
Masalah selalu datang dan pergi, begitulah yang di rasakan oleh Sarah. Selama dia tinggal bersama Libra, tak jarang Ava masih sering bertanya soal Arzan dan Naura. Sarah harus terus berbohong di depan anaknya. Sampai kapan? Entahlah.
Ava merindukan ayah dan neneknya, tapi Sarah tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa berbohong dan berbohong.
Kepulan asap dari secangkir kopi membuat Sarah kembali bersemangat menyelesaikan tulisannya. Dia terus berimajinasi tentang banyak hal. Novel yang dibuatnya semakin banyak pembaca. Bahkan dia mulai mengerjakan satu novel lagi untuk di kirimkan ke penerbit. Impiannya menjadi penulis besar membuatnya terus bersemangat menulis.
Suara bel membuat Sarah terkejut. Tak mungkin itu Libra, sedangkan Libra akan pulang malam. Lagipula jika itu Libra, pasti langsung masuk tanpa memencet bel.
Sarah menatap pintu sambil menebak-nebak siapa yang ada di balik pintu. Perasaannya begitu was-was. Ketika bel kembali berbunyi, Sarah segera beranjak untuk membuka pintu.
Alangkah terkejutnya Sarah ketika melihat sosok wanita paruh baya sedang berdiri di depan pintu. Namun setelah menyadari siapa wanita itu, Sarah tersenyum.
“Halo, Tante,” sapa Sarah kepada Mirna, ibu Libra. Dia menyalami Mirna dan menyuruhnya masuk.
“Sarah, ya?” tanya Mirna memastikan. Tapi dia heran kenapa ada Sarah di apartemen anaknya. Dia sudah mengenal Sarah sejak dulu, tapi dia tak menyangka akan bertemu Sarah lagi.
Mirna mengenakan stelan blazer dengan rambut yang biarkan tergerai. Tangannya menjinjing tas dengan merk terkenal. Dia terlihat seperti ibu-ibu sosialita. Penampilannya masih sama dengan penampilan waktu Sarah masih SMA dulu.
Mereka berdua duduk di sofa. Setelah mendudukkan diri di sofa, Mirna melirik ke arah Ava yang sedang bermain di depan TV. Dalam hati dia bertanya-tanya ada apa sebenarnya.
“Sarah bikin minum dulu ya, Tan,” ujar Sarah seraya berlalu pergi. Dia merasa senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Mirna.
Sarah kembali dengan secangkir teh hangat. Dia mendatangi Ava dan menyuruhnya agar bersalaman dengan Mirna.
“Sayang, ini Mamanya Om Ibra. Kamu bisa panggil dia Nenek,” ujar Sarah seraya menuntun Ava untuk bersalaman.
“Halo, cantik. Udah gede ya sekarang,” kata Mirna seraya mencubit pipi Ava dengan gemas. Setelah itu Ava kembali bermain, sedangkan Sarah duduk di depan Mirna.
“Kamu lagi main ke sini ya? Udah lama disini?” tanya Mirna membuka suara. Sebenarnya dia penasaran sejak tadi.
“Em, untuk sementara Sarah tinggal di sini, Tan,” ujar Sarah sedikit takut-takut.
“Apa? Tinggal disini? Suami kamu kemana?” tanya Mirna dengan nada terkejut.
Sarah menghela napas sejenak, lalu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Mulai dari perceraiannya sampai insiden yang menimpa mamanya. Dia menjelaskan dengan detail, berharap agar Mirna mengerti kondisinya. Tapi tidak, tatapan Mirna justru berubah. Dia menatap Sarah dengan perasaan tak suka.
“Kamu udah jadi janda anak satu dan sekarang kamu tinggal satu apartemen sama Libra?” tanya Mirna tak percaya.
“Iya, Tante. Tapi itu untuk sementara kok, Sarah juga lagi cari-cari rumah,” ujar Sarah dengan cepat. Dia tak mau jika Mirna berprasangka buruk kepadanya.
"Kira-kira Libra akan pulang jam berapa?" tanya Mirna mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau mendengar apa-apa dari Sarah. Dia hanya ingin bertemu dengan anak laki-lakinya itu. dia tak akan membiarkan Sarah tinggal bersama Libra seperti ini. Rasanya tak pantas.
