
Aroma bunga begitu semerbak memenuhi indra penciuman. Bulir-bulir air menetes dari daun-daun yang bergoyang. Beberapa ekor kupu dan kumbang berterbangan di sekitar kelopak bunga.
Kepulan asap kopi dan secangkir matcha menghangatkan tubuh setelah turunnya hujan. Sarah memegang secangkir kopinya untuk memberi rasa hangat pada telapak tangannya. Dia mengenakan stelan panjang dengan di padukan jaket tebal. Sementara Libra sedang menatap bunga-bunga dengan rasa takjub. Dia hanya mengenakan celana jeans dan kaos hitam polos.
Mereka berada di halaman belakang, duduk di atas gazebo sambil sesekali mengobrol. Sedangkan Ava duduk di atas karpet bulu sambil bermain masak-masakan bersama bonekanya. Lukanya sudah lebih mendingan, jadi dia tak rewel lagi.
“Kalo lo pindah kota, gimana?” usul Libra. Beberapa menit yang lalu Sarah menceritakan kejadian tadi pagi yang menimpa dirinya.
“Lari dari masalah maksud lo?” tanya Sarah dengan dahi yang berkerut.
Libra mengalihkan pandangannya, menatap Sarah dengan sedikit heran.
“Lari dari masalah? Lo gak ada masalah apa-apa, tetangga lo aja yang cari masalah. Sarah, lo berhak hidup bahagia. Lo berhak meninggalkan apapun yang bikin lo sedih,” terang Libra.
“Meskipun lo jadi orang baik, bahkan mulia. Pandangan orang lain terhadap lo gak berubah, Sarah. Semua kebaikan lo bakal tertutup dengan satu kesalahan, oh bukan kesalahan. Tapi sesuatu yang benar namun di anggap salah oleh orang lain.” Libra kembali menatap bunga-bunga yang kini di hinggapi kumbang.
“Gue harus kemana, Ibra? Gue gak punya tempat untuk pulang.”
“Gue cuma punya Ava sama rumah ini,” tambahnya.
“Ck, ada gue yang akan selalu ada di sisi lo. Pindah sama gue aja,” pintanya sambil kembali menatap Sarah. Dia sendiri tak tega harus meninggalkan Sarah sendiri. Dia ingin memastikan Sarah dan Ava hidup bahagia.
“Beberapa hari lagi gue harus balik buat kuliah, lo ikut ya,” sambungnya.
Sarah tampak tertawa ringan, “Gak, gue gak mau ngrepotin lo. Apalagi jadi beban lo.”
“Sarah, kita udah lama sahabatan. Gue gak mau ninggalin lo disini. Setelah lo pindah, lo bisa berkarir di dunia menulis. Lagipula lo hobi nulis. Dengan pekerjaan menulis, lo masih bisa nemenin Ava terus. Lo gak perlu orang buat jagain Ava, karena lo sendiri yang akan jaga dia. Lo gak perlu khawatir dengan omongan tetangga karena lo udah gak berhubungan sama mereka lagi,” ujar Libra panjang lebar. Tatapannya begitu tulus membuat Sarah terbuai untuk sejenak. Lagi-lagi Sarah lemah di hadapan lawan jenisnya.
Melihat keraguan di mata Sarah, Libra menarik tangan Sarah dan membelainya lembut. Sentuhan itu begitu hangat, membuat rasa rindu yang entah di tunjukan pada apa oleh Sarah.
“Lo sama Ava berhak bahagia dan berhak mendapatkan hidup yang lebih baik. Setelah lo berhasil nulis novel, naskah lo bisa di kirim ke Om Amar dan di terbitkan. Atau gak lo nulis aja di platfrom online,” terang Libra lagi. Dia tahu semua itu berkat Amar. Diam-diam dia pernah bertemu secara pribadi dengan Amar dan mengobrol banyak hal.
Sarah terdiam, mencerna kalimat Libra dengan baik. Dalam hati dia membenarkan ucapan Libra. Tapi apakah harus pergi? Apa hanya itu satu-satunya jalan?
Sarah menarik tangannya dari tangan Libra, lalu meraih cangkir dan menyesap kopi susunya, merasakan kehangatan di lidahnya yang lambat laun kehangatan itu menyebar ke seluruh tubuh.
