
“Jarang pernah membandingkan seseorang, karena yang terlihat sama belum tentu sama”
Selesai makan, Libra menaruh piring di dapur dan mengambil sebotol minum lalu meneguknya hinga habis setengah botol. Dia juga mengambil buah jeruk dan memakannya sebagai pencuci mulut. Benar-benar seperti di rumah sendiri. Selesai makan buah jeruk, Sarah langsung menodongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Ibra, kenapa lo jadi kek gitu sih? Terus itu lo nyewa apa lo pacarin doang?” tanya Sarah yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya. Dia sudah duduk di samping Libra dengan tatapan menyelidik.
“Ck, lo segitu penasarannya sama gue ya?” tanya Libra sambil menahan senyum. Dia sengaja tak langsung menjawab, melainkan meledek Sarah terlebih dahulu.
“Gak gitu konsepnya! Ya gue heran aja, kok lo jadi gak waras gini? Gue tau lo udah gila dari dulu, tapi gue gak nyangka kalo lo ternyata lebih gila lagi,” ujar Sarah mengutarakan isi hatinya.
“Sialan lo,” sembur Libra sambil menoyor kepala Sarah dengan perlahan. Sementara mereka mengobrol, Ava masih saja sibuk main anak-anakan.
“Sarah, gue gak perlu jelasin detail ke lo. Intinya gue ngelakuin ini atas dasar suka sama suka. Tidak ada unsur paksaan sedikit pun,” jelas Libra.
“Ck, paling-paling lo modal janji manis doang!” seru Sarah sambil melempar tatapan sinis ke arah Libra. Dia dulu sangat ingat dengan seorang cewek yang menjadi korban janji manis Libra. Cewek itu sampai mendatangi Sarah dan menangis di depannya. Dia menceritakan semua yang janjikan oleh Libra kepada Sarah.
Saat itu Sarah tak bisa berkata apa-apa. Dia tak bisa menyalahkan Libra sepenuhnya, dia juga tak bisa menasehati cewek yang menjadi korban Libra. Dia hanya mengatakan bahwa antara Libra dan cewek itu tidak ada kecocokan, selebihnya dia hanya diam dan menjadi pendengar.
Libra tergelak mendengar jawaban Sarah. Dia memang hanya bermodalkan janji manis dan ketampanannya saja. Lagipula, dia tak mengemis ataupun memaksa, para wanita-wanita itu yang bersukarela.
“Heran deh, kok gue betah jadi besti lo ya? Padahal lo tuh brengseknya sama kek Arzan,” ujar Sarah enteng. Namun kemudian dia menyesali ucapannya. Karena secara tidak sadar dia menyamakan antara Libra dan Arzan.
“Gak usah samain gue sama Arzan. Dia lebih brengsek dari gue!” seru Libra yang sedikit tak terima dengan ucapan Sarah. Meskipun dia brengsek, tapi dia menganggap jika Arzan lebih brengsek darinya. Bagaimana tidak, Arzan berselingkuh padahal sudah menikah.
“Kan emang bener, lo sama dia tuh sama-sama brengsek.”
“Gue-”
“Hust, Ava udah tidur,” potong Sarah sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir dan hidungnya. Ava ketiduran di sofa sambil memeluk boneka pemberian Libra. Mungkin dia lelah bermain sampai akhirnya tertidur.
Libra ikut menoleh ke arah sofa dan mendapati Ava sedang tertidur dengan nyenyak. Dia tidur dengan posisi telentang sambil memeluk boneka pemberian Libra.
“Gue pindah dia ke kamar, lo beresin aja mainannya,” kata Libra seraya beranjak berdiri. Dia berjalan ke sofa dan menggendong Ava menuju kamar. Dia terlihat seperti seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya. Sarah menyaksikan itu dengan dada sedikit sesak, dia mengingat Arzan. Ya, lagi-lagi lelaki itu menyelinap di pikiran Sarah.
