WHISPER

WHISPER
Makan Malam Menyenangkan



“Lo suaminya Isabela kan?” tanya Sarah lirih. Rasa takut mendadak menyelimutinya ketika melihat pria bertato yang kini berdiri di hadapannya. Matanya berkilat-kilat ketika menatap ke arah Isabela.


Sarah menatap Isabela sejenak, lalu kembali menatap lelaki bertato di depannya. Tiba-tiba dia memiliki firasat buruk. Mungkinkah akan terjadi sesuatu kepada Isabela? Atau justru pada dirinya?


“Dasar ******! Tempatmu bukan di sini! Tapi di neraka sana!” seru laki-laki itu seraya berjalan ke arah Isabela.


“Tunggu,” sergah Sarah. Meskipun tubuhnya gemetar, tapi dia memberanikan diri untuk mencegah lelaki bertato itu untuk tidak mendekati Isabela.


Tatapan lelaki bertato itu beralih ke arah Sarah. Tatapannya setajam silet, membuat Sarah bertambah takut.


“Ck, jangan ikut campur! Ini urusan gue sama Isabela!”


Laki-laki itu melanjutkan langkahnya menuju Isabela. Dengan sangat cepat, dia mencabut semua peralatan medis yang terhubung dengan Isabela.


“JANGAN!” teriak Sarah seraya berlari untuk melindungi Isabela. Dia memegangi tangan lelaki bertato itu sambil memukul-mukul dadanya.


“Dasar gadis kecil cecunguk! Minggir!” lelaki itu berontak. Dia mendorong Sarah hingga Sarah terpental, tubuhnya menghantam tembok dengan cukup keras.


Napas Sarah memburu, emosinya memuncak ketika melihat kondisi Isabela yang semakin memburuk gara-gara lelaki bertato itu.


“Dasar bajingan!” Sarah meraih vas yang ada di atas bedside. Dengan sekuat tenaga dia melemparnya ke arah kepala lelaki itu.


Prang!!!


Suara pecahan keramik vas bunga terdengar begitu nyaring, pecahannya berhamburan di lantai, lalu darah mengucur dari belakang kepala lelaki itu.


“****!” umpat lelaki itu sambil memegangi kepalanya. Karena tak terima, lelaki itu memungut pecahan vas, lalu melangkah maju dan menyerang Sarah dengan brutal. Serangan pertama bisa dihindari oleh Sarah , namun serangan kedua dia terlambat menghindar sehingga lengannya tergores pecahan vas.


“Aww,” pekik Sarah seraya memegangi lengan bagian atasnya. Rasa ngilu mendadak menyerangnya, dia sampai meringis kesakitan.


“SARAH!” panggil Libra keras. Dia berada di ambang pintu, lalu masuk dan menerjang lelaki bertato itu. Antara Libra dan lelaki bertato itu terlibat perkelahian. Tak berapa lama ada polisi yang datang dan menodongkan pistol ke arah lelaki bertato itu. Di belakangnya menyusul dokter dan perawat yang segera menangani Isabela.


Dalam waktu singkat, lelaki bertato itu sudah di ringkus polisi dan di bawa ke kantor polisi untuk di mintai pertanggung jawaban atas apa yang dia lakukan.


Libra menuntun Sarah dan meminta seorang perawat agar mengobati luka Sarah. Setelah selesai, dia membawa Sarah ke kantin untuk makan bersama.


“Makasih, ya. Gue gak tau apa yang terjadi kalo lo gak dateng,” ujar Sarah dengan tulus. Dia meminum teh hangatnya, lalu menatap Libra dengan tatapan bingung.


“Ib, Ava kemana?” tanya Sarah panik.


“Tenang aja, Ava sama temen gue di apartemen. Setelah lo bilang mau jagain Isabela, perasaan gue langsung gak enak. Gue mikir pasti ada apa-apa, makanya gue nitip Ava ke temen, terus gue langsung ke sini,” jelas Libra.


“Terus kok ada polisi?”


“Waktu gue di parkiran, gue liat si cowo bertato itu. Makanya gue langsung telepon polisi.”


Sarah mengangguk-angguk mengerti, “Emang Ava mau sama temen lo?” tanya Sarah. Dia tahu jika Ava tak mudah akrab dengan orang asing, makanya dia heran kenapa Ava mau di tinggal dengan teman Libra.


Libra hanya tersenyum penuh arti, dia tak menjawab, tapi justru mengajak Sarah pulang.


