WHISPER

WHISPER
Pelukan Sayang



Sarah keluar kelas bersama Florisa. Begitu keluar dari pintu, dia melihat Libra sedang berjalan ke arahnya. Pemandangan itu tak luput dari beberapa anak yang berada di sekitar. Mereka semua tahu siapa Libra. Dan mereka tahu bahwa Libra sudah putus dengan Victoria.


“Kok lo di sini?” tanya Sarah ketika Libra berhenti di depannya.


“Mau jemput, lo.”


“Kok tau gue di Gedung ini?”


“Lo sama Victoria itu ngambil jurusan yang sama. Gue udah biasa keluyuran disini.”


Sarah melongo tak percaya. Dia pikir Victoria mengambil jurusan yang sama dengan Libra. Tapi ternyata salah.


“Flo, kenalin, ini Libra sahabat gue,” kata Sarah kepada Florisa.


“Hai,” sapa Libra sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Florisa. Setelah mendengar nama Florisa, dia langsung tahu jika itu adalah pembaca setia Sarah.


Setelah berbasa-basi sedikit, Florisa pamit pulang terlebih dahulu. Selama Libra datang, banyak pasang mata yang menatapnya dengan heran.


“Ib, orang-orang pada kenapa sih?” tanya Sarah heran.


Libra menarik tangan Sarah untuk pergi. Dia akan mengajak Sarah makan siang.


“Emang kenapa?” tanya Libra pura-pura tidak tahu. Sebenarnya dia tahu apa yang di maksud oleh Sarah.


“Kenapa mereka ngeliatin gue?”


“Lo cantik!”


Sarah menepis tangan Libra, kemudian berjalan sejajar sambil kembali bertanya.


“Bukan itu! Tapi, kenapa mereka ngeliatnya gitu banget?”


“Gitu gimana?”


“Ibra! Gue serius!” kesal Sarah sambil menghentakkan kaki, persis seperti anak kecil yang sedang marah.


Libra mengabaikan ucapan Sarah. Dia justru kembali menarik Sarah menuju parkiran. Dia mengabaikan protes dari Sarah, bahkan mengabaikan beberapa pertanyaan.


“Diem atau gue cium?!” ancam Libra ketika keduanya sudah duduk di dalam mobil.


Mendengar ancaman Libra, Sarah langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Baru kali ini Libra mengancamnya seperti itu.


“Lo ngancemnya nyeremin banget!” protes Sarah setelah beberapa saat terdiam.


“Emang lo gak mau di cium cowok ganteng kaya gue?”


“Dih, ogah!”


“Di luar sana banyak yang mau gue cium loh!” kata Libra sambil melajukan mobilnya. Dia menuju kafe yang tidak terlalu jauh dari kampusnya.


Sarah berpura-pura hendak muntah. Dia melirik Libra sekilas, lalu mengambil ponsel di dalam tote bagnya. Dia tersenyum ketika melihat ada pesan dari William. Senang? Ya, Sarah memang merasa senang ketika menerima pesan dari William. Dia juga senang mendapat perhatian-perhatian kecil dari William. Apa Sarah benar-enar jatuh cinta?


“Lo kenapa senyum-senyum sih?” tanya Libra curiga.


“Ha? Oh, enggak,” balas Sarah. Setelah menoleh sekilas, dia kembali fokus pada ponselnya.


“Apa Pak William?” tanya Libra di dalam hati. Rasa penasarannya benar-benar memuncak. Ingin sekali dia bertanya perihal William. Tapi dia belum siap jika Sarah memang menjalin hubungan dengan William. Selain karena cemburu, ada hal lain yang juga dia khawatirkan.


***


“Ternyata bener dugaan gue waktu itu. Ini cewe emang simpenan lo!” kata Victoria yang sekarang sudah berdiri di belakang Libra. Kedua tangannya dia silangkan di depan dada. Matanya menatap Sarah dengan tatapan tak suka.


Sarah menatap Libra setengah tertawa. Tampaknya Libra begitu tekanan batin oleh tingkah laku Victoria.


“Lo Sarah kan? Mantan istrinya Arzan Chinar?” tanya Victoria seraya menarik kursi dan mendudukan diri. Dia menatap Sarah dengan tatapan tak suka, tapi dia sudah lebih bisa mengontrol emosi.