“Gue belum punya cukup uang untuk beli rumah di sana,” ujar Sarah berbohong. Sebenarnya jika dia menjual rumahnya yang sekarang dan menggunakan uang peninggalan Naura, dia bisa membeli rumah sendiri.
“Lo tinggal sama gue.”
“Lo gila ya? Gak mungkin, Ibra!”
“Apanya yang gak mungkin? Dengan lo tinggal di apartemen gue, jadi gue gak harus susah-susah ngurusin apartemen sama pesen makanan setiap kali laper.”
Sarah mendelik sambil memukul lengan Libra. Dia tahu apa maksud tersembunyi Libra. Dia tinggal di apartemen Libra, maka semua urusan bersih-bersih dan memasak menjadi urusan Sarah.
“Mahal, sayang duitnya.”
“Bokap sama nyokap lo kaya!”
“Yang kaya orang tua gue, kalo gue gak!”
“Ibra!”
“Sarah! Gue cuma niat bantu lo!” Entah kenapa Libra begitu bersikeras untuk membawa Sarah dan Ava tinggal bersamanya. Dia tak mau melihat Sarah dan Ava menderita terus menerus.
Kini keduanya terlibat perdebatan. Nada bicara mereka berubah menjadi sedikit tinggi. Mata mereka saling bertatapan, menyuruh lawannya untuk mengalah. Tapi sepertinya tak ada yang mau mengalah. Bantuan yang di tawarkan oleh Libra tak bisa di terima oleh Sarah.
“Lo tetep mau tinggal disini? Dengan segala hal yang menyedihkan? Dengan banyak orang yang bikin lo sedih? Lo betah?” tanya Libra dengan suara menantang.
Sarah menunduk dalam-dalam, dia sendiri sebenarnya ingin pergi. Tinggal di kota yang penuh rasa sakit tidaklah mudah. She’s hate this city!
“Kenapa diem? Lo gak punya jawaban?” tanya Libra yang mulai geram.
“Satu lagi, dengan lo tinggal disini, lo bakal sering ketemu sama Arzan. Dan itu gak baik buat lo! Kenapa? Gue bisa liat kalo Arzan masih ada di hati lo!”
Sarah mendongak, tatapannya berubah menjadi sinis.
“Gak usah sok tau! Lo gak tau apa-apa perasaan gue!” seru Sarah tak terima.
“Gue liat itu kemaren Sarah. Please! Lo jangan goblok cuma gara-gara cinta!” Libra beranjak berdiri, berjalan menuju bunga-bunga yang masih di hinggapi oleh kumbang. Tanah yang masih basah dan udara yang masih begitu dingin tak dapat mengusik Libra.
Sarah ikut beranjak berdiri dan menyusul Libra. Kini keduanya berdiri di depan bunga mawar berwarna merah muda. Aroma wanginya begitu semerbak.
“Gue udah gak ada hubungan apa-apa sama Arzan! Dan perlu lo inget. Gue udah gak cinta sama dia!” tegas Sarah seraya menarik lengan Libra untuk menghadap ke arahnya.
Sementara Sarah dan Libra terlibat perdebatan, Ava tetap bermain masak-masakan. Dia tak terusik dengan suara ribut kedua orang dewasa itu.
“Mata sama hati lo justru berkata sebaliknya,” kata Libra dengan nada lirih, halus, namun langsung sampai ke hati Sarah.
Napas Sarah tercekat sejenak. Apa benar seperti itu? Mata? Hati? Apakah mereka bereaksi berbeda dari ucapan bibirnya? Entahlah. Sarah tak menyadari itu.
“Sarah, apa yang bikin lo lebih baik disini? Apa?”
Sarah menggeleng sambil mengatur napasnya, “Kita bicara lagi besok!” tegas Sarah. Dia membalikkan tubuhnya, menghampiri Ava dan mengajaknya masuk. Sementara Libra masih termangu di tempatnya. Ada rasa sedikit bersalah di hatinya. Mungkin dia terlalu kasar, atau ucapannya mungkin menganggu Sarah. Tapi dia tak peduli, dia hanya ingin hidup Sarah menjadi lebih baik. Ya, dia hanya ingin melihat Sarah bahagia.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️