WHISPER

WHISPER
Keributan di Pagi Hari



Sarah melirik jam di dinding, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, tapi Libra belum bangun. Begitupun dengan Ava yang masih tertidur pulas.


“Itu anak ada kelas jam berapa sih?” batin Sarah. Setelah mencuci muka, dia berjalan menuju kamar Libra, lalu mengetuknya beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Libra.


Karena tak mendapat respon, akhirnya Sarah masuk ke dalam kamar Libra.


“Buset, ini orang masih tidur,” ucap Sarah sambil geleng-geleng kepala. Dia meraih guling yang ada di dekat Libra, lalu memukul Libra dengan guling itu.


“Ib, bangun!” seru Sarah dengan nada keras.


“Hmm, gue masih ngantuk,” ujar Libra sambil memejamkan mata. Dia justru menarik selimut sebatas leher, lalu memposisikan dirinya senyaman mungkin. Dia baru bisa tidur setengah tiga dini hari.


“Lo ada kelas jam berapa?” tanya Sarah sambil berkacak pinggang.


“Setengah delapannnn!” sahut Libra dengan mata yang masih terpejam.


“Ib, lo tau sekarang jam berapa? Sekarang jam setengah delapan!” seru Sarah dengan nada penuh penekanan. Dia menarik selimut Libra, lalu memukul bahunya agar bangun.


Sontak Libra terduduk, lalu meraih ponsel dan melihat jam dengan mata setengah terpejam. Sedetik kemudian matanya melotot tak percaya.


“Sial! Lo kenapa gak bangunin gue dari tadi? Hari ini gue ada kuis!” teriak Libra sambil berlari menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, dia berteriak kepada Sarah.


“Sarah! tolong siapin baju buat ke kampus!”


Sarah berdecak, namun akhirnya dia berjalan ke lemari dan mencarikan baju untuk Libra. Dia sudah seperti seorang istri yang menyiapkan baju kerja untuk suaminya. Ketika dia menaruh bajunya di atas kasur, tiba-tiba Libra keluar dan membuat Sarah histeris.


“Ibra! Lo gila ya?” kesal Sarah karena melihat Libra hanya mengenakan handuk yang di lilit di pinggangnya. Dada yang begitu bidang terekspos begitu saja, membuat Sarah kesulitan untuk bernapas.


Libra tak menggubris, dia justru meraih baju yang di sediakan Sarah dan mengenakannya. Sebelum melihat lebih jauh, Sarah langsung berlari keluar sambil mengumpat. Ketika sudah di luar, tiba-tiba dia merasakan pipinya memanas. Setelah sekian lama, baru kali ini dia melihat pemandangan seperti itu.


“Ibra!” kesal Sarah, lalu berjalan ke dapur. Dia segera menyiapkan sarapan untuk Libra.


“Gue berangkat ya, bye!” ujar Libra sambil berlarian persis seperti anak SD yang bangun kesiangan.


“Sarapan dulu,” teriak Sarah yang langsung meraih roti bakar dan segelas susu, lalu berjalan cepat menuju Libra yang sedang mengenakan sepatu.


“Nih, minum susunya, abis itu makan rotinya sambil jalan,” ujar Sarah seraya menyodorkan roti bakar dengan selai cokelat dan segelas susu. Sarah dan Libra justru terlihat seperti ibu dan anak.


Libra meneguk susu pemberian Sarah dengan cepat, lalu menyambar roti dan pergi begitu saja. Sarah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Libra.


“Gue jadi kek Emaknya dia,” ujar Sarah seraya berjalan kembali ke dapur dan meletakkan gelas yang sudah kosong.


***


Setelah memastikan Isabela baik-baik saja, Sarah pergi untuk menemui seseorang. Sebelumnya dia sudah membuat janji dengan seseorang tersebut. Dia merupakan pemilik rumah yang ada di kompleks, Sarah berniat untuk membeli rumah itu. Namun sebelum membeli, dia akan datang melihat-lihat dan membicarakan soal harga.


