WHISPER

WHISPER
Terbukanya Luka Lama



“AYAH!!!” teriak Ava dengan wajah sumringah ketika melihat Arzan.


Sarah berlari dan menggendong Ava, sebisa mungkin dia mencegah Ava agar tak mendekati Arzan.


“Jangan bawa Ava!” pekik Sarah mulai emosi. Sejak tadi dia hanya bisa diam saja, tapi jika menyangkut Ava, dia tak akan diam.


Ava menatap Sarah dengan bingung. “Bunda, Ava kangen sama Ayah. Ava pengen peluk Ayah,” ujar Ava.


Arzan tersenyum miring. Ada semacam kemenangan di senyum itu.


Sarah bergeming, tatapan matanya begitu tajam. “Gue gak akan ngebiarin Ava sama lo!”


“Sayang, kamu mau kan tinggal sama Ayah? Di rumah Ayah ada kolam renang, ada banyak es krim, banyak mainan, ad ataman bermain juga,” bujuk Arzan sambil tersenyum.


“Arzan!” bentak Sarah. Matanya tampak menyala oleh kemarahan. Dia tak akan sanggup jika Ava memilih tinggal dengan Arzan.


Ava meronta-ronta hendak turun dari gendongan Sarah. “Mau, Ava mau tinggal sama Ayah!” pekik Ava. Kini ia mulai menangis.


“Sayang, kamu tinggal sama Bunda aja ya. Bunda juga punya rumah baru, rumah yang waktu itu kita ke sana,” bujuk Sarah.


Namun bujukan Sarah sia-sia. Ava tetap meronta-ronta sambil menangis. Setelah lolos dari gendongan Sarah, Ava langsung berlari mendekati Arzan.


“Mulai hari ini Ava tinggal sama Ayah, sama Nenek dan Kakek. Popoknya di rumah bakalan rame,” ujar Arzan sambil mengendong Ava. Kini tangis Ava sudah reda.


“Arzan, please jangan bawa Ava!” pinta Sarah. Air matanya kini sudah mengalir deras.


“Sarah, Ava itu anak kita berdua. Gue juga berhak atas Ava. Tapi kenapa lo justru bawa dia pergi? Lo sengaja bikin Ava jauh dari gue?” tanya Arzan dengan nada yang lebih lirih. Tatapannya berubah menjadi tatapan lembut. Tatapan yang di benci oleh Sarah.


“Ini juga demi kebaikan Ava. Kita bisa gantian buat ngrawat Ava,” tambahnya.


“Tapi gak gini caranya!” bantah Sarah.


Ava hanya diam sambil memeluk Arzan. Kepalanya dia sandarkan di bahu ayahnya.


“Terus gimana? Apa kita harus tinggal bareng? Apa lo mau kasih kesempatan kedua buat gue?” tanya Arzan dengan nada menantang.


Sarah menggeleng. Dia tak mau lagi merasakan sakit di dadanya. Tinggal bersama Arzan sama saja seperti membuka luka lama. Apa rasanya di peluk sekaligus di tikam? Mungkin awalnya hangat dan menyenangkan, tapi lama kelamaan menyakitkan.


Arzan masih menunggu jawaban Sarah. Namun hingga beberapa saat, Sarah tetap membisu. Hanya air matanya yang mengalir semakin deras.


“Sarah, gue itu Ayahnya, bukan orang asing. Jadi wajar aja kalo gue kangen dan pengen tinggal sama Ava. Lo jangan jadi orang yang egois!”


Sarah mendongak, “Gue egois? Bukannya yang egois itu lo? Udah punya anak tapi masih selingkuh!” maki Sarah sambil menunjuk dada Arzan. Luka lama benar-benar terbuka lagi.


“Kalo lo gak egois, lo gak akan tega ngelakuin itu, Arzan!” imbuhnya. Dadanya bergemuruh, merasakan sakit sekaligus marah. Dengan air mata yang berlinang, dia masih sanggup menatap tajam ke arah Arzan.


“Jangan ungkit masa lalu! Gue udah minta maaf dan menyesal!”


“Setidaknya memperbaiki hubungan!”


“LUPAKAN!” teriak Sarah.


Hampir saja dia meraih cangkir yang ada di dekatnya, lalu membantingnya sekuat tenaga. Keberadaan Ava membuatnya harus menahan emosi. Dia tak mau bertengkar hebat di depan Ava. Dia tak ingin mental Ava sedikit rusk karena ulah orang tuanya.


