
Tuduhan-tuduhan miring terhadap Sarah semakin panas. Bahkan dia sering kali mendapatkan tatapan sinis setiap kali keluar rumah. Rasanya seperti di neraka ketika ucapan dan tatapan beradu menjadi sesuatu yang begitu tajam.
Setiap hari dia membawa Ava ke kantor. Namun semuanya tak mudah. Ava beberapa kali rewel dan minta pulang, terkadang dia berbuat nakal seperti merobek dokumen atau mengotorinya. Lama kelamaan rekan kerjanya ada yang merasa tak nyaman dengan keberadaan Ava. Hal itu semakin membuat Sarah bingung.
Lelah, itulah yang Sarah rasakan sekarang. Dia butuh seseorang, seseorang untuk berbagi, seseorang yang bisa menjadi sandaran ketika ia lemah. Terkadang ia merasa iri dengan wanita-wanita lain yang memang di perlakukan dengan sangat baik oleh pasangannya. Kapan dia akan merasakan seperti itu?
Dia ingin menikmati dinner romantis bersama pasangan. Dia ingin di peluk setiap kali merasa lelah. Dia ingin di dengarkan ketika ada keluh kesah. Dia ingin di sayang, dicintai, dan di perlakukan seperti ratu. Tapi apakah mungkin?
Sarah sedang menatap laptopnya dengan tatapan kosong, sementara Ava sedang tertidur di sofa. Semua rekan kerjanya sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sering kali Sarah di ajak untuk karaoke, makan-makan, bahkan hangout oleh rekan kerjanya. Tapi, dia selalu menolak. Ava menjadi satu-satunya alasan dia tak bisa pergi. Tapi hati kecilnya selalu berteriak ingin ikut serta bersenang-senang bersama teman-temannya.
“Sarah, nanti kita mau karoke. Lo gak bisa ikut lagi?” tanya Melati, rekan kerjanya yang kini semakin akrab dengannya.
Sarah menggeleng lemas. Dia tidak bisa bersenang-senang lagi karena sudah memiliki buah hati. Apalagi dirinya single parent, tak memiliki sanak saudara yang bisa di titipi Ava. menyewa babysitter? Tidak. Sarah tidak tega meninggalkan Ava hanya dengan babysitter saja.
Melati menghela napas kecewa. Tapi dia memaklumi karena Sarah harus menjaga Ava. Tidak mungkin juga ke tempat karaoke mengajak anak balita.
“Apa gue nurut Ibra aja ya?” batin Sarah. Sudah tiga hari ini dia tak berbicara dengan Libra. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah pendapatannya di gazebo waktu itu. Libra pun tak datang ke rumahnya, dan itu membuat Sarah seperti merasa kehilangan. Ya, kehilangan sosok sahabat.
Lama Sarah termenung, menopang dagu sambil menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Persis seperti orang yang sedang putus asa.
“Nih, kopi,” Melati meletakkan secangkir kopi di atas meja Sarah.
Sarah menoleh dan mengucapkan terimakasih. Setidaknya kopi mampu membuat semangatnya bangkit. Dia menghirup aroma kopi dalam-dalam, merekamnya dalam memori dan menyimpannya di sana. Setelah meniup beberapa saat, dia menyesapnya perlahan. Bunyi ‘ah’ terdengar dari mulut Sarah setelah meneguk kopi hangatnya.
***
Arzan tampil mempesona dengan kaos berwarna hitam di padukan dengan celana chino warna senada. Dia juga melengkapinya dengan topi berwarna putih. Penampilan yang begitu sederhana tapi sukses membuat jantung Sarah tak aman.
Arzan sedang memperhatikan Ava yang sedang makan es krim. Beberapa kali mulut Ava belepotan dan Arzan membersihkannya dengan jari-jemarinya. Tatapan matanya begitu lembut, yang lagi-lagi membuat Sarah terpesona.
“Sadar, Sarah,” batin Sarah kesal. Ia kesal karena selalu seperti orang tolol jika berhadapan dengan Arzan.
“Gimana kerjaan lo?” tanya Arzan sambil menoleh ke arah Sarah.
