WHISPER

WHISPER
Kembali Satu Atap



“Sarah,” panggil Arzan.


Sarah hanya diam saja, dia sibuk menenangkan Ava yang masih saja menangis. Dia sedikit putus asa karena usahanya tak juga membuahkan hasil.


“Gue nginep sini aja, ya? Daripada Ava nangis terus. Gue gak tega,” ujar Arzan mengagetkan Sarah.


“Hah? Nginep?” seketika Sarah menoleh ke arah Arzan dengan mata yang terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka karena keterkejutannya. Dia terlihat seperti orang bodoh yang sedang melihat hantu.


“Gak apa-apa kan? Gue gak tega liat Ava nangis terus,” kata Arzan dengan nada sedikit panik. Dia takut tangisan Ava akan mengusik tetangganya, lalu mereka keluar dan menanyakan apa yang terjadi.


Sarah mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu berucap, “Em, gak usah. Sebentar lagi juga bakal diem, kok.” Sarah berusaha menolaknya dengan halus.


Mereka berdua terus membujuk Ava, namun gagal. Ava benar-benar ingin tidur dengan Arzan, mungkin karena begitu merindukan Arzan. Akhirnya Sarah menyerah, dia mengizinkan Arzan tidur di rumahnya.


“Lo tidur sama Ava di kamar, nanti gue tidur di kamar Mama,” ujar Sarah dengan gugup. Setelah Arzan masuk ke dalam kamar bersama Ava, Sarah menghembuskan napas panjang. Mendadak dia gugup, bahkan linglung harus melakukan apa.


“Kunci pintu,” ucap Sarah yang lagi-lagi seperti orang tolol. Dia berjalan ke arah pintu, menguncinya dan kembali masuk ke dalam.


Awalnya Sarah akan masuk ke dalam kamarnya sendiri, tapi tiba-tiba ia ingat akan kehadiran Arzan di rumahnya. “Oh, ya, Arzan ada di dalem,” ujar Sarah sambil menepuk dahinya dan berjalan ke samping, menuju kamar mendiang ibunya.


Setelah masuk ke dalam kamar, Sarah langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap langit-langit dengan kedua tangan berada di samping kepalanya. Pikirannya kembali melayang kepada Arzan. Setelah sekian lama, kini dia kembali satu atap dengan Arzan.


“Arzan,” batin Sarah. Sekilas dia mengingat kenangannya dulu bersama Arzan. Kenangan saat dulu SMA, bahkan kenangan pasca pernikahannya.


“Lah, kenapa gue menyebut nama Arzan?” batin Sarah sambil menggelengkan kepala. Dia berusaha menyadarkan diri dari segala lamunannya.


Ketika sedang berdiam diri sambil menatap langit-langit, Sarah kembali teringat dengan saran Libra. Mungkin dengan pergi, dia bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Hidup tanpa tuduhan-tuduhan miring, dan tentunya bisa melupakan Arzan. Tunggu, melupakan? Bagaimana caranya dia melupakan Arzan sedangkan Arzan adalah ayah Ava.


“Gue emang harus pergi,” lirih Sarah sambil memejamkan mata. Lambat laun kesadarannya menghilang dan dia terlelap tidur. Untuk sejenak dia melupakan segala masalah yang sedang di hadapinya.


Sementara itu, Arzan masih terjaga sambil mengelus-elus kepala Ava. Kini perasaannya tak karuan. Dulu dia memang sering bermain perempuan, tapi entah kenapa setelah Sarah pergi darinya, dia merasa kehilangan. Dia merindukan Sarah, merindukan Ava, dan merindukan kehangatan rumah tangga yang di bangunnya. Dia benar-benar merasa menyesal atas apa yang telah di perbuatannya. Menyesal? Apa kata itu pantas di ucapkan oleh orang yang sudah menyia-nyiakan segalanya.


Saat ada di sia-siakan, tapi saat tiada justru merasa kehilangan.


