
Sarah menatap deretan novel best seller di depannya. Dia sangat berharap suatu hari nanti novelnya akan di pajang di sana. Dia akan berusaha maksimal agar mimpinya itu terwujud.
Hari ini Sarah sengaja pergi ke Gramedia karena akan membeli buku-buku latihan soal untuk tes masuk universitas. Dia tak akan menyia-nyiakan waktu begitu saja. Mulai hari ini dia akan menata masa depannya.
Sarah meraih sebuah novel, lalu membaca blurb yang ada di sampul belakang. Dia tersenyum membaca blurb itu, ternyata kisah cinta anak SMA. Dia jadi ingat dengan kisah cintanya dengan Arzan dulu.
Manis di awal dan pahit di akhir. Begitulah cinta. Cinta akan tumbuh dengan baik jika pasangan tersebut menyirami dan memupuknya dengan baik pula. Cinta bukan hanya soal menerima, tapi juga memberi.
Tapi yang Sarah rasakan, dia hanya memberi saja tanpa menerima. Dia memberikan segalanya untuk Arzan, tapi Arzan justru menyia-nyiakan.
Pengalaman cintanya dahulu membuatnya trauma, tapi di sisi lain dia juga membutuhkan pasangan. Umur yang masih muda membuatnya rindu akan asmara.
“Kenapa gak ngajak gue?” suara yang sangat di kenali Sarah terdengar jelas di samping telinganya. Tanpa menoleh pun Sarah sudah tahu jika itu sahabatnya.
“Bukannya lo kuliah? Kenapa ada di sini?” tanya Sarah seraya meletakkan kembali novel yang di pegangnya tadi.
“Udah selesai.”
Sarah menoleh ke arah Libra, memasang wajah serius. “Ib, lo bentar lagi lulus kan? Menurut lo, kuliah itu capek gak?”
Libra tampak melihat-lihat sampul novel yang ada di depannya, lalu menjawab, “Tergantung.”
“Tergantung apa?” tanya Sarah tak mengerti. Dia masih menatap Libra dengan seksama. Wajah tampan Libra begitu mempesona, membuat Sarah ingin menyentuh wajah itu. Tapi dia sadar, keinginan itu hanyalah keinginan sementara. Dia tak memiliki perasaan apapun kepada Libra.
“Kalo kuliahnya setengah hati, ya pasti capek. Tapi kalo tulus dengan niat yang baik, gue pastiin kuliah itu menyenangkan.”
“Em, menurut lo, gue masih cocok buat kuliah gak?”
Kali ini Libra menoleh ke arah Sarah. Membiarkan matanya bertemu dengan mata Sarah untuk beberapa saat. Dia suka menatap Sarah. “Gak cocok,” jawabnya mantap.
“Kenapa?”
Libra mengalihkan pandangannya, dia tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab, “Lo terlalu cantik, nanti banyak berondong yang naksir sama lo.”
“Gak apa-apa dong, bagus malah. Gue jadi punya pacar,” sahut Sarah enteng membuat Libra seketika menoyor kepalanya. Tak terima dengan perlakuan Libra, Sarah pun membalas. Alhasil mereka terlibat keributan kecil, sampai akhirnya Sarah memilih menyudahi keributannya dan menarik Libra mencari buku yang akan di belinya.
Di saat Sarah sedang sendiri atau merasa kesepian, Libra selalu datang menemaninya. Seolah, Libra di ciptakan untuk menemani Sarah dalam keadaan apapun.
***
“Oh, jadi ini selingkuhan lo!” sebuah suara mengagetkan Sarah dan Libra. Mereka sontak menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Victoria sedang berdiri dengan wajah masam tak jauh dari mereka. Tatapan matanya tajam dan mengintimidasi. Dia meneliti Sarah dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Libra mendengus kesal. Lama-lama Victoria begitu menyebalkan. Dia hendak berdiri dan menyeret Victoria agar menjauh. Namun sebelum itu terjadi, Victoria kembali berujar.
