
“Emang lo udah sempurna?”
“Kalo gue gak ngirim uang bulanan emang lo bisa hidup?” tanya Arzan. Kali ini terdengar sinis dan terkesan sombong.
Sarah memejamkan mata, kini hidupnya memang sedang di bawah, apalagi uangnya sudah terkuras habis karena membeli rumah. Tapi untuk kebutuhan sehari-hari, dia masih bisa memenuhinya sendiri.
“Gue bisa hidup tanpa uang lo! Mulai sekarang, lo gak usah kirim uang buat gue dan Ava.”
“Ck, hidup lo aja bergantung sama orang lain. Lo sempet numpang di apartemen Libra kan? Kenapa? Lo mau makan sahabat lo sendiri? Inget, lo cuma janda anak satu, gak mungkin Libra suka sama lo!” seru Arzan sambil memandang rendah ke arah Sarah. Dia mulai mengibarkan bendera peperangan antara dirinya dan Sarah.
Kekasih Arzan datang, lalu mendekati mereka. “Arzan, lo jangan keterlaluan sama Sarah,” ucapnya. Entahlah, mendengar ucapan Arzan seperti itu, dia merasa tak nyaman. Menurutnya, Arzan sudah keterlaluan.
“Lo gak tau dia! Sekarang dia jadi cewe gatel, parasit!” bentak Arzan dengan sambil menatap kekasihnya, lalu beralih ke arah Sarah.
“Bunda sama Ayah kenapa berantem?” tanya Ava terusik dengan rebut-ribut di dekatnya. Dia menatap Sarah dan Arzan bergantian, ekspresi wajahnya terlihat bingung.
Sarah menelan ludahnya dengan susah payah. Daripada menanggapi ucapan Arzan, dia memilih keluar ruangan dan mengurus kepulangan Ava. dia tak mau terlibat percekcokan di depan Ava. Namun ucapan Arzan sukses menorehkan luka baru.
Begitu menutup pintu, Sarah menyandarkan tubuhnya di dinding sambil menangis sesenggukan. Entah sudah berapa kali dia menangis seperti itu. Rasanya sangat sakit. Arzan melukainya berulang kali, membuat pertahanannya perlahan roboh.
Sarah tak memiliki sandaran, dia harus berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Dia sangat rindu dengan mendiang Naura. Setelah kepergian Naura, dia melalui semuanya sendiri. Rasanya memang berat, tapi dia harus bertahan demi Ava.
“Mah, Sarah gak kuat,” rintih Sarah sambil memegangi dadanya. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah. Namun sebelum benar-benar duduk di lantai, ada seseorang yang menarik dan memeluknya dengan erat.
Sarah tak menyadari siapa yang memeluknya. Tapi dia justru menumpahkan tangisnya di Pundak laki-laki itu. Dia tak peduli meskipun laki-laki di depannya orang asing sekalipun. Dia hanya ingin menangis dalam pelukan seseorang.
Lama mereka berpelukan, sampai akhirnya tangis Sarah reda. Setelah tangisnya cukup reda, indra penciumannya mengenali aroma wangi dari laki-laki yang masih di peluknya.
“Ibra,” lirih Sarah sambil melepas pelukannya.
Libra tersenyum sambil mengangguk. Tangannya terulur untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Sarah. Melihat Sarah menangis seperti itu, hatinya ikut perih.
“Lo kenapa di sini?” tanya Sarah heran. Suaranya tampak serak karena habis menangis.
“Em, Arga kebetulan ada keperluan di sini, jadi sekalian bareng,” ujar Libra berbohong. Dia tak mau mengakui bahwa dirinya khawatir dan langsung menyusul Sarah.
“Bentar, kayaknya lo sakit deh,” kata Sarah sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Libra. Dia merasakan suhu badan Libra yang lebih tinggi dari biasanya.
“Enggak kok, gue sehat-sehat aja,” elak Libra.
Sarah menggeleng, dia bisa melihat wajah Libra yang lebih pucat dari biasanya. Dia bisa merasakan perubahan pada Libra, meskipun sedikit. Dia sangat yakin jika Libra sedang tidak sehat.
“Gak, gue tau lo sakit! Kenapa lo di sini? Harusnya lo banyak-banyak istirahat,” kesal Sarah. Namun nadanya menyiratkan bahwa dia khawatir kepada Libra.
