WHISPER

WHISPER
Kehidupan Baru



Sarah menarik koper berwarna kuning menuju luar rumah. Di belakangnya ada Libra yang membawa satu koper lagi berwarna merah. Sementara Ava sedang sibuk memilih mainan apa saja yang akan di bawanya. Tak banyak yang di bawa oleh Sarah. Dia hanya membawa baju, perlengkapan pribadi, dan segala keperluan Ava. Semua perabotan di biarkan saja di rumah.


Setelah di pikir-pikir panjang, akhirnya Sarah memutuskan untuk pergi dan menata hidup yang baru. Dia ingin memulai dari nol bersama Ava. Dia berharap setelah ini hanya ada kebahagiaan yang menghampirinya.


“Kunci mobil lo mana?” tanya Libra kepada Sarah. Dia akan menyalakan mobil dan memanaskannya untuk beberapa saat.


“Di atas meja makan,” sahut Sarah seraya membantu Ava memilih mainan yang akan di bawanya. Tidak ada yang tahu tentang kepergiannya, karena memang dia tidak memberi tahu siapa-siapa.


Bahkan kepada Arzan pun dia tidak memberi tahu. Untuk saat ini dia tidak membiarkan Arzan sering menemui Ava. Meskipun tindakannya salah, tapi dia tidak ingin tersiksa dengan kehadiran Arzan di dekatnya.


“Udah semua kan? Yuk berangkat,” ajak Libra yang kini sedang berdiri di ambang pintu. Sarah mengangguk dan segera mengunci jendela dan pintu. Tak lupa juga dia mematikan listrik yang ada di rumahnya. Setelah di rasa cukup, dia menuntun Ava masuk ke dalam mobil.


Ava duduk di jok belakang, sementara dirinya duduk di samping kursi kemudi, dan Libra yang memegang kemudi. Jika tak bersama Sarah, biasanya Libra akan naik kereta untuk ke kembali ke kotanya.


Ada rasa berat di hati Sarah saat menoleh ke arah rumahnya. Itu adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya, tapi kini harus di tinggalkan. Tapi dia berniat akan sering datang ke rumah itu. Jika keadaan berubah, dia akan menjual rumah itu dan membeli rumah baru. Dia ingin melupakan segala kenangan pahit.


Mobil perlahan-lahan melaju meninggalkan rumah Sarah. Hampir saja Sarah menangis, tapi dia menahannya sekuat tenaga. Dia tak mau terlihat lemah hanya karena hal-hal sepele. Mobil terus melaju kencang di atas jalanan aspal, meninggalkan rumah Sarah dalam kehampaan.


“Untuk sementara lo tinggal di apartemen gue dulu, nanti kalo udah ada uang lo bisa cari tempat tinggal,” usul Libra.


Sarah ingin menolak kebaikan Libra. Tapi dia sendiri belum memiliki tempat tinggal, karena kepindahannya tergolong sangat mendadak. Meskipun dia memiliki uang dari peninggalan Naura, dan diapun memiliki tabungan, tapi untuk memilih rumah tak bisa secepat itu dan asal memilih.


“Iya. Makasih banget ya, maaf kalo selama ini gue ngrepotin lo terus-menerus. Tapi gue gak punya orang lain lagi, gue cuma punya lo sama Ava,” ujar Sarah sambil memandangi Libra yang sedang fokus menyetir.


Libra menoleh sekilas, lalu fokus ke jalanan lagi. “Gak apa-apa, kita udah lama sahabatan. Dan gue seneng kalo gue bisa bantu lo,” kata Libra tulus.


Sarah tersenyum getir. Entah apa jadinya jika Libra tak ada, mungkin hidupnya akan lebih sulit. Dia sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik Libra. dia berjanji tidak akan menyia-nyiakannya.


Mobil melewati jalan tol yang bebas hambatan. Ternyata berkendara melewati jalan tol sangat membosankan, tidak ada pemandangan apapun yang menarik mata. Untuk mengusir rasa bosan itu, Libra mengajak Sarah mengobrol banyak hal.


Mulai dari isu-isu hangat, tempat-tempat yang bagus untuk di kunjungi, sampai rencana Libra untuk kedepannya.


“Ib, bukannya lo dulu suka gambar ya? Sekarang masih gak?”


Libra mengangguk, “Bahkan gue mulai bikin karakter-karakter gitu.”


Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di kepala Sarah. Dia tersenyum lebar dan menoleh ke arah Libra dengan tatapan penuh arti.


“Ib, gimana kalo kita bikin komik. Lo yang gambar dan gue yang bikin cerita?” tawar Sarah.


Libra merasa tertarik dengan ide Sarah. Mereka berdua memang cocok bekerja sama karena satu sama lain saling melengkapi. Obrolan mereka berlanjut tentang rencana pembuatan komik. Mulai dari genre, nama tokoh, alur cerita, semuanya mereka bahas seolah tak ada habisnya.


Mereