WHISPER

WHISPER
Penusukan Pria Bertato



“Gue pergi dulu ya, bye Ava,” pamit Libra seraya melambaikan tangan ke arah Ava. Dia berjalan ke arah rak sepatu dan mengambil sepatunya, pilihannya pada sepatu Converse berwarna putih.


“Hari-hati di jalan,” pesan Sarah tanpa menoleh.


“Om Ibra pulangnya bawa es krim ya,” pinta Ava.


Libra mengangguk. Kali ini dia akan pergi bersama Victoria. Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu bersama pacarnya itu. Maka liburan hari ini dia menyempatkan diri untuk pergi bersamanya.


“Siap, sayang,” sahut Libra seraya membuka pintu dan keluar. Baru saja keluar, dia mendengar suara ribut-ribut dari unit yang ada di depannya. Keributan itu sering terdengar beberapa bulan terakhir ini, tapi dia acuh saja.


Libra masuk ke dalam lift, lalu turun ke bawah, ke tempat parkir. Rencananya, hari ini dia akan mengajak Victoria bersantai di vila yang ada di pinggir pantai. Dia akan menyerahkan waktunya kepada Victoria.


Jalanan di hari minggu begitu padat. Banyak sekali orang-orang yang memilih berlibur bersama keluarga ataupun pasangan. Sekitar setengah jam, Libra sampai di kawasan elit yang menjadi tempat tinggal Victoria.


Ketika baru sampai di halaman rumah, ternyata Victoria sudah menunggunya di teras bersama ibunya. Libra turun dari mobil, lalu menyalami ibu Victoria dan izin untuk mengajaknya pergi.


“Hati-hati di jalan,” ujar ibu Victoria ketika keduanya hendak masuk ke dalam mobil.


“Iya, Mah,” jawab Victoria. Hari ini dia tampil cantik mengenakan dress bunga-bunga. Rambut blondenya dia biarkan tergerai, namun di hiasi bandana berwarna merah muda. Dia juga mengenakan flat shoes berwarna putih, lalu tas selempang berwarna senada. Penampilannya terkesan begitu segar.


Ketika baru berjalan beberapa menit, tiba-tiba ponsel Libra berdering. Victoria menatap ponsel Libra dengan alis yang saling bertautan.


“Siapa?” tanya Victoria yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


“Temen kuliah,” jawab Libra berbohong. Dia melirik sekilas ke arah layar ponselnya, ternyata yang menelepon adalah Selena.


“Temen kuliah? Kenapa telepon?” tanya Victoria dengan nada tak suka. Dia memang mudah sekali untuk cemburu.


“Paling nanyain tugas,” jawab Libra acuh.


Victoria tak percaya begitu saja, dia hendak bertanya lagi, namun mulutnya langsung berhenti ketika tangan kiri Libra menggenggam tangannya.


“Gak usah khawatir sayang, mana mungkin gue selingkuh dari lo. Secara, cewek secantik lo gak mungkin gue selingkuhin,” kata Libra lembut. Ibu jarinya membelai punggung tangan Victoria.


“Ck, siapa tau ada yang lebih cantik,” sahut Victoria dengan nada manja. Dia masih tak percaya dengan ucapan Libra.


“Hahaha, di mata gue, Victoria adalah cewe paling cantik,” bujuk Libra.


“Gak percaya!”


“Setelah lulus, gue akan ngelamar lo.”


“Hah?” seketika Victoria menoleh tak percaya.


Libra tetap fokus ke jalanan, namun tangannya masih berada di genggaman Victoria.


“Iya, tidak ada cinta paling tulus selain pembuktian,” ujarnya sambil menoleh sekilas ke arah Victoria. Tidak! Libra tak bersungguh-sungguh ketika mengucapkan itu. Dia mengucapkan itu semata-mata agar Victoria berhenti curiga kepadanya, lagipula dia masih menyimpan nama cinta pertamanya.


Victoria menahan senyum, mendadak jantungnya berdegup tak karuan. Dia jadi salah tingkah sendiri.


“Ck, bisa aja lo.” Victoria melepas tangannya dari genggaman Libra. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan agar tak menjerit histeris.


***


Lagi-lagi Sarah mendengar teriakan, tapi kali ini teriakannya berbeda. Ini seperti erangan orang yang kesakitan. Dia segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa orang sudah berkerumun di depan pintu unit milik Isabela.


