
Sarah memandangi rumah berwarna abu muda sambil tersenyum. Meskipun rumah itu lebih kecil dari sebelumya, tapi rumah itu terlihat lebih hidup. Halaman depannya cukup luas, namun terlihat tidak terawat. Di sebelah kanan rumah itu ada kolam renang, sedangkan di sebelah kirinya tumbuh pohon yang berjejer dengan rapi.
Rumah ini memiliki pagar keliling yang tingginya sekitar dua meter. Gerbang depannya menjulang tinggi .
“Yuk, masuk,” ajak Tomi menyadarkan Sarah dari lamunannya.
“Bunda, itu ada kolam renangnya,” ujar Ava sambil menunjuk kolam renang yang tidak berisi air. Sepertinya Ava langsung tertarik dengan rumah itu karena memiliki kolam renang.
“Kamu suka rumah ini?” tanya Sarah ketika keduanya sudah masuk ke dalam. Sebelumnya Sarah sudah memberi tahu kepada Ava bahwa dirinya akan membeli rumah.
Ava mengangguk antusias. Sarah segera mengikuti Tomi berkeliling rumah itu. Ketika sampai di halaman belakang, Sarah tersenyum senang. Di taman belakang ada sebuah gazebo dan mini garden. Meskipun tak terawat, tapi masih tampak indah.
“Rumah ini kosong sekitar satu tahun yang lalu. Sebelumnya rumah ini di pakai oleh anak saya, tapi sekarang dia memilih untuk tinggal di apartemen,” jelas Tomi.
Sarah mengangguk-angguk. Dia meminta untuk melihat-lihat di lantai dua. Sesampainya di lantai dua, Sarah langsung berjalan ke balkon, dia berdiri sambil memandang sekitar. Dari atas balkon itu, dia bisa melihat rumah tetangga yang ada di seberangnya, dia juga bisa melihat jalanan dan pohon-pohon yang tumbuh dengan subur.
“Bunda, kita mau tinggal di sini?” tanya Ava yang juga sedang menatap taman yang terletak di halaman depan.
Sarah mengangguk pasti. Dia bertekad akan membeli rumah ini meskipun harus menghabiskan uang yang tak sedikit. Selain karena rumahnya yang begitu nyaman, dia juga ingin membuat Ava bahagia dengan memiliki rumah ini.
Sarah kembali mendekati Tomi, mereka berdua berdiskusi tentang harga. Harga yang di tawarkan Tomi begitu tinggi, membuat Sarah harus berpikir ulang. Dia takut uangnya tak cukup untuk membayar rumah itu.
“Akan saya pikirkan dulu, nanti saya kabari lagi,” ujar Sarah. Setelah itu dia pamit pulang. Sepanjang jalan dia memikirkan cara membayar rumah itu. Uang peninggalan Naura dan tabungan miliknya belum cukup. Dia harus mencari banyak uang lagi, tapi bagaimana?
“Bunda, kapan kita tinggal di sana?” tanya Ava. Dia menatap Sarah dengan penuh harap.
“Bunda belum tahu, sayang. Bunda harus cari uang lagi biar kita bisa tinggal di sana,” ujar Sarah sedikit sedih.
“Kenapa?”
“Uang Bunda belum cukup.”
“Ava bantu cari uang ya, Bun. Biar Bunda gak capek cari uang sendiri,” kata Ava polos. Namun kepolosannya membuat hati Sarah seperti teriris. Dia merasa buruk di depan Ava.
“Biar Bunda aja yang cari uang, Ava cukup jadi anak yang baik.” Sarah mencoba tersenyum lebar ke arah Ava. Dia tak mau terlihat sedih.
***
[Sarah, ada Victoria di apartemen gue. Lo jangan pulang dulu ya, gue takut Victoria marah. Maaf, ya]
Itu adalah pesan dari Libra. Padahal Sarah sudah di dalam lift dan sebentar lagi akan sampai. Karena tak mau turun ke bawah lagi, akhirnya dia memutuskan untuk mampir ke tempat Isabela.
Setelah dua kali memencet bel, akhirnya pintu terbuka. Isabela tersenyum dan mempersilahkan Sarah untuk masuk ke dalam. Ketika baru saja duduk di sofa, Ava merengek meminta susu. Tampaknya Ava lelah dan mengantuk, tapi sebelum tidur dia harus meminum susu terlebih dahulu.