“Oke, gue izinin lo tinggal sama Ava. Tapi hanya satu minggu,” ujarnya dengan nada yang lebih lirih. Meskipun emosinya meluap-luap, tapi dia menahannya sekuat tenaga.


“Oke,” lirih Arzan sebelum kahirnya pergi sambil membawa Ava. Dia pergi hanya membawa Ava seorang, tidak membawa baju, mainan, atau susu milik Ava. Baginya, itu bisa di beli di mana saja.


Setelah Arzan menghilang dari pandangannya. Sarah terduduk lemas sambil menangis sesenggukan. Dia tak tahan hidup tanpa Ava. Selama ini, Ava adalah sumber kebahagiaannya, belahan jiwanya.


“Ava, cepet balik ke Bunda ya, sayang,” lirih Sarah sambil menghapus sisa-sisa air matanya. Rasa lelahnya kini berlipat ganda. Dia berjalan ke dalam kamar, lalu membaringkan tubuhnya. dia butuh istirahat.


***


Arzan membuka pintu mobil, lalu mendudukkan Ava di jok mobil. Setelah memasang seatbelt, dia segera berjalan memutar dan duduk di balik kemudi. Sebelum melajukan mobilnya, dia menatap rumah Sarah sebentar.


“Maaf,” lirih Arzan yang kemudian menyalakan mobil dan keluar dari halaman rumah Sarah. Dia tidak berniat merebut Ava, hanya saja, dia ingin merasakan tinggal bersama anak semata wayangnya itu.


Dia akan tinggal bersama Ava selama yang Ava mau. Dia sangat berterimakasih kepada temannya yang telah memberi tahu keberadaan Sarah.


“Sayang, kita beli baju dulu ya buat kamu. Sekalian beli mainan, mau?” tanya Arzan sambil terus menatap ke jalanan.


“Mau. Ava mau beli baju sama mainan yang banyak,” ujar Ava antusias. Poninya bergerak-gerak saat dia menjawab pertanyaan Arzan. Lama tidak bertemu dengan Arzan membuat Ava ingin terus bersama Arzan. Mungkin karena mereka memiliki ikatan batin.


Mobil terus melaju menuju mall. Sore ini harusnya Arzan masih bekerja di kantor, tapi dia tak peduli, dia hanya ingin bersama Ava. Dia sadar, selama ini dia terlalu egois. Memang benar apa yang di katakan Sarah.


Sepanjang jalan, Ava bertanya banyak hal. Arzan sampai bingung menanggapinya. Dia baru sadar ternyata Ava banyak omong, persis seperti Sarah.


“Ayah, kenapa Ayah gak tinggal sama kita?” tanya Ava ketika mobil berhenti di lampu merah. Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari bibir mungilnya. Entah atas dasar apa.


Arzan menoleh ke arah Ava dengan heran. Sejak kapan anaknya tumbuh sebesar ini? Bahkan mampu melontarkan pertanyaan seperti itu. Dengan perasaan tak karuan, Arzan menjawab, “Gak bisa, Ayah sibuk kerja.” Hanya alasan itu yang mampu Arzan berikan. Dia tak bisa memberikan alasan secara rinci.


“Bunda juga sibuk, kerja sampe malem.”


Arzan kembali melajukan mobilnya. Mendengar jawaban Ava, rasa bersalahnya justru semakin besar. Dia tak bisa membayangkan seperti apa kehidupan Sarah dan Ava selama ini. Apakah sulit? Atau justru berjalan lancar dan bahagia? Entahlah, dia pun tak cukup bahagia. Selama ini hanya alcohol dan wanita yang mampu membuatnya bahagia.


“Bunda kerjanya apa?” tanya Arzan sambil memelankan laju kendaraannya saat sudah dekat dengan mall. Sebenarnya dia tak yakin apakah Ava bisa menjawab, tapi ternyata Ava bisa menjawab.


“Bunda bikin novel. Kata Bunda, novel itu karangan panjang yang mengandung cerita tentang kehidupan seseorang. Bunda hebat, tiap hari di depan laptop tapi bisa dapet duit,” terang Ava. Dia menerangkan kepada Arzan persis seperti Sarah menerangkan kepadanya.


Arzan mengangguk-angguk, kini dia mengerti apa yang di kerjakan Sarah untuk menghidupi Ava. Setidaknya, Sarah bisa di andalkan.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