WHISPER

WHISPER
Kekuatan Cinta



“Lo gak pernah suka sama gue?”


Sarah menunduk dalam-dalam. Selama ini, dia tak pernah menyukai Libra sama sekali. Dia sendiri heran kenapa perasaan itu tak tumbuh dihatinya.


Dengan ragu, Sarah mengangkat kepala dan menatap kegelapan. Kemudian tatapan itu baralih pada Libra. Lidahnya begitu kelu, sehingga hanya gelengan kepala yang mampu dia tunjukan kepada Libra.


Libra tampak menghela napas kasar. Detik ini juga, dia merasa telah ditolak oleh Sarah. Tapi dia tak menyerah begitu saja. Dia akan memperjuangkan cintanya.


“Gue gak mikirin soal cinta dulu, ada karir yang harus gue perjuangin,” ujar Sarah kemudian. Namun, karir bukan satu-satunya alasan, dia masih memiliki alasan lain. Pintu hatinya telah terketuk oleh kehadiran William, tapi sayang, ternyata itu hanya ketukan iseng saja.


“Karir? Apa cuma karir yang bisa bikin lo bahagia?”


“Karir dan Pendidikan, itu adalah dua hal yang gue punya sekarang. Selain itu, apa yang harus gue perjuangin?” tanya Sarah dengan nada sedikit ketus.


“Lo yakin hanya itu?” tanya Libra tak percaya. Dia yakin jika sahabatnya itu sudah jatuh hati pada dosennya. Tapi Sarah tak mau mengakuinya. Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa William sudah memiliki anak dan istri.


“Ya.”


Libra menoleh ke arah Sarah, lalu mendekatkan tubuhnya sampai lengan mereka menempel satu sama lain. Perasaannya mendadak campur aduk. Darahnya berdesir tak karuan.


Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Benar-benar sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Kalaupun gue ada rasa suka sama lo, rasanya gue gak pantes buat lo,” lirih Sarah. Dia menelan ludah dengan susah payah. Mengingat statusnya yang menjadi janda, membuat dia merasa tak pantas jika bersama Libra.


Libra menghadap ke arah Sarah, lalu mencengkram bahu Sarah agar menghadap ke arahnya. Tatapannya begitu teduh, hingga membuat Sarah tenang.


“Lo salah. Kita justru bisa jadi pasangan yang sangat serasi.”


“Ibra! Gue janda anak satu! apa yang diharapkan dari gue? Semua orang memandang rendah ke arah gue!” seru Sarah sambil mengeleng. Dia benar-benar tak bisa bersama Libra. Dia yakin jika Mirna akan menentang hubungan mereka.


“Sarah! gue gak peduli sama masa lalu lo! Apapun dan siapapun lo dimasa lalu, gue gak peduli!”


“Ini bukan tentang masa lalu, tapi masa depan!” tambah Libra sambil mencengkram bahu Sarah dengan kuat. Dia ingin meyakinkan Sarah bahwa keduanya bisa bersatu. Tak peduli status sosial ataupun Pendidikan.


“Tapi orang lain peduli dengan status gue! Apa kata orang tua lo nanti? Temen-temen lo-”


Tangan Libra beralih ke pipi Sarah. Dia menangkup pipi Sarah dan menatapnya lebih dalam.


“Jangan peduli sama orang lain. Kalo lo terus-menerus peduli sama orang lain, lo gak akan bahagia!”


“Kalo gak peduli sama omongan orang lain? Terus gue harus peduli sama siapa?”


“Sama diri lo sendiri! Please, balas cinta gue,” kata Libra dengan nada memohon. Baru kali ini dia memohon-mohon seperti itu di depan wanita. Dia rela menjatuhkan harga dirnya di depan Sarah. Karena baginya, Sarah memang pantas untuk di perjuangkan.


Sarah menggeleng, lalu menepis tangan Libra. “Gue gak bisa.”


Libra menghembuskan napas berat. Rasanya begitu sesak mendengar jawaban Sarah. Tapi disisi lain, dia tak mau memaksa Sarah untuk balas mencintainya.


“Udah malem, kita pulang,” ajak Libra seraya kembali berjalan ke mobil.


***


Sarah berjalan ke dalam kelas dengan perasaan tak karuan. Dia memikirkan semua perkataan Libra semalam. Dia sendiri bingung harus bagaimana menghadapi Libra.