***


Sarah melongo melihat ruang tamu dan ruang TV begitu berantakan. Tak hanya itu, dia juga melihat teman-teman Libra yang wajahnya sangat berantakan. Ternyata ada empat orang yang menjaga Ava, dan sekarang semuanya kacau.


“A..Ava, kamu apain mereka?” tanya Sarah kepada Ava yang kini sedang sibuk mencoret-coret buku tulis.


“Ka..kalian gak apa-apa?” tanya Sarah panik.


“Santai aja, ini gak ada apa-apanya kok,” jawab seorang cowok yang berambut gondrong dan bertubuh kurus. Wajah mereka di penuhi dengan coretan lipstik dan bedak yang tak merata. Di kelopak mata mereka juga ada eyeshadow yang warnanya sangat mencolok.


“Iya, santai aja. Gue cuma ngajarin makeup sedikit kok,” seroang cewe bertubuh gemuk dengan wajah imut ikut menimpali. Mereka semua tertawa melihat wajah satu sama lain.


Sarah meminta maaf kepada keempat teman Libra, namun kahirnya dia ikut tertawa. Kelakuan anaknya benar-benar di luar dugaan. Ruangan itu penuh dengan mainan Ava yang berserakan, lalu wajah keempat teman Libra penuh dengan coretan makeup.


Setelah memberesi mainan Ava, Sarah bersiap memasak. Namun sebelum memasak, dia berkenalan dengan teman-teman Libra.


“Maaf ya, gara-gara Ava kalian gini. Oh, ya, gue Sarah, sahabat Libra,” ujarnya dengan sopan.


“Gue Davian,” ujar si cowok berambut gondrong dan bertubuh kurus.


“Gue Vivi,” kata cewe yang bertubuh gemuk namun imut.


“Gue Sabrina.” Seorang cewek yang terlihat begitu cantik menyunggingkan senyum ke arah Sarah. Dia memiliki lesung pipi yang menawan, hidungnya mancung, dan bibirnya berbentuk love. Benar-benar cantik.


“Kalo ini Arga, cowo yang dinginnya ngalahin kulkas,” celetuk Libra sambil menunjuk Arga. Sedangkan Arga hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis.


“Jangankan kulkas, kutub aja kalah,” ledek Davian sambil terkekeh.


Arga hanya tersenyum miring, lalu kembali diam. Setelah itu Sarah pamit ke dapur dan akan memasak. Sabrina mengajukan diri untuk membantu, sedangkan Vivi memilih untuk menemani Ava. sedangkan ketiga cowo itu keluar sebentar untuk merokok.


“Lo udah lama di sini?” tanya Sabrina seraya memotong bawang


“Belum si, gue lagi cari-cari tempat tinggal gitu.”


“Ck, kalo anak-anak kampus tau lo tinggal sama Libra, pasti bakal heboh. Mereka bakal ngomongin lo, padahal mereka cuma iri.”


“Kok gitu?” tanya Sarah tak mengerti.


“Iya, Libra tuh idola cewe di kampus. Gue aja yang jadi temennya pernah kena imbas.”


Sarah semakin tertarik mendengar cerita Sabrina. Dia ingin tahu ada hal menarik apa yang di sebabkan oleh sahabatnya itu.


“Lo tau Victoria gak? Pacarnya Libra,” tanya Sabrina sambil meraih cabai dan mengirisnya.


“Iya, tau. Libra pernah cerita dan pernah nunjukin fotonya.”


“Gue pernah di caci maki sama Victoria gara-gara Libra nganterin gue pulang. Gila tuh, cewe. Cemburuan banget!” seru Sabrina dengan nada sebal. Dia masih ingat sekali ketika Victoria mendatangi dirinya di kantin lalu marah-marah. Untung saja Libra datang menenangkan Victoria.


“Hahaha, apes banget lo,” ujar Sarah yang tak bisa menahan tawa. Kemudian mereka berdua bercerita tentang nasib masing-masing selama menjadi teman Libra. Mereka berdua memasak sambil terus mengobrol dan bercanda. Hingga tanpa sadar makan malam sudah siap sedia di atas meja. Sabrina segera memanggil teman-temannya yang lain untuk makan.


Malam ini menjadi makan malam paling menyenangkan bagi Sarah. Dia bisa berkumpul dengan teman-teman Libra yang semuanya sangat menyenangkan. Lagi-lagi dia bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang baik.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