WHISPER

WHISPER
Egois



Sarah turun ke lantai bawah dengan hati-hati. Dia mengenakan dress hitam corak bunga-bunga dengan panjang selutut. Model atasnya terbuka memperlihatkan bahu mulusnya. Di bawah sudah ada Libra yang menunggunya.


“Sarah, lo buruan beli sofa ya. Gue pegel nunggu sambil berdiri gini,” ujar Libra sambil menatap sebal ke arah Sarah. Namun di balik tatapan sebalnya, dia mengagumi kecantikan Sarah. Meskipun sudah memiliki anak satu, tapi Sarah masih sangat cantik. Bahkan dia terlihat seperti bunga yang baru saja mekar.


Sarah tertawa ringan, “Kenapa gak nunggu di ruang TV aja?” tanya Sarah yang kini sudah berdiri di samping Libra.


“Gak kepikiran!”


Lagi-lagi Sarah hanya tertawa melihat raut wajah Libra. Kali ini Libra tampil tampan dengan kemeja hitam dan celana panjang berwarna khaki. Aroma tubuhnya begitu manis, membuat Sarah betah di sampingnya.


“Yuk, gue laper nih,” ajak Sarah seraya menggandeng lengan Libra keluar rumah. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi.


Libra membukakan pintu mobil untuk Sarah, tak hanya itu, dia juga memasang seatbelt untuk Sarah. Hal itu membuat Sarah tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Libra mendadak menjadi laki-laki baik yang memperlakukan Sarah seperti ratu.


“Ib, lo kesambet apa sih?” tanya Sarah heran ketika Libra sudah duduk di belakang kemudi.


“Em, gue lagi seneng. Gue abis ketemu sama simpenan gue,” kata Libra enteng sambil menyalakan mesin dan melajukannya dengan perlahan.


Sarah melongo tak percaya, seketika rasa kagumnya kepada Libra mendadak hilang.


“Pantesan Victoria cemburuan banget, lakinya aja begini,” cibir Sarah sambil menatap jalanan yang cukup padat.


Libra hanya terkekeh, namun tak memberi komentar apa-apa. Jalan dengan banyak wanita tak membuat Libra lantas merasa bersalah. Dia justru menikmati momen-momen seperti itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kini keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keheningan begitu mencekam, membuat Sarah akhirnya membuka suara.


“Ib, kok Ava betah banget ya sama Arzan?”


Belum sempat Libra menjawab, mobil mereka telah sampai di sebuah kafe. Libra segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sarah. Dia juga mengambil jaket di belakang Sarah dan menutupi tubuh Sarah dengan jaket itu.


“Mungkin karena lama gak ketemu kali, kangen,” ucap Libra saat keduanya sudah berjalan masuk ke dalam kafe. Seorang pelayan datang dan melayani mereka. Ternyata Libra sudah memesan kursi untuk mereka berdua.


“Kita ke atas,” bisik Libra. Di atas ada tempat yang begitu cantik untuk menikmati dinner romantis. Konsep outdoornya memungkinkan pengunjung untuk makan sambil menikmati cantiknya malam hari.


Sarah mengangguk sekilas. Pantas saja Libra memberinya jaket, ternyata karena Libra memilih tempat outdoor. Ketika baru saja sampai di atas, Sarah langsung di suguhi pemandangan beberapa pasangan yang asik berduaan.


Libra menarik kursi, lalu mempersilahkan Sarah untuk duduk. Sebelum beranjak ke tempat duduknya, dia membungkukkan badan dan berbisik tepat di samping telinga Sarah.


“Malam ini lo cantik banget,” bisiknya. Setelah itu barulah dia duduk di kursinya yang ada di seberang Sarah.


Bisikan itu mampu membuat Sarah membeku sejenak. Pipinya bersemu kemerahan menahan malu. Dia menatap Libra dengan tatapan malu-malu. Sial, batinnya. Meskipun dia tahu keahlian Libra dalam memikat wanita, tapi tetap saja bisikan Libra membuatnya seperti kehilangan kesadaran.