“Ehm.” Tiba-tiba ada seorang wanita yang berdehem di belakang Sarah. Suara deheman itu begitu familiar di telinga Sarah.


“Lo udah gak sama Libra lagi ya?” tanya Victoria dengan nada sinis.


“Maksudnya?” tanya Sarah tak mengerti.


“Ck, gak usah pura-pura gak tau! Libra balik lagi sama gue, pasti lo udah di buang sama Libra,” kata Victoria dengan senyum penuh kemenangan. Setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan Sarah yang masih belum bisa mencerna kalimat Victoria.


“Ibra, Ibra balikan sama Victoria? Kok bisa?” batin Sarah. Namun, dibalik rasa herannya, ada sesuatu yang terasa sakit. “Balikan?” tanya Sarah. Hatinya mendadak menjadi sakit mendengar kata itu.


Sarah menyentuh dadanya, rasa sakit itu terus menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.


“Gak,” kata Sarah sambil menggeleng. “Kok gue gak rela kalo Libra balikan sama Victoria?” batin Sarah dengan perasaan yang mulai campur aduk. Matanya mulai memanas, menahan genangan air mata yang sudah menumpuk di pelupuknya.


Sarah benar-benar bingung dengan dirinya. Baru saja semalam dia menolak Libra, tapi kenapa sekarang justru seperti ini? Dia justru menangis karena tak mau kehilangan Libra.


Apa hati semudah itu untuk berubah?


Ya! dalam waktu semalam saja Sarah bisa berubah. Kini dia sadar jika dirinya memang mencintai Libra. Bukan mencintai sebagai sosok sahabat, melainkan kekasih.


Sarah bergegas ke parkiran, lalu tancap gas menuju apartemen Libra. Dia tak peduli pada kuliah hari ini. Dia hanya peduli pada perasaannya. Meskipun hubungannya dengan Libra tak akan berhasil, tapi setidaknya dia telah berusaha untuk mencoba.


Sarah mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera bertemu dengan Libra.


Sesampainya di apartemen Libra, dia langsung mengetik password dan membuka pintu.


“Ib, Ibra,” panggil Sarah dengan nada keras.


Libra yang sedang menggambar untuk komiknya sontak menoleh ke arah Sarah. Dia heran kenapa pagi-pagi seperti ini Sarah datang ke apartemannya.


“Sarah, ada apa?” tanya Libra seraya beranjak berdiri. Dia menatap Sarah dengan raut wajah cemas.


Tanpa mengucapkan apa-apa, Sarah langsung memeluk Libra dengan erat. Tangisnya seketika pecah. Dengan susah payah dia menahan tangisnya agar tak menjadi-jadi.


Libra bertambah panik, pikirannya sudah tak karuan. Dia takut terjadi sesuatu dengan Sarah. “Sarah, ada apa?” tanya Libra seraya melepas pelukan Sarah. Dia menatap Sarah meminta pejelasan.


“Lo balikan sama Victoria?” tanya Sarah dengan air mata yang memabasahi pipinya.


“Lo cinta sama gue kan? Tapi kenapa lo mau balikan sama Victoria? Lo udah-”


“Husttt,” Libra meletakkan jari telunjukknya di depan hidung dan mulut Sarah. Dia tersenyum bahagia. Ternyata rencananya berjalan dengan sangat mulus. Dia harus berterimakasih kepada Victoria.


“Emang kenapa kalo gue balikan sama Victoria?”


“Ib, hati gue sakit banget setelah tahu kalo lo balikan sama Victoria. Jangan balikan ya, gue cinta sama lo,” kata Sarah sesenggukan.


Libra semakin terseyum lebar. Dia menarik Sarah ke dalam pelukannya, lalu berbisik.


“Gue gak balikan sama dia. Gue cuma cinta sama lo dan selamanya akan begitu.”


Sarah menghembuskan napas lega. Dia benar-benar bersyukur karea Libra ternyata memilihnya di bandingkan dengan Victoria. Kini dia sudah tak peduli lagi apa kata orang-orang yang di sekitarnya. Bahkan dia juga tak peduli dengan penolakan Mirna. Yang Sarah tahu sekarang adalah, dia akan beruang bersama dengan Libra.


Apapun masalahnya, apapun rintangannya, dia akan berjuang bersama Libra. Dia percaya bahwa kekuatan cinta itu ada.