WHISPER

WHISPER
Ucapan Pedas



Pagi ini Sarah membawa Ava keliling kompleks. Mereka berdua berjalan kaki, menikmati udara pagi yang masih begitu segar. Ava berlarian kecil sambil berceloteh ria. Dia mengomentari setiap objek yang dilihatnya. Mulai dari pohon, kupu-kupu, sampai tetangga yang juga sedang jalan pagi.


“Ekhm,” seseorang berdehem di belakang Sarah.


Seketika Sarah menoleh dan tersenyum ramah. Bahkan dia menyapanya dengan sopan. Namun balasan dari ibu-ibu yang berdehem tadi sungguh di luar dugaan. Sambil memandangi Sarah dengan sinis, dia berkata, “Lagi cari mangsa nih?” tanyanya.


“Maaf, maksud ibu apa ya? Saya tidak mengerti,” ujar Sarah masih dengan nada sopan. Suaranya juga dia buat serendah mungkin agar terkesan tidak ketus. Dia menyadari bahwa usianya masih sangat muda, jadi dia harus menjaga cara bicaranya.


“Ya, maksud saya cari calon suami lagi gitu. Saya liat-liat udah punya pacar baru ya? Terus kenapa nyari mangsa di pagi buta gini? Mau nglirik suami orang?” tanya ibu-ibu itu lagi dengan nada yang semakin sinis. Tatapannya menyiratkan rasa tidak suka.


Jantung Sarah langsung bergemuruh mendengar itu. Tapi dia berusaha bersikap biasa, berusaha tidak terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak pantas di ajukan. Dia menggandeng tangan Ava, berniat untuk pergi.


“Maaf, Ibu salah sangka. Saya tidak sedang mencari calon suami, saya juga tidak memiliki pacar. Mohon maaf, saya pamit dulu,” kata Sarah sedikit memberi penjelasan. Meskipun dia tahu penjelasannya tidak akan ada artinya, tapi dia tetap berusaha.


“Halah, gak usah bohong. Pacarnya aja sampe pulang tengah malem. Gak baik loh janda di apelin sampe tengah malem. Mau di grebek sama warga sekitar?” tanya ibu-ibu itu dengan nada mengejek. Nada bicaranya semakin ketus dan tidak di pikir terlebih dahulu.


“Dia bukan pacar saya, tapi teman saya. Dia sering membantu saya jadi sering datang ke rumah,” ujar Sarah mencoba memberi penjelasan lagi. Meskipun terpancing emosi, tapi dia masih berkata dengan nada sopan.


“Kamu pikir saya percaya? Mana ada temen yang mainnya sampe tengah malem. Tiap hari dateng ke rumah juga. Temen tapi mesra ya?”


Sebelum Sarah menjawab, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menangis sambil berjalan ke arah ibu-ibu itu. Sebelum ibu-ibu itu pergi, dia menatap Sarah dengan sinis. Bahkan sudut bibirnya naik sebelah sebagai bentuk ejekan untuk Sarah.


Sarah memejamkan mata sejenak, lalu mengelus dadanya dengan perlahan. Dia harus kuat menghadapi ucapan-ucapan pedas dari tetangganya. Kini dirinya sedang menjadi pembicaraan hangat oleh warga sekitar. Bahkan mereka ada yang menuduh bahwa Sarah akan merebut suami orang jika ada kesempatan.


Apalagi Sarah begitu cantik, penampilannya selalu menarik, persis seperti ABG yang masih doyan kelayaban. Tapi umur Sarah memang masih muda, kecantikannya begitu terpancar di usianya yang masih dua puluhan. Dia juga sering merawat diri dan memperhatikan cara berpakaian. Tapi apakah salah dengan semua itu? Apakah salah berpenampilan menarik? Apakah salah tampil cantik?


Tapi dia tak ambil pusing. Dia menganggap ucapan pedas itu hanya angin lalu yang sebentar saja akan hilang. Meskipun dadanya terasa sesak, tapi dia berusaha tegar. Dia menganggap bahwa ini hanya sebagian kecil dari ujian hidup yang ada di dunia.