Sarah menggeleng kuat-kuat, dia tak mau kembali mengingat mantan suaminya. Dia segera bangkit dan membereskan mainan Ava. Dia menyimpannya ke dalam sebuah kotak besar yang biasanya menjadi tempat menyimpan mainan anaknya itu.
Ketika sedang memasukkan mainan ke dalam kotak, Libra kembali dan membantu Sarah.
“Ava masih tanya soal Ayah sana Neneknya?” tanya Libra hati-hati. Dia khawatir Ava masih terus menanyakan tentang ayah dan neneknya.
“Hmm.” Sarah hanya bergumam lirih. Dalam sehari Ava bisa bertanya sebanyak dua atau tiga kali. Untung saja dia bisa mencari jawaban yang pas. Jawaban yang bisa di mengerti oleh anak kecil.
Libra mengangguk-angguk, lalu keduanya terdiam sambil terus memasukkan mainan ke dalam kotak. Mereka melakukannya dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara berisik. Setelah semuanya selesai, Sarah mengajak Libra menonton film.
“Gaya banget lo, dulu kalo nonton film horor aja selalu tutup mata,” cibir Libra.
Sarah duduk di samping Libra sambil memilih-milih film horor yang akan di tonton. Dulu mereka sering kali menonton film bersama. Mulai dari film action, horor, bahkan romance sekalipun.
Ketika film baru saja di putar, Sarah sudah siap-siap untuk menutup mata. Dia memang begitu penakut. Tapi dia juga menyukai film horor. Sungguh aneh.
“Pengecut banget sih, lo,” cibir Libra sambil melirik Sarah sekilas.
“Diem, deh!” kesal Sarah karena dari tadi di ejek sebagai pengecut.
“Gue tuh gak takut sama hantunya, tapi filmnya suka ngagetin,” elak Sarah.
“Bilang aja lo penakut!”
“Enggak!”
“Penakut!”
“Eng-, hwaaaaa,” Sarah langsung membekap mulutnya karena tiba-tiba ada hantu yang muncul di film itu. Untung saja suara jeritannya tak terlalu keras.
“Mulut lo! Tar Ava bangun!” seru Libra dengan penuh penekanan. Lagi-lagi dia menoyor kepala Sarah.
“Ck, ya makanya lo diem!”
“Lo yang gak bisa diem!” Libra benar-benar gemas melihat kelakuan Sarah.
Kini keduanya terdiam, menikmati film yang sudah berjalan lima belas menit. Beberapa adegan benar-benar membuat Sarah ketakutan sampai harus tutup mata. Sedangkan Libra menikmati film itu dengan tenang. Sama sekali tak ada rasa takut ataupun tegang.
Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Libra pamit pulang karena tak mau mengganggu waktu istirahat Sarah.
“Lo berani kan di rumah sama Ava doang?” tanya Libra ketika dia memegang gagang pintu dan hendak keluar. Dia melempar tatapan menyelidik ke arah Sarah.
“Berani, gue gak sepenakut itu kali,” balas Sarah dengan percaya diri. Sebenarnya dia sedikit takut, tapi dia tak mungkin meminta Libra menginap di rumahnya. Dia takut ada tetangganya yang tahu dan akhirnya menjadi bahan gosip. Jadi lebih baik dia menahan rasa takutnya daripada harus menjadi bahan gosip tetangga sekitar.
“Ya udah, gue pulang dulu ya,” ujar Libra yang di sambut anggukan oleh Sarah. Dia berjalan ke mobilnya, menyalakan mesin dan melesat pergi. Sepanjang jalan dia masih mengkhawatirkan Sarah.
Sementara Sarah buru-buru mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar. Untuk menghindari rasa takut, dia memilih untuk membaca novel. Dia membaca novel milik Sandra Brown yang berjudul Biarkan Aku Mencintaimu. Mungkin novel dewasa bisa membuatnya lupa karena hantu. Ya, dengan membaca novel itu, rasa takut memang hilang namun pikiran Sarah jadi kemana-mana.
Dia membaca novel hingga larut malam, sampai akhirnya dia ketiduran dengan novel yang masih di pegangnya. Malam ini dia bisa menghindari rasa takut.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️