Lingkungan rumah yang akan di beli Sarah cukup ramai. Sepanjang jalan berjejer rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas di depannya. Sekilas terlihat begitu menyenangkan.


Sarah berjalan mendekatinya, lalu memperkenalkan diri kepada pria yang sudah cukup tua. Pria itu mengenakan kemeja berwarna biru muda, rambutnya terlihat sudah beruban.


“Selamat siang, saya Sarah yang ingin melihat-lihat rumah ini,” ujar Sarah seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Dia tersenyum ramah. Sementara Ava berdiri di belakangnya dengan takut-takut.


“Siang, saya Tomi, pemilik rumah ini,” balasnya sambil menyambut uluran tangan Sarah. Matanya melirik Ava sekilas, lalu kembali memandang Sarah.


Tomi langsung mengajak Sarah masuk ke dalam rumah untuk melihat-lihat. Begitu masuk ke dalam, Sarah merasakan hawa dingin yang aneh. Rumah itu memang besar, namun sepertinya sudah lama di kosongkan.


Sarah menjelajahi rumah itu sambil menggandeng Ava. Dia berjalan ke lantai dua di temani oleh Tomi. Di beberapa ruangan, cat temboknya sudah tampak mengelupas. Rumah itu tampak menyeramkan bagi Sarah.


“Sudah berapa lama rumah ini kosong?” tanya Sarah. Kini mereka berada di dalam sebuah kamar. Di ruangan itu tampak sedikit gelap, meskipun ruangannya begitu besar, tapi lagi-lagi tampak dingin dan menyeramkan. Cat temboknya yang berwarna putih sudah berubah menjadi kecoklatan. Bahkan, di beberapa bagian atapnya sudah terkelupas.


“Emm, sekitar delapan tahun,” jawab Tomi sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali rumah itu di gunakan.


Sarah tercengang sejenak, delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Entah apa yang terjadi dengan rumah itu selama tak di gunakan. Lingkungannya memang ramai, tapi rumah ini begitu mencekam.


Sarah ingin mengucapkan sesuatu, tapi dia sedikit ragu.


“Bagaimana?”


“Em, apa tak ada rumah yang lain?” tanya Sarah. Dia tak mungkin berani tinggal di rumah seperti ini. Meskipun nantinya dia di temani Isabela, tapi tetap saja menakutkan.


Tomi tersenyum sekilas, seolah tahu bahwa Sarah tak akan memilih rumah itu.


“Ada, tapi kemarin sudah ada yang menawar. Tapi kita belum ada kesepakatan,” ujarnya kemudian.


Sarah tersenyum lega, lalu berkata, “Apa boleh saya melihatnya?”


“Tentu saja.”


Mereka berdua segera turun ke bawah. Sarah menawarkan kepada Tomi untuk ikut satu mobil dengannya, dan Tomi langsung setuju.


“Rumah yang tadi itu milik siapa?” tanya Sarah memecah keheningan setelah mobilnya melaju cukup jauh.


“Saya,” ujar laki-laki itu sambil menghela napas berat. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Delapan tahun yang lalu saya masih tinggal di rumah itu bersama istri dan kedua anak saya. Tapi setelah istri saya meninggal, saya memutuskan untuk membeli rumah yang baru,” dia menghentikan kalimatnya, seperti sedang mengingat sesuatu yang menyedihkan. Untung saja Ava duduk diam di belakang, tentu saja diam karena di tangannya ada es krim rasa cokelat.


“Saya sangat terpukul atas kepergian istri saya, akhirnya saya menyiksa diri dengan bekerja dan bekerja. Saya menghasilkan banyak uang, lalu uang itu saya gunakan untuk membeli beberapa rumah.” Tatapan tomi begitu sendu, seolah kejadian itu tak pernah ia lupakan seumur hidup.


Sarah ikut prihatin mendengar kisah Tomi. Selama perjalanan, mereka berdua saling berbagi cerita. Ternyata nasib mereka berdua tak jauh berbeda, sama-sama menyedihkan. Mobil terus melaju sampai akhirnya samai di kawasan kompleks yang begitu hijau dan asri.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️