WHISPER

WHISPER
Tragedi Tetangga Sebelah



Sekitar jam setengah enam, Sarah di buat kaget oleh teriakan seseorang dari luar unit apartemennya. Suara teriakan itu saling bersahutan, kalimat yang di dengar Sarah hanya kalimat kasar yang tak pantas di ucapkan sekeras itu.


Sarah menajamkan telinganya, karena penasaran, akhirnya dia berjalan mendekati pintu dan membukanya sedikit. Dia melihat beberapa orang berada di depan pintunya. Ternyata penghuni yang ada di seberangnya sedang bertengkar.


“Dasar ******! Wanita sialan! Sekali lagi kamu selingkuh, aku akan menceraikan kamu!” ujar laki-laki dengan tato ular di lehernya. Suaranya keras dan menakutkan, ekspresi wajahnya juga terlihat sangat mengerikan. Sarah sampai bergidik ngeri melihat laki-laki itu.


“Aku tidak selingkuh, bodoh!” teriak wanita yang menggunakan pakaian terbuka, perutnya tampak sedikit buncit, mungkin sedang hamil muda.


Plak,


Suara tamparan yang begitu keras membuat Sarah meringis. Dia tak menyangka jika laki-laki bertato itu akan berlaku kasar seperti itu. Suasana semakin memanas, namun tidak ada yang berani melerai, kebanyakan penghuni lain hanya menonton.


Wanita itu memegangi wajahnya sambil menangis. Dia menatap laki-laki di depannya dengan nanar. Sarah ingin melerai mereka, tapi dia tak memiliki keberanian karena lelaki bertato itu begitu menakutkan.


“Sarah,” panggil Libra lirih yang kini sudah berdiri di dekat Sarah. entah sejak kapan dia berdiri di situ, tapi kehadirannya membuat Sarah terkejut.


“Libra, sejak kapan lo di situ?” bisik Sarah.


Libra tak menyahut, dia justru nyelonong masuk ke dalam dan menutup pintu. Dia menarik pergelangan tangan Sarah untuk ikut masuk. Setelah keduanya di ruang TV, Libra melempar tatapan tajam ke arah Sarah.


“Lo jangan ikut campur sama urusan mereka!”


“Kenapa?” tanya Sarah mengernyit heran.


“Mereka sering berantem, dan selama ini gak ada yang ikut campur.”


“Kenapa?” tanya Sarah penasaran. Dia heran kenapa tidak ada orang yang menolong wanita tadi. Padahal wanita tadi terlihat begitu memprihatinkan.


“Ck, lo gak liat suaminya? kalo ikut campur bisa-bisa babak belur!”


“Tapi ta-”


“Hust! Pokoknya lo gak usah ikut campur urusan orang lain!” tegas Libra. Bisa gawat jika Sarah ikut campur dengan urusan tetangganya itu.


Sebelum Sarah menjawab, Libra berlalu menuju kamar. Dia akan mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Setelah kepergian Libra, dia masih saja penasaran dengan kondisi tetangganya itu. Tapi dia segera menepis pikiran-pikiran negatif. Dia berharap semoga tetangganya itu baik-baik saja.


Sarah membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan makanan, tapi ternyata semua bahan makanan sudah habis. Mau tak mau dia harus pergi berbelanja sekarang.


Tok...tok...tok...


Sarah mengetuk pintu kamar Libra karena mau berpamitan untuk pergi ke supermarket. Dia ingin meminta Libra untuk menjaga Ava sebentar.


Pintu terbuka, menampilkan sosok Libra yang terlihat habis mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggang. Sarah tertegun sejenak, tapi dia segera menormalkan rasa terkejutnya.


“Gue mau ke supermarket, lo jagain Ava sebentar ya. Dia belum bangun,” ujar Sarah seraya memusatkan perhatiannya pada mata Libra. Dia tak mau melirik perut Libra yang terlihat seperti roti sobek.


Libra hanya mengangguk setuju, lalu dia menutup pintu dan berganti pakaian.


***


Sarah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Di hari minggu seperti ini, jalanan sedikit lengang. Ketika dia melewati Universitas Libra, tiba-tiba perasaannya menjadi tak menentu. Dia ingin menuntut ilmu di sana, dia ingin menghabiskan waktu di sana. Tapi bagaimana caranya? Apa dia mampu?