“Ck, gak usah lebay deh! Gue baik-baik aja!” lagi-lagi Libra tak mengakui perihal dirinya sakit. Meskipun sudah minum obat, namun tubuhnya belum pulih. Dia masih butuh satu atau dua hari untuk istirahat
Sarah mendengus sebal, tidak mungkin dugaannya salah. Namun dia tak mau memperpanjang perdebatannya. Dia ingat jika hari ini harus membawa Ava pulang.
***
Sarah, Libra, Isabela, Arga dan Ava sedang makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel. Meskipun Ava baru saja keluar dari rumah sakit, tapi kini sudah sehat seperti sedia kala. Bahkan riang seperti biasanya.
Ava menginap di rumah sakit sudah empat hari. Harusnya, kemarin dia sudah boleh pulang. Tapi Arzan tak memperbolehkannya. Entah karena apa, tapi dia menahan Ava lebih lama di rumah sakit, padahal Ava sudah sembuh.
Kini Sarah jadi semakin benci kepada Arzan. Sikapnya semakin tak masuk akal. Melalui kekasih Arzan, Sarah jadi tahu jika Ava ingin pulang dan menemuinya. Tapi Arzan selalu melarangnya. Mungkin penyebab Ava sakit juga karena merindukan dirinya.
“Ga, lo ada urusan apa di sini?” tanya Sarah setelah semuanya selesai makan.
“Urusan?” tanya Arga tak mengerti. Dia menatap Libra dengan bingung, tapi sebenarnya dia sedang meminta jawaban.
Libra mengangguk sekilas, anggukan yang tak bisa di lihat oleh Sarah.
“Temen gue ada yang nikah,” jawab Arga asal. Dia tak bisa memikirkan alasan lain, hanya itu yang ada di otaknya. Apalagi fokusnya sedang tidak bagus. Ya, sejak bertemu Isabela, dia jadi memperhatikan gerak-gerik Isabela. Dia menyukai Isabela melalui pandangan pertama. Mungkin itu terdengar gila, tapi dia sendiri tak bisa mengatur perasaannya sendiri.
“Nikah? lo mau kondangan kapan? Mau gue temenin?” tawar Isabela. Tawaran itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Arga sedikit gugup, namun dia berhasil menyembunyikan kegugupannya. “Gue udah ke sana, kemarin.”
Isabela sedikit kecewa dengan jawaban Arga. Namun dia tetap tersenyum dan mengangguk. Perbincangan mereka berlanjut hingga satu jam kemudian. Sebelum berpisah, Sarah mengatakan bahwa dia akan pulang sekarang juga membawa Ava.
“Kalo gitu bareng aja. kita berdua yang bawa mobil,” kata Libra seraya menunjuk dirinya dan Arga.
“Lo sama gue, Isabela sama Arga. Gimana?” imbuhnya.
Arga sedikit terkejut, dia menoleh ke arah Libra dan hendak protes. Namun sebelum protes, Isabela sudah menyetujui tawaran Libra. Bahkan dia menerimanya dengan senang hati.
“Om Ibra kemana aja sih? Lama gak nemuin Ava,” ujar Ava saat mereka bertiga berada di mobil menuju hotel.
Libra sengaja langsung menuju hotel Sarah dan meminta agar tas miliknya di bawa oleh Arga. Sedangkan semua barang-barang Isabela akan di bawa oleh Sarah.
“Om Ibra sibuk kuliah sayang, maaf ya,” sahut Libra. Dia menyetir dengan tenang, Namun kepalanya mulai terasa berat, tapi dia tak menunjukkan kepada Sarah.
Setelah sampai di hotel, Sarah segera berkemas. Butuh setengah jam untuk mengemasi barang miliknya dan milik Isabela.
“Ib, gue yang bawa mobil, lo istirahat aja,” kata Sarah ketika mereka berdua berada di parkiran.
“Gah usah, gue-”
“Kalo lo sakit, siapa yang bakal jagain gue?” potong Sarah yang membuat Libra menurut. Ketika mobil sudah melaju, Sarah menyempatkan diri untuk mampir ke apotek. Dia membeli obat untuk Libra dan memaksanya agar minum obat tersebut.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️