Sarah mengernyit heran, darimana Victoria tahu semua itu? Selama ini kehidupan pribadinya tertutup rapi.


“Lo gak punya malu ya? Udah jadi janda tapi masih deketin Libra?” tanya Victoria lagi membuat Libra mendelik tak suka.


“Vic, kita cuma temenan!” bela Libra. Selama ini dia menyimpan perasaannya sendiri karena takut ada orang lain yang tahu dan akan berimbas pada Sarah. Dia tak mau melihat Sarah di hina karena statusnya.


“Harusnya lo sadar diri! Di sini bukan tempat lo lagi! Kuliah? Lo mau ngejar apa? Suami udah pergi, anak juga udah mati!”


Brakkk!


Sarah menggebrak meja. Dadanya naik turun karena emosi. Wajahnya terlihat memerah karena tersulut emosi. Dia bisa menerima jika dirinya di hina, tapi tidak dengan Ava.


“Apa lo bilang?” tanya Sarah dengan tangan yang terkepal.


Libra segera beranjak, dia membimbing Sarah untuk meningalkan Victoria.


“Gue gak akan pergi! Sebelum dia minta maaf ke gue!” teriak Sarah keras membuat beberapa pengunjung menatapnya dengan heran. kini mereka bertiga menjadi tontonan gratis bagi banyak orang.


“Sarah, kita di liatin banyak orang,” bisik Libra di samping telingta Sarah.


“Minta maaf? Harusnya lo yang minta maaf karena ngrebut cowok gue!” teriak Victoria tak kalah keras.


Sarah meraih gelas yang berisi jus melon, lalu menumpahkannya di baju Victoria. “Gue bisa terima kalo lo ngehina gue, TAPI GUE GAK SUKA KALO LO BAWA-BAWA AVA!” Sarah benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi. Matanya melotot lebar dengan sempurna, rahanya mengetat bahkan dia merasa jika darahnya sedang mendidih.


Victoria memekik histeris karena bajunya basah. Dia beranjak berdiri dengan tangan yang siap menampar Sarah. Dia tak mau kalah oleh Sarah.


“Dasar-”


Sebelum tangan Victoria mendarat di pipi Sarah, Libra sudah menangkap tangan itu dan menghempaskannya dengan kasar. Dia membentak Victoria dan menatapnya tajam.


“Kita pulang sekarang,” kata Libra lembut kepada Sarah. Dia merengkuh pinggang Sarah dan memaksanya pergi. Aksi itu dia lakukan di luar kehendaknya. Dia terus membinging Sarah menuju parkiran.


“LIBRA! GUE GAK BISA TERIMA INI!” teriak Victoria histeris.


Prang!


Dia membanting gelas ke lantai dengan keras. Tak ada satupun pengunjung yang mendekatinya, mereka hanya menyaksikan Victoria yang begitu histeris.


“Sarah, awas lo!” geram Victoria dengan mata berkobar. Dia benar-benar tak terima di perlakukan seperti itu. Dia akan membalasnya.


“Gila! Urusan gue sama Victoria belum selesai!” gerutu Sarah seraya mendudukan diri di jok mobil.


Setelah Libra duduk di balik kemudi, dia tak langsung menyalakan mesin. Dia menatap Sarah dengan tatapan bersalah. “Maaf, Victoria memang segila itu.”Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Libra.


Arghhhh,


Sarah berteriak emosi. Dia menjambak rambutnya dengan kasar. Mantan pacar Libra benar-benar membuatnya emosi.


Libra memajukan tubuhnya, lalu memeluk Sarah dengan sayang.


“Hust, tenang,” kata Libra sambil mengelus punggung Sarah dengan lembut.


Sarah membenamkan wajahnya di dada bidang Libra. Sudah lama sekali dia tak di peluk seperti ini. Rasanya begitu hangat dan menenangkan.


Sarah masih menggerutu sambil sesekali mengeluarkan sumpah serapah yang dia tunjukan kepada Victoria. “Besok-besok cari cewek yang bener!” kata Sarah seraya melepas pelukan Libra. Dia menatap Libra dengan tatapan sebal.


“Iya,” jawab libra sambil tersenyum miring. Tapi dalam hati dia berucap, “Gua gak perlu nyari cewek, dengan keberadaan lo di samping gue aja udah cukup.”