Sarah yang sedang memandangi Arzan seperti orang tolol langsung mengalihkan pandangan. Dia terlihat sedikit gugup, namun berhasil menyembunyikan rasa gugupnya.
“Baik-baik aja,” jawab Sarah singkat.
“Gue udah kirim uang ke rekening lo. Meskipun kita udah gak bareng lagi, tapi gue masih berkewajiban menafkahi Ava dan-,” Arzan menghentikan kalimatnya, dia terlihat sedikit ragu.
“Dan lo,” ujar Arzan kemudian.
“Gue?” tanya Sarah spontan. “Gue bisa cari uang sendiri, gaji gue juga lumayan. Lo gak usah susah-susah menafkahi gue,” tambahnya dengan nada yang di buat tegas. Dia tak mau terlihat lemah di depan Arzan. Dia ingin menunjukan kemampuannya, kekuatannya di depan Arzan.
Arzan tersenyum tipis, “Gue ikhlas, karena lo Bundanya Ava,” ujarnya sambil membelai pipi Ava yang ada di sampingnya.
Sarah mengalihkan pandangannya, menatap keluar jendela. Dia kembali gelisah. Ingin rasanya dia menampar Arzan dan meneriaki namanya. Bisa-bisanya Arzan selalu bersikap santai dengan ucapan-ucapan manisnya.
“Gue jadi ingat waktu lo hamil, dulu lo juga suka makan es krim,” kata Arzan lagi sambil tertawa kecil. Ingatannya mundur ke belakang, pada masa-masa kehamilan Sarah.
“Setiap gue pulang dari kantor, pasti lo minta di beliin es krim,” tambahnya. Setelah memutuskan untuk menikah, Arzan memilih bekerja di kantor ayahnya dan kelak akan menjadi penerusnya. Dengan kesuksesannya dalam membantu bisnis sang ayah, Arzan menjadi cukup di kenal banyak orang. Namun, di balik itu semua, dia hanyalah laki-laki yang suka main perempuan. Namun permainannya begitu rapi, sampai-sampai sulit untuk di ketahui.
“Itu masa lalu,” ucap Sarah ketus. Dia tak mau mengingat-ingat kejadian yang sudah berlalu, bahkan kejadian yang tak layak untuk di ingat-ingat kembali.
“Tapi indah.”
“Dan gue kangen itu,” sambung Arzan sambil mengusap sudut bibir Ava yang belepotan oleh es krim. Entah sadar atau tidak, tapi kalimat itu membuat darah Sarah berdesir.
“Sadar, Sarah!” batin Sarah lagi. Dia tidak mau terjebak dengan laki-laki yang sudah menghancurkan kepercayaannya. Baginya, Arzan hanyalah orang asing yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, dan kini kembali menjadi asing
Sarah bergeming, mendadak hawa di ruang tamu itu menjadi panas. Ingin rasanya dia menghilang saat ini juga.
“Lo gak kangen gue?” tanya Arzan yang kini sudah menghadap Sarah sepenuhnya. Tatapannya yang begitu lembut membuat Sarah seperti terhipnotis untuk balas menatap.
Untuk beberapa saat Sarah terdiam. Lalu setelah sadar dia langsung menggelengkan kepala sambil mengalihkan pandangan. Dia memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan. Benar-benar gelisah.
“Padahal gue berharap di kangenin balik,” kata Arzan dengan lirih. Ada nada merajuk di kalimatnya, namun Sarah berusaha untuk acuh.
Mereka mengobrol beberapa saat, sampai akhirnya Arzan berpamitan untuk pulang. Sebelum Arzan benar-benar pulang, Ava justru menangis karena tak mau di tinggal oleh Arzan. Hal itu membuat Sarah kalang kabut. Mana mungkin dia meminta mantan suaminya untuk menginap.
“Ava mau tidur sama Ayah, Bund,” rengek Ava sambil menangis.
“Ayah harus pergi kerja, sayang,” bujuk Sarah. Dia menggendong Ava dan terus membujuknya, namun usahanya gagal. Bahkan ketika Arzan yang menggendong dan membujuknya, Ava tetap menangis dan meminta tidur dengan dirinya.
“Sarah,” panggil Arzan.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