Untung saja Sarah selalu membawa susu di dalam kotak kecil, lalu botol susu dan terakhir air panas di dalam sebuah termos. Dia segera membuatkan susu untuk Ava.
Setelah selesai membuat susu, Sarah menyerahkannya kepada Ava. Dia juga menyuruh Ava untuk tiduran di sofa.
“Lo darimana?” tanya Isabela seraya meletakkan dua kaleng minuman dingin dan camilan. Kemudian dia duduk di seberang Sarah.
“Ada yang cocok?”
“Ada, tapi harganya tinggi banget,” kata Sarah dengan nada lemah. Dia menyandarkan punggungnya di sofa, kedua kakinya ia luruskan.
“Paling gak gue harus jual rumah sama mobil Mama gue,” ujarnya lemas. Jika harus menjual rumah, dia tak masalah. Tapi mobil? Rasanya sayang. Selain karena mobil itu dulunya sering di gunakan Naura, juga karena dia bingung harus menggunakan apa ketika pergi bersama Ava.
“Em, gue masih ada sedikit tabungan, kalo mau lo pake gak apa-apa,” tawar Isabela. Dia masih memiliki sedikit tabungan sisa biaya rumah sakitnya kemarin. Selama menikah, diam-diam dia memiliki tabungan yang nantinya akan dia gunakan dalam keadaan darurat.
“Em, gak usah. Gue akan cari cara lain.”
“Gak usah sungkan. Kita kan teman, jadi harus saling bantu,” kata Isabela meyakinkan. Kali ini dia benar-benar ingin membantu Sarah.
“Gue pikir-pikir lagi, deh,” sahutnya. Dia menoleh ke arah Ava yang kini sudah tertidur pulas. Dia juga sebenarnya lelah dan ingin tidur.
“Kondisi lo gimana?” tanya Sarah kemudian.
“Sebentar lagi juga sembuh total.”
Akhir-akhir ini Isabela sudah bisa bergerak bebas. Lukanya sudah mengering, dan sebentar lagi akan sembuh total. Dia juga sudah mulai aktif lagi menjadi streamer.
“Bel, lo ada laptop gak? Gue mau pinjem dong,” pinta Sarah. Daripada dia hanya duduk diam, lebih baik dia lanjut menulis bab novelnya. Dia tak mau menyia-nyiakan waktu.
“Ada, gue ambil dulu, ya.”
Isabela beranjak masuk ke dalam kamarnya, tak berapa lama dia keluar sambil membawa laptop berwarna hitam. Dia memberikannya kepada Sarah.
“Lo mau lanjut nulis?” tanya Isabela. Sebelumnya Sarah sudah pernah memberi tahu bahwa pekerjaannya adalah menulis novel di media online.
“Iya,” jawab Sarah seraya menyambut laptop itu. Dia segera menyalakannya dan mulai menulis. Sementara Sarah menulis, Isabela justru melakukan siaran langsung seperti biasa. Dia menyapa fansnya, lalu banyak menjawab pertanyaan dari orang yang menonton livenya.
Kini Sarah sudah hanyut dalam dunia fiksi, dia benar-benar masuk dan hidup menjadi tokoh utama. Ketika sedang asik menulis, tiba-tiba ada pesan dari Arzan. Dia meliriknya sekilas, setelah itu kembali fokus pada layar laptop. Dia tak mau membalas pesan Arzan.
Namun beberapa menit kemudian, ponselnya justru berdering. Dengan cepat Sarah menggeser tombol merah. Untuk sekarang dia benar-benar tak mau berhubungan dengan Arzan.
Lagi-lagi ponselnya berdering beberapa kali membuatnya terusik. Karena tak mau suara deringnya mengganggu tidur Ava, diapun membisukan ponselnya.
“Sarah, lo besok mau kemana?” tanya Isabela yang masih melakukan siaran langsung.
“Belum ada rencana.”
“Temenin gue ke salon, mau gak?”
“Em, boleh tuh,” sahut Sarah setelah beberapa saat terdiam. Tiba-tiba dia ingin mengganti warna rambutnya. Rambut yang kini panjangnya sebahu, akan dia ganti warna. Tapi dia belum memikirkan warna apa yang cocok.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️