Kalimat itu benar-benar mewakili perasaan Arzan saat ini. Dia ingin kembali kepada Sarah, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan Sarah? Apa Sarah masih mau menerimanya? Apa Sarah masih bisa memaafkannya? Apa di hati Sarah masih ada ruang untuk dirinya? Berbagai macam pertanyaan itu cukup mengganggunya.


Arzan membuka pintu dengan sangat hati-hati, lalu masuk ke dalam. Dia duduk di tepi ranjang sambil menatap Sarah dengan raut wajah yang sulit di artikan. Dia mengamati wajah cantik Sarah. Wajah yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya.


Ingin sekali Arzan membelai pipi mulus Sarah, lalu mengecup keningnya. Tapi dia tak mungkin melakukan itu. Bagaimana jika Sarah terbangun dan menamparnya? Bagaimana jika Sarah memarahinya? Atau, Sarah mengancam tidak mau menemuinya lagi?


Kemungkinan-kemungkinan itu membuat Arzan mengurungkan niatnya. Lebih baik dia duduk sambil memandangi wajah Sarah. Itu sudah lebih dari cukup.


Ketika Arzan sedang asik memandangi Sarah, tiba-tiba tubuh Sarah bergerak-gerak. Dia ingin berlari keluar, namun ternyata Sarah hanya merubah posisinya menjadi miring. Hembusan napas lega terdengar dari mulut Arzan, kini dia kembali duduk dan lanjut memandangi Sarah.


“Kenapa lo disini?” tanya Sarah yang membuat Arzan kaget setengah mati. Sontak dia beranjak berdiri, wajahnya begitu tegang, dia takut Sarah akan marah besar.


Sarah bangun, memposisikan dirinya duduk sambil menatap Arzan. Dia merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya. Awalnya dia tidak tahu Arzan di kamarnya, tapi ketika di mengubah posisi tidurnya nya, dia sekilas menangkap bayangan yang di duga itu adalah Arzan. Dan benar saja, Arzan sedang duduk sambil mengamatinya.


“Emm, gue, gue gak sengaja masuk,” ujar Arzan kikuk. Dia seperti pencuri yang tertangkap basah. Mendadak dia merasa canggung.


“Ava udah tidur?” tanya Sarah yang tak ingin memperburuk keadaan menjadi canggung dan tegang. Padahal dia sendiri seperti akan mati. Apalagi saat tahu Arzan sedang memandanginya, rasanya seperti demam tinggi.


“Udah, em, gue keluar dulu,” ujar Arzan seraya membalikkan tubuhnya. Namun sebelum melangkah pergi, ucapan Sarah membuat langkah kakinya berhenti dan menoleh ke arah Sarah.


“Lo mau pulang, atau tidur disini?” tanya Sarah. Dia tak bernita mengusir Arzan, tapi keberadaan Arzan benar-benar mengusiknya.


Arzan menatap Sarah tak percaya, “Disini? Bareng sama lo?” tanyanya polos. Namun di dalam hatinya, dia sangat berharap memang itu kemauan Sarah.


Sarah mendelik tak percaya mendengar pertanyaan Arzan. “Maksud gue, nginep disini atau pulang? Kalo lo nginep disini tidurnya sama Ava, bukan sama gue!” ujar Sarah sinis. Hampir saja ucapannya membuat Arzan salah paham.


“Oh, iya gue nginep di sini. Lo keberatan?” tanya Arzan dengan nada sedikit kecewa. Entah apa yang membuatnya mendadak kecewa. Mungkinkah karena tidak tidur bersama Sarah? atau ada hal lain.


Sarah menggeleng, lalu dia menyuruh Arzan untuk keluar kamar karena dia akan kembali tidur. Untungnya Arzan menurut dan segera keluar dari kamar. Setelah memastikan bahwa Arzan benar-benar keluar kamar, Sarah menghembuskan napas lega, lalu merobohkan tubuhnya ke samping. Dia seperti orang yang baru saja lolos dari maut.


“Mending gue mati aja deh, daripada harus berhadapan sama situasi kek gini,” ujar Sarah lemas. Arzan benar-benar membuatnya seperti orang bodoh dan gila.


“Gue harus pergi dari sini!” ujar Sarah kepada dirinya sendiri.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