“Sialan lo! Kok lo jago banget ngerayu cewe sih?” tanya Sarah berusaha mengusir rasa tak karuan yang mendadak menyerang dirinya.


“Karena ganteng aja gak cukup!”


“Gatel juga perlu,” ledek Sarah di akhiri dengan tertawa. Mereka berdua tertawa lepas sambil mengejek satu sama lain.


Setelah makanan datang, mereka menikmati makan malam sambil sesekali becanda. Bahkan mereka mengomentari pengunjung lain, bahkan tertawa jika ada hal yang lucu. Meskipun mala mini terasa dingin, namun perasaan mereka berdua begitu hangat.


***


Arzan di buat pusing oleh tangisan Ava. Entah sudah keberapa kalinya Ava menangis seperti itu. Berbagai macam usaha telah dia lakukan agar Ava kembali tenang.


“Ayah, Ava mau sama Bunda. Ava pengen ketemu sama Bunda” rengek Ava. Kalimat itu sudah berulang kali di ucapkan oleh Ava. Namun Arzan tak menghiraukannya. Kini dia menjadi egois, ingin bersama Ava untuk selamanya. Bahkan kedua orang tuanya sangat mendukung jika Ava tinggal bersama mereka.


“Ava tinggal di sini aja, buat nemenin Mama,” ucap Ibu Arzan beberapa hari yang lalu.


Oleh karena itu, Arzan melakukan berbagai cara agar Ava tetap tinggal di rumahnya. Dia membelikan banyak mainan, mengajaknya jalan-jalan, bahkan membeli banyak makanan ringan untuk Ava.


Namun Ava tetaplah anak kecil yang tak bisa lepas dari ibunya. Ibarat anak ayam, ketika dia terpisah dari induknya, pastilah dia kebingungan dan berteriak-teriak mencari induknya.


“Sayang, Bunda lagi di luar kota. Dia sibuk kerja jadi gak ada waktu buat kamu,” ujar Arzan beralasan. Meskipun sedikit tak tega, tapi dia harus mengatakan itu untuk mempertahankan Ava tinggal di rumahnya.


Kini Arzan hanya berdua dengan anaknya. Kedua orang tuanya sedang ada urusan di luar kota, ART yang biasa bekerja pun sedang pulang kampung. Bahkan, baby sitter Ava sedang keluar sebentar.


Beberapa saat kemudian, orang yang biasa mengasuh Ava pulang. Dia baru saja membeli susu karena stok susu di rumah sudah habis. Begitu tahu Ava menangis, dia langsung menghampiri Ava dan menghiburnya. Untung saja dia sudah mahir dalam menghadapi anak kecil, dalam waktu singkat saja Ava sudah tidak menangis.


“Ava, Papa mau kerja dulu ya, kamu sama Bibi dulu,” ujar Arzan seraya turun ke bawah. Tidak, Arzan tidak bekerja melainkan akan pergi menemui pacarnya. Bahkan dia sudah berniat untuk tidak pulang.


Lagi-lagi pikiran yang tidak dewasa membuat Ava kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun Arzan tetap tak menyadari itu. Menurutnya, yang di lakukan sekarang adalah tindakan benar.


Dia tak peduli dengan perasaan Ava, apalagi perasaan Sarah. Sikapnya yang sering berubah-ubah membuatnya melakukan kesalahan. Terkadang dia menyesal telah menyia-nyiakan Sarah, tapi secara tak sadar diapun masih menyakiti Sarah. Diapun seolah butuh kesempatan kedua dari Sarah, padahal dia sudah memiliki kekasih yang begitu di sayanginya.


Meskipun dia tak yakin untuk menikahi kekasihnya yang sekarang, tapi dia tak mau kehilangan. Benar-benar lelaki egois yang tak memikirkan perasaan orang lain. Ucapannya yang selalu manis membuatnya berhasil dalam menjebak banyak wanita.


Dia keluar membawa mobil sportnya. Malam ini dia akan bersenang-senang bersama sang kekasih, tak peduli dengan hal lain. Jiwa muda yang masih ingin bebas lagi-lagi membawanya ke jalan yang salah.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