WHISPER

WHISPER
Benci Setelah Cinta



Sarah berdiri di samping jendela, memandang keluar ke arah gedung-gedung pencakar langit. Wajahnya muram, pikirannya tak karuan.


Di tempat tidur, Isabela tampak meringkuk dengan selimut yang menutupi sebatas dada. Dia tampak lelah karena semalam membawa mobil tanpa bergantian dengan Sarah.


Cuaca pagi ini tampak mendung, bahkan sudah ada tanda-tanda akan turun hujan. Sarah ingin menuju ke rumah sakit sekarang juga, tapi tentu saja jam besuknya belum  buka.


Kini mereka berada di hotel yang tak jauh dari rumah sakit tempat Ava di rawat. Berkat Isabela yang selalu aktif di media sosial, dia selalu bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Jika Sarah tak mengenal Isabela, pasti dia tidak akan tahu bahwa anak semata wayangnya terbaring lemah di rumah sakit.


Cukup lama Sarah berdiri di samping jendela, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mandi dan bersiap ke rumah sakit. Dia akan pergi seorang diri, membiarkan Isabela beristirahat.


Setelah siap, Sarah segera pergi menuju rumah sakit. Sepanjang jalan dia selalu memikirkan keadaan Ava. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ava.


Ketika sampai di parkiran, mata Sarah menangkap sosok wanita yang tak asing baginya. Ya, wanita itu adalah pacar Arzan sekaligus sekertarisnya.


Sarah langsung turun dari mobil dan mengikuti kemana wanita itu pergi. Dia bisa memastikan bahwa wanita itu menuju tempat di mana Ava di rawat.


Benar saja, wanita itu masuk ke dalam ruang VIP.  Sarah tampak menghela napas berat, dia menyiapkan mental dan beberapa kalimat yang akan ia ucapkan kepada Arzan. Lebih tepatnya makian.


Dengan dada yang mulai bergemuruh, Sarah membuka pintu. Tampak Ava sedang tertidur dengan tenang. Sementara itu, Arzan sedang duduk sofa sambil memainkan HP. Lalu di sampingnya ada sang kekasih.


Kedatangan Sarah membuat Arzan terkejut bukan main. Dia sampai melongo tak percaya. Dia meletakkan hpnya dan beranjak berdiri.


Plak…


Sarah menampar pipi Arzan dengan kuat. Selama mengenal Arzan, baru kali ini Sarah menamparnya. Tak hanya itu, dia juga mencengkeram kerah kemeja Arzan.


"Bajingan! Kenapa lo gak bilang kalo Ava sakit?" tanya Sarah dengan mata yang menyala karena emosi. Dia benar-benar tak bisa bersabar jika menyangkut dengan Ava.


Kekasih Arzan hanya bisa duduk dengan wajah yang panik. Dia tak mampu berbuat apa-apa, lagipula itu bukan urusannya. Arzan dan Sarah harus menyesuaikan urusan mereka berdua.


"Sarah, sabar dulu. Gue juga mau kasih tau Lo, tapi lo udah dateng duluan," bela Arzan sambil melepas tangan Sarah yang mencengkram kerahnya. Dia menggenggam tangan Sarah dan menatap matanya dengan lembut.


Sungguh, Sarah benar-benar muak dengan itu.


"Gak usah bohong! Sebenernya apa yang lo rencanain? Lo mau misahin gue sama Ava?" tanya Sarah seraya menepis tangan Arzan. Dia mundur beberapa langkah.


"Sarah, lo jangan-"


Diam! Gue gak ada urusan sama lo! Gue harus selesaikan ini sama Arzan!" potong Sarah membuat kekasih Arzan langsung menutup mulut. Dia beringsut menjauh dari Arzan.


"Jangan bentak dia!" seru Arzan lantang, membuat Ava terbangun dari tidurnya. Sarah tak sempat membalas bentakan Arzan, dia justru langsung menoleh ke arah Ava


Rintihan Ava membuat Sarah segera berlari menuju Ava. Air matanya sudah tak dapat di bendung lagi, dia menangis sesenggukan.