“Ada apa?” tanya Sarah kepada seseorang yang juga ikut berkerumun.


“Isabela di tusuk suaminya, padahal lagi mengandung.”


“Sudah telepon ambulance?” tanya Sarah lagi.


“Sudah.”


“Suaminya ke mana?”


“Dia kabur.”


Sarah menerobos masuk untuk melihat kondisi Isabela, lagipula Ava sedang tertidur, jadi tak apa-apa di tinggal barang sejenak.


“Isabela!” pekik Sarah ketika melihat Isabela tergeletak di lantai sambil memegangi perutnya. Dia mengerang kesakitan sambil meminta tolong.


“Sebentar lagi ambulance datang, sabar ya. Lo harus kuat,” ujar Sarah yang kini sudah menghambur untuk memeluk Isabela. Dia tak kuasa menahan tangis ketika melihat Isabela begitu kesakitan.


“Tahan sebentar lagi, ya cantik.” Suara Sarah bergetar, bahkan tubuhnya juga ikut bergetar. Beberapa orang hanya menyaksikan itu dengan ekspresi penuh kengerian.


“Sarah, gue takut,” lirih Isabela sambil menahan sakit.


“Jangan takut, ada gue.”


Sarah segera merogoh ponselnya . Dia menelepon Libra untuk segera pulang dan menemani Ava karena dia ingin menemani Isabela. Untungnya Libra setuju dan akan segera pulang.


Tak lama kemudian beberapa perawat menerobos masuk, Sarah segera mematikan telepon dan membantu Isabela. Dia ikut serta naik ke dalam ambulance untuk menemani Isabela.


Ambulance itu melaju begitu cepat membelah kemacetan. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah sakit. Isabela langsung di bawa ke ruang UGD. Sarah menunggu di luar dengan harap-harap cemas.


Selama menunggu, Sarah terus berdoa agar Isabela selamat beserta dengan bayi yang sedang di kandungnya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dengan wajah yang terlihat begitu lelah.


“Dokter, bagaimana keadaan Isabela?”


“Maaf, anda siapa?”


“Saya, em, saya saudaranya. Saya yang bertanggung jawab atas Isabela,” ujar Sarah berbohong.


“Maaf, janin yang di kandung meninggal dunia. Sementara Ibunya selamat, namu masih dalam keadaan kritis,” terang dokter itu.


Sarah menggigit bibir menahan tangis. Sebelum pergi, dokter itu memberi semangat kepada Sarah.


Sarah berjalan mendekati ruang UGD, dia menatap Isabela dari luar melalui kaca jendela. Kondisi Isabela begitu memprihatinkan, banyak sekali alat-alat medis yang di pasang di tubuhnya.


“Bel, lo harus kuat,” lirih Sarah.


Lama Sarah menunggu di luar, sampai akhirnya dia boleh masuk ke dalam untuk melihat Isabela. Sebelum masuk, Sarah harus mengganti pakaiannya dulu.


“Bel, maafin gue karena gak bisa bantu lo,” sesal Sarah. Seharunya saat di supermarket dulu, dia menanyakan kondisi Isabela dan membantunya jika kesulitan. Tapi dia justru pergi karena tak mau terlibat. Akhirnya Isabela harus menderita seperti ini.


Sarah tak berbicara banyak, dia hanya duduk sambil memandangi Isabela. Dalam benaknya penuh pertanyaan mengenai Isabela. Mulai dari apa yang terjadi? Kenapa suaminya sampai tega menusuk perutnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan.


Ketika hari mulai gelap, Sarah mengirim pesan kepada Libra dan memberi tahu bahwa dirinya akan menginap untuk menemani Isabela. Dia mempercayakan Ava kepada Libra. Dia berjanji besok akan pulang jam lima pagi.


Sebelum Isabela di pindah ke ruang inap, Sarah mengurus administrasinya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Isabela di pindahkan.


Ketika sudah berada di ruang inap, Sarah duduk di sofa sambil memandangi Isabela. Dia berharap agar Isabela cepat sadar. Tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Sarah terlonjak kaget. Sosok laki-laki bertato masuk ke dalam membuat Sarah begitu ketakutan.


“Lo-”


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