momen Segera Berakhir



Sarah tiduran dengan posisi miring, sedangkan Ava duduk di depan Sarah sambil sibuk mewarnai. Mereka berdua berada di kamar, sementara Libra belum pulang juga meskipun sudah begitu larut.


“Sayang, kamu belum ngantuk?” tanya Sarah ketika melihat anaknya masih begitu aktif, padahal dia sendiri sudah mengantuk.


“Belum Bunda, Ava lagi sibuk,” ujar Ava sambil terus mewarnai di bukunya.


Sarah merasa familiar dengan ucapan Ava, benar juga, Ava menirukan dirinya berbicara ketika sedang sibuk menulis. Ternyata anak kecil selalu menirukan apa yang orang dewasa ucapkan dan lakukan.


“Bunda, ini gambar apa?” tanya Ava seraya menunjuk sebuah gambar bunga kepada Sarah. Dia belum tau banyak tentang gambar.


“Ini namanya bunga mawar. Daunnya kamu warnai dengan warna hijau, sedangkan kelopak bunganya kamu warnai merah,” ujar Sarah seraya memberi petunjuk kepada Ava. Dia memberi petunjuk sambil memberi tahu mana warna merah dan hijau.


Ava mengangguk antusias, lalu mengambil pensil warna secara sembarang.


“Bunda, ini warna ijo kan?” tanya Ava seraya menunjukkan pensil warna yang di ambilnya secara sembarang.


“Bukan, sayang. Itu warna biru,” jawab Sarah. Kemudian dia menunjukkan warna hijau kepada Ava.


Malam ini dia sengaja tidak menulis, dia memilih menemani Ava bermain. Tidak menulis bukan karena dia kehabisan ide, tapi dia terganggu dengan ucapan Mirna beberapa waktu yang lalu.


“Gue harus nyari tempat tinggal!” batin Sarah. Dia tak mau di cap sebagai janda gatel oleh mama Libra. Sudah cukup dia menjadi bahan gosip tetangganya, dia tak mau lagi ada gosip buruk tentang dirinya.


Dari awal dia sudah menduga akan ada masalah seperti ini, statusnya yang janda pasti akan di permasalahkan jika tinggal bersama Libra. Tapi dia tak menyangka jika yang mempermasalahkan adalah mama Libra sendiri.


“Bunda, ini warna merah?” tanya Ava menyadarkan Sarah dari lamunannya.


“Iya, sayang,” jawab Sarah seraya mengangguk dan tersenyum.


Ava sudah semakin besar, rasa ingin tahunya juga semakin bertambah. Setiap hari dia terus bertanya banyak hal, sampai-sampai Sarah bingung harus menjawab apa. Meskipun Ava tumbuh tidak di dampingi seorang ayah, Sarah akan memastikan bahwa Ava tak akan kekurangan kasih sayang.


Dia bisa mengerjakan semuanya sendiri. Mencari uang, mengurus Ava, dan mengurus dirinya. Dia tumbuh menjadi wanita mandiri. Dan sekarang pun, dia ingin melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi.


“Demi Ava, gue harus jadi wanita kuat. Bunda sayang kamu, sayang,” batin Sarah seraya mengelus rambut Ava, kemudian menciumnya dengan gemas membuat Ava protes.


“Tidur, yuk, Nak. Udah malem banget nih. Kalo gak tidur-tidur nanti di datengin zombie loh,” kata Sarah sengaja menakut-nakuti Ava.


“Zombie tuh apa, Bunda?” tanya Ava polos. Baru kali ini dia mendengar kata zombie.


“Zombie tuh mayat hidup, dia suka makan orang. Kalo Ava gak tidur, nanti di makan zombie,” peringat Sarah.


“Ava mau bobo,” kata Ava seraya beranjak berdiri, kemudian dia mengambil posisi tidur dengan nyaman.


Sarah tersenyum dan segera memberesi pensil warna dan buku mewarnai. Setelah itu dia membaringkan tubuh dengan nyaman di samping Ava. Sebelum tidur, Sarah selalu mengajari Ava berhitung. Bahkan, kini Ava sudah pandai berhitung sampai sepuluh.


***


Sarah melirik Libra sekilas, lalu kembali fokus pada aktivitasnya. Dia membuat pancake untuk sarapan. Meskipun dia sibuk membuat sarapan, tapi ekor matanya masih bisa melirik Libra. Bahkan dia tahu jika Libra sedang memandanginya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia terlihat seperti akan berbicara sesuatu, namun ragu.