“Ternyata selera lo rendahan ya. Kalo mau selingkuh setidaknya sama cewe yang lebih cantik dari gue,” ujarnya dengan nada mengejek. Dia masih menatap Sarah dengan tampang merendahkan. Baru kali ini Sarah mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti itu. Di tatap rendah oleh sesama wanita ternyata menyakitkan.
“Gue gak ngomong sama lo, gue juga gak butuh penjelasan dari lo!” potong Victoria. Sorot matanya menampakan kebencian. Hanya melihatnya dari jarak beberapa meter, Sarah bisa merasakan kebencian itu.
“Kita bicara di luar,” ajak Libra. Dia enggan menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Untung saja dia sudah selesai makan beberapa menit yang lalu, jika belum, pasti dia sudah tak berselera untuk melanjutkan makan.
“Jawab gue! Ini selingkuhan lo?” tanya Victoria dengan nada cukup keras. Hal itu memancing perhatian beberapa orang. Mereka penasaran dengan keributan yang Victoria ciptakan.
“Sarah,lo tunggu di sini dulu. Gue mau ngomong sebentar sama Victoria,” ujar Libra seraya beranjak berdiri. Dia menarik tangan Victoria keluar kafe, tapi Victoria segera menepisnya. Dia justru kembali menatap Sarah dengan napas yang memburu.
“Dasar cewe gak tahu diri! Gue minta sama lo buat jauhin Libra!”
Sebelum Sarah menjawab, Libra sudah lebih dahulu menyahut.
“Jaga ucapan lo! Sarah bukan cewe gampangan! Dia sahabat baik gue!”
Kini victoria beralih menatap Libra, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Sahabat? Emangnya ada persahabatan antara cewe sama cowo? Semua itu omong kosong! Pasti di antara kalian ada yang suka!” tuduh Victoria. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Sarah dan Libra secara bergantian. Mata tajamnya berkilat-kilat oleh amarah. Rasanya ia ingin meledak saat ini juga.
Wajah Libra tampak frustasi, dia sudah tak tahan lagi dengan sikap Victoria. “Kita putus aja. Gue udah gak sanggup menjalin hubungan sama lo,” lirih Libra. wajahnya benar-benar menampakkan kelelahan dalam sebuah hubungan. Dia ingin terbebas.
“Apa? Putus? Jadi lo lebih memilih cewe murahan ini daripada gue?” tanya Victoria tak terima.
Sarah hanya bisa menjadi penonton. Dia tak di beri kesempatan untuk berbicara sedikit pun. Dia bisa melihat jelas bahwa hubungan Libra dan Victoria sudah retak dalam waktu yang cukup lama. Tapi baru sekarang Libra menyampaikan isi hatinya.
“Gue gak ada hubungan apa-apa sama Sarah! Perihal gue minta putus, juga gak ada hubungannya sama Sarah. Gue capek sama sikap lo yang selalu berlebihan!”
“Libra! Gimana gue gak cemburu kalo lo jalan sama cewe lain gini!” bentak Victoria dengan wajah yang sudah memerah.
“Gue gak jalan sa-” Sarah tak melanjutkan kalimatnya karena Libra memotongnya dengan cepat. Dia hanya meringis seperti orang bodoh melihat pertengkaran mereka.
“Emangnya lo gak pernah jalan sama cowo lain?”
“Gak pernah!”
Libra tampak memijit pelipisnya. Dia benar-benar pusing menghadapi Victoria. Ketika dia sedang bersama teman wanitanya, Victoria selalu menuduhnya selingkuh. Apa setelah memliki seorang pacar lantas tak boleh memiliki teman wanita?
“Dan untuk lo, ****** murahan yang bisanya ngrebut cowo orang, jauhi Libra!” seru Victoria membuat beberapa pengunjung lain semakin menarik menonton pertengkaran itu.
Ucapan Victoria sukses membuat Sarah geram. Dia benar-benar merasa di rendahkan. Baru saja dia beranjak berdiri dan akan menanggapi ucapan Victoria, Libra sudah menarik Victoria dan membawanya keluar.
Beberapa kali Victoria berontak, tapi kekuatannya tidak ada apa-apanya di banding dengan Libra. Akhirnya dia pasrah di seret menjauhi Sarah.
“*****!” umpat Victoria geram.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️