“Kalo gue kuliah, Ava sama siapa?” batin Sarah.


Untuk menemukan babysitter yang bisa di percaya rasanya cukup susah. Tapi jika harus membawa Ava pergi ke kampus, itupun mustahil. Pasti Ava tidak betah berlama-lama di kelas tanpa melakukan apa-apa.


Sarah menggeleng, dia tak mau memikirkan itu dulu. Dia harus fokus meniti kariernya di bidang tulis menulis. Dia ingin menjadi penulis yang populer. Bahkan selain menulis novel online, dia juga menulis novel yang akan dia kirimkan ke penerbit.


Sesampainya di supermarket, Sarah segera meneliti note di ponselnya. Sebelum berangkat tadi, dia sempat menuliskan apa saja yang akan di belinya. Ketika sedang memilih-milih sayuran, tiba-tiba ada seorang wanita yang juga memilih-milih sayuran. Wanita itu menggunakan tanktop dan celana pendek.


Sarah mengerutkan dahi, dia seperti tak asing dengan wanita di sampingnya. Ekor matanya melirik ke arah wanita itu untuk memastikannya.


“Ekhm, hai,” sapa Sarah kepada wanita itu setelah yakin bahwa wanita itu memang tetangganya.


Wanita itu menoleh dengan ekspresi bingung, “Maaf, siapa ya?” tanyanya sopan.


“Gue Sarah, gue tinggal di seberang lo.”


Wanita itu justru semakin bingung. Seingatnya, orang yang tinggal di seberangnya adalah seorang mahasiswa. Apa dia pacarnya?


“Gue sahabatnya Libra, jadi gue tinggal sama dia,” sambung Sarah ketika menyadari kebingungan wanita di depannya.


Wanita itu mengangguk-angguk mengerti, “Gue Isabela,” ujarnya sambil tersenyum ramah.


Awalnya Sarah mengira jika wanita itu cuek dan dingin, tapi ternyata tidak. Wanita itu justru ramah dan menyenangkan.


“Udah lama tinggal sama Libra?” tanya Isabela sambil kembali memilih-milih sayur.


“Belum, kamu sendiri udah lama tinggal di sini?”


Namun pertanyaan Sarah membuat Isabela terdiam, wajahnya tampak murung. Sarah jadi salah tingkah, dia takut jika pertanyaannya salah.


“Em, maaf kalo gue salah tanya. Lo gak perlu jawab kok. Gue duluan ya, anak gue udah nunggu,” ujar Sarah kikuk. Kemudian dia hendak berlalu pergi karena tak mau terjebak dalam suasana yang tidak mengenakan.


“Lo udah punya anak?” tanya Isabela sambil menoleh ke arah Sarah dengan tatapan tak percaya.


Sarah mengangguk, dia menyadari ekspresi heran Isabela. “Lulus SMA gue nikah,” terangnya.


“Oh, ya udah pulang dulu aja gak apa-apa,” ujarnya kemudian. Meskipun tadi sempat murung, tapi kini wajahnya kembali sumringah.


Sarah mengangguk. Kemudian dia berlalu pergi untuk mencari buah dan beberapa camilan. Dia juga membeli bumbu-bumbu dapur. Setelah selesai, dia segera membayar dan pulang.


Tapi sepanjang jalan menuju pulang, dia masih penasaran dengan Isabela. Kenapa wanita itu mendadak murung ketika di tanya perihal tinggal di apartemen itu. Apa dia mengalami masalah yang berat?


Ketika sedang memikirkan Isabela, tiba-tiba mobil Sarah keluar jalur dan hampir saja bertabrakan dengan mobil yang melaju dari lawan arah. Dengan cepat dia membanting setir untuk kembali di jalurnya. Jantungnya hampir copot ketika mendengar suara klakson mobil yang hampir bertabrakan dengannya.


“Huh...” Sarah menghela napas lega. Dia mengelus dadanya yang kini bergerak naik turun tak teratur. Tuhan masih sayang kepadanya.


“Fokus Sarah fokus!”


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