“Sarah, maafin nyokap gue soal kemarin,” ucap Libra sambil menatap Sarah. Meskipun Sarah tak bilang bahwa dia bertemu Mirna, tapi Libra tahu.


“Em, bukan gitu maksudnya,” ucap Libra cepat. Dia jadi merasa tak enak hati dengan Sarah. Dia sangat yakin pasti mamanya bilang yang tidak-tidak kepada Sarah.


“Udah santai aja. Gue lagi cari-cari tempat tinggal. Kalo udah dapet gue bakal langsung pindah.”


“Sarah, gue-” Libra menghentikan kalimatnya. Dia sendiri bingung harus bagaimana. Mencegah Sarah pindah dari apartemen rasanya sulit.


“Gak usah ngerasa bersalah gitu. Kamu sendiri juga tau kalo tinggal bareng gini gak baik.”


“Maaf,” lirih Libra. Bahkan suaranya hampir tak bisa di dengar oleh Sarah jika dia tak menajamkan indra pandangannya.


“Lo mau tinggal dimana?” tanya Libra kemudian.


Sarah berjalan ke arah Libra, lalu menyiapkan sarapan. Dia juga membuat secangkir matcha untuk Libra.


“Belum tau, tapi gue mau nyari rumah di kompleks gitu. Gue pengen Ava punya temen, jadi dia gak akan kesepian,” ujar Sarah seraya duduk.


Libra mengangguk-angguk, kemudian menyesap matchanya dengan perlahan. Dia selalu suka matcha buatan Sarah. Jika tak ada Sarah, nantinya dia harus membuat minuman matca sendiri.


Hari ini Libra ada kelas jam satu siang, jadi dia masih memiliki banyak waktu yang akan ia gunakan untuk menggambar. Komik yang di buatnya dengan Sarah sudah mulai banyak yang membaca. Bahkan dia mempromosikannya kepada teman kuliah dan banyak dari mereka yang menyukainya.


Melihat pembaca yang semakin bertambah, Libra jadi semakin bersemangat. Bahkan dia sering tidur larut malam hanya untuk menggambar. Dia benar-benar akan mengembangkan bakatnya itu. Dia juga berharap nantinya bisa menulis naskah sendiri.


“Untuk naskah selanjutnya, kamu udah bikin?” tanya Libra setelah keduanya terdiam beberapa saat.


“Udah selesai, nanti gue kirim via chat,” jawab Sarah. Dia menggigit pancakenya, lalu mengunyahnya perlahan.


Ketika keduanya kembali terdiam, Ava keluar sambil menguap. Dia sudah bangun dan berjalan sendiri ke ruang makan. Matanya masih menyipit, rambutnya acak-acakan, bahkan pampers yang di pakainya terlihat begitu penuh dengan ompol. Selama tidur, Ava masih menggunakan pampers.


“Sayang, kamu udah bangun, yuk cuci muka dulu,” ajak Sarah seraya beranjak berdiri dan membimbing Ava menuju wastafel. Dia selalu membiasakan Ava untuk mencuci muka setelah bangun tidur.


“Om, Ibra gak kuliah?” tanya Ava yang kini sudah duduk di seberang Libra. Kini wajahnya terlihat lebih segar, rambutnya juga sudah di sisir.


“Nanti siang, sayang. Abis ini Om Ibra mau kerja,” jawab Libra sambil tersenyum lebar. Dia sangat menyayangi Ava. Rasanya akan sangat kesepian jika dia harus berpisah dengan Sarah dan Ava.


“Om Ibra kerja apa?” tanya Ava penasaran. Sementara Sarah sedang membuat sebotol susu untuk Ava.


“Em, Om Ibra jadi komikus. Gambar-gambar gitu,” jelas Libra.


“Gambar? Wah, Ava juga mau dong pinter gambar biar bisa jadi kokus,” celoteh Ava.


Sarah dan Libra seketika tertawa mendengar ucapan salah Ava.


“Komikus sayang, bukan kokus,” ucap Sarah membenahi.


Ava hanya cekikikan, lalu dia menerima botol susu yang di serahkan oleh Sarah. Momen sarapan kali ini berlangsung begitu menyenangkan. Tapi sayang, momen sarapan seperti ini akan segera berakhir.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