“Libra akan pulang malam, Tante.”
Mirna mengangguk-angguk, “Meskipun Tante udah kenal kamu lama, tapi Tante gak suka liat kamu tinggal sama Libra seperti ini, apalagi sekarang kamu janda, itu gak baik. Semoga kamu cepat dapat rumah dan pindah dari sini,” kata Mirna dengan tatapan sinis.
Sarah menyadari ketidaksukaan Mirna, maka dia langsung mengangguk setuju. Ibu manapun pasti akan bereaksi seperti Mirna ketika tahu anaknya tinggal bersama seorang janda anak satu.
Mirna menatap tajam ke arah Libra. Keduanya berada di kafe yang terletak di samping apartemen milik Libra. Dia sengaja mengajak Libra bertemu di kafe karena tak mau pembicaraannya di dengar oleh Sarah.
"Mama kenapa ngajak Libra ketemu disini? Kenapa gak di apartemen aja?" tanya Libra membuka suara. **Feeling**nya mendadak jadi tak enak.
"Kamu tinggal sama Sarah?" tanya Mirna mulai mengintrogasi Libra.
"Iya, Mah. Kasian, Sarah belum punya tempat tinggal."
Mira tersenyum miring. Setahunya, Sarah masih memiliki rumah peninggalan orang tuanya, tapi kenapa Sarah harus ada disini?
"Apa urusannya sama kamu? Dia kan bisa tinggal di rumah almarhum Mamanya! Gak harus sama kamu."
"Laki-laki dan perempuan yang tidak menikah itu tidak boleh tinggal bersama, Libra! Kamu tahu itu kan? Apalagi status Sarah janda. Apa kata orang? Kamu mikir sampai situ gak si, Nak?" tanya Mirna panjang lebar. Dia sudah tak tahan lagi dengan semua yang sedang terjadi sekarang.
"Mah! Status itu gak masalah. Lagian Libra sama Sarah juga gak pernah aneh-aneh. Kita masih sahabatan kaya dulu."
"Tapi pandangan orang lain beda! Pasti orang lain mikirnya aneh-aneh. Mama juga gak suka kamu tinggal sama Sarah!"
Libra tampak gusar, dia tau sifat Mamanya. Jika menghendaki sesuatu, pasti harus di turuti. Tapi bagaimana dengan Sarah?
"Mah, Mama kan tau gimana Sarah. Mama juga udah kenal dia lama, jadi gak ada masalah."
"Gak ada masalah kamu bilang?" tanya Mirna dengan mata melotot. Raut wajahnya berubah galak, persis seperti orang yang kesetanan.
"Libra! Dia itu sekarang janda! Beda sama dulu. Orang-orang pasti mikir yang enggak-enggak."
"Pokoknya Mama gak mau tau, besok Sarah harus pindah!" tegas Mirna. Dia tak mau menerima penolakan. Dia ingin Sarah pergi dari apartemen anaknya.
Libra menjambak rambutnya frustasi. Dia bingung harus bagaimana, tidak mungkin dia mengusir Sarah begitu saja. Tapi jika membiarkan Sarah tinggal dengannya, bisa-bisa mamanya mengamuk.
"Libra!" panggil Mirna masih dengan galak.
"Nanti Libra pikirin lagi. Lagian, Libra gak tega liat dia menderita. Arzan pergi, Mamanya juga pergi. Sarah gak punya siapa-siapa," sahut Libra memberi pembelaan.
Untung saja kafe itu tampak sepi, jadi pembicaraan mereka tak mengundang perhatian banyak orang.
Mirna menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menatap Libra lekat-lekat. Rasanya dia ingin menampar anak semata wayangnya itu.
"Libra, kamu kalo mau bantu Sarah ya bantu sewajarnya. Jangan seperti ini! Kalo seperti ini, orang-orang justru memandang Sarah dengan rendah." Mirna tampak menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Mama ngomong gini demi kebaikan kalian. Pikirkan ini matang-matang, Nak. Kamu sudah dewasa, tahu mana yang baik dan buruk."
Mirna menghentikan kalimatnya sejenak, lalu pamit pergi meninggalkan Libra yang masih duduk diam. Dia memikirkan setiap kalimat yang keluar dari mulut mamanya. Memang ada benarnya juga.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