Hari ini dia sedang libur kerja, maka pagi ini mengajak Ava jalan-jalan di sekitar rumah untuk sekedar menikmati udara segar. Tapi sayang, paginya justru di rusak oleh orang yang begitu menyebalkan. Bahkan di hancurkan oleh ucapan-ucapan yang seharusnya tak keluar dari orang yang sudah dewasa seperti ibu-ibu tadi.


“Ava, kita pulang, yuk,” ajak Sarah kepada Ava yang sedang sibuk mengamati sangkar burung di pohon. Dia begitu tertarik dengan burung yang sedang berlalu lalang sambil membawa makanan untuk anaknya. Meskipun dia belum tahu maknanya, tapi dia menyukai hal yang di lakukan burung itu.


Ava mengangguk patuh, lalu melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlarian kecil.


“Aduh, hwaaa...hwaa...”


Sarah di kejutkan oleh suara tangis Ava. Ternyata anaknya jatuh akibat berlarian dan kurang hati-hati. Dia segera berlari menghampiri Ava, lalu memeriksa apakah anak semata wayangnya itu terluka. Pikiran yang tadinya sedang kalut, tiba-tiba sirna begitu saja. Kini pusat perhatiannya hanya kepada Ava seorang.


Ternyata lutut Ava terluka, telapak tangannya juga terluka karena dia terjatuh dengan posisi tengkurap. Sarah langsung menggendongnya, membujuk agar berhenti menangis. Untungnya Ava hanya menangis sebentar saja, membuat Sarah menghela napas lega.


Dia menggendong Ava menuju rumah. Sepanjang jalan dia menghibur Ava agar lupa dengan lukanya. Dan benar saja, Ava lupa dengan luka di lutut dan telapak tangannya. Begitu sampai di rumah, Sarah langsung mengobati luka Ava. Tangis Ava kembali pecah, kini justru lebih keras dan histeris. Mungkin dia merasakan perih dan sakit.


Dengan sabar Sarah mengobati luka Ava sambil terus membujuk dan menghiburnya. Meskipun berlangsung dramatis, akhirnya luka Ava sudah di obati semua. Sarah tersenyum melihat Ava yang sudah tidak menangis lagi. Dia berharap anaknya tumbuh menjadi anak yang kuat. Dia juga berjanji akan menjadi pahlawan hebat untuk anaknya.


“Bunda, lutut Ava sakit,” rengek Ava dengan manja.


“Kan udah di obatin, sayang. Bentar lagi sembuh kok. Kan Ava anak yang kuat,” ujar Sarah membujuknya. Namun Ava tetaplah anak kecil yang sedikit rewel apabila merasakan rasa sakit.


Sarah memaklumi itu, mau bagaimanapun Ava tetap anak kecil. Dia membuat sebotol susu untuk Ava. Meskipun Ava sudah makan nasi, tapi dia tetap membutuhkan susu formula. Bahkan dalam satu hari Ava bisa meminum susu sebanyak tiga sampai empat botol.


Untuk beberapa saat Ava masih menangis, sampai-sampai Sarah tak bisa beraktivitas karena Ava meminta di gendong. Bahkan dengan terpaksa, Sarah harus melakukan pekerjaan rumah sambil menggendong Ava.


“Sayang, turun, ya. Bunda capek gendong kamu terus,” pinta Sarah yang kini benar-benar merasa lelah.


“Tapi lutut Ava masih sakit. Ava gak bisa jalan,” rengek Ava dengan wajah memelas.


Sarah berpikir keras, dia berusaha mencari ide untuk membujuk Ava.


“Ava gak usah jalan, Ava duduk aja sambil mainan boneka ya.”


Akhirnya Ava mengangguk setuju, dia mau turun dari gendongan tapi dengan satu syarat. Dia mau es krim. Untung saja masih ada satu es krim yang tersisa di kulkas, jadi Sarah tak perlu repot-repot keluar rumah untuk membelinya.


“Iya, Bunda ambilin sekarang. Ava duduk aja di sini,” kata Sarah seraya menurunkan Ava dari gendongannya. Dia mendudukkan Ava dengan sangat hati-hati agar Ava tak merasakan sakit


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️