“Bunda kok lama banget datengnya? Ava kangen banget sama Bunda. Kaya Ayah, Bunda sibuk kerja jadi gak bisa jemput Ava,” ucap Ava membuat Sarah terhenyak. Bukankah Ava yang menolak untuk pulang? Tapi kenapa Ava justru mengatakan yang sebaliknya? Ada apa ini?


Arzan hanya bisa duduk sambil menunduk. Rasa bersalah mulai merayapi dirinya, namun dia tak mau di salahkan.


“Bunda sama siapa?” tanya Ava lagi. Nada bicaranya masih begitu lemah, namun matanya berbinar riang.


“Sama Tante Isabela, tapi dia lagi istirahat karena capek,” jawab Sarah lembut. Dia mengelus-elus kepala Ava dengan sayang.


Sarah kembali menoleh ke arah Arzan, lalu bertanya dengan nada sedikit keras, “Ava sakit apa?”


Arzan tak bisa menjawab, dia justru menoleh ke arah kekasihnya, meminta bantuan untuk menjawab. Kekasihnya langsung tanggap dengan situasi, dia pun menerangkan kepada Sarah.


“Ava demam. Badannya panas dan dia rewel gitu, akhirnya saya bawa langsung ke rumah sakit,” terangnya. Meskipun dia sudah menjadi kekasih Arzan, tapi dia tak pernah cemburu kepada Sarah. Dia tahu diantara Sarah dan Arzan sudah tidak ada hubungan apa-apa. Satu-satunya alasan mereka masih bertemu adalah Ava.


Sarah berdecak seraya menatap Arzan sinis. Hanya demam saja langsung di bawa ke rumah sakit? Batinnya. Bukannya Sarah tak suka Tindakan Arzan, tapi harusnya mereka lebih mengerti apa yang harus di lakukan. Jika anak kecil demam, cukup di kompres dan di beri obat saja cukup. Tidak semua anak kecil menyukai rumah sakit, itulah kenapa saat Ava demam, Sarah hanya merawatnya sendiri. Saat di rumah, anak kecil justru bisa bebas bermain dan itu membuatnya lupa dengan sakit yang di deritanya.


Tapi sarah tak menyalahkan Arzan ataupun kekasihnya. Baginya, Tindakan mereka sudah cukup baik. Tapi hari ini dia akan membawa pulang Ava.


“Sayang, kita pulang ya. Bunda udah beli rumah yang  bagus buat Ava. Rumah yang ada kolam renangnya, ada halamannya,” kata Sarah sambil tersenyum bangga.


Ava langsung mendudukkan diri, wajahnya terlihat begitu antusias. “Sekarang Bun?”


Sarah mengangguk pasti. “Tapi Bunda ke depan dulu ya, ada yang harus di urus sebelum Ava pulang,” ujarnya.


Arzan berjalan mendekati Sarah, lalu bertanya dengan nada sedikit ketus, “Ava belum boleh pulang sekarang.”


Sarah menyuruh Ava untuk beristirahat sejenak. Dia berjanji akan membawa Ava pulang hari ini. Untung saja Ava langsung menurut.


Sarah beranjak berdiri, lalu menatap Arzan dengan tajam.


“Gue Ibunya, dan gue berhak bawa dia pulang!”


“Sarah! Ava lagi sakit.”


“Gue lebih tahu Ava! Emang selama ini lo bener ngurus Ava? Bukannya yang ngurus Ava itu Babysitter? Terus lo ngapain?” tanya Sarah sinis. Kali ini dia tak akan terpengaruh oleh tatapan ataupun ucapan lembut Arzan. Dia sudah benar-benar muak.


“Satu lagi, kenapa lo ngomong ke Ava kalo gue sibuk kerja dan gak sempet jemput dia? Sebenernya lo mikir apa sih?” kesal Sarah.


Arzan menatap garang ke arah Sarah. Rahangnya mengeras dan matanya melotot. Baru kali ini dia seperti itu. Biasanya dia akan tenang, lalu berucap dengan nada lembut. Tapi kali ini beda.


“Emang lo udah sempurna?”


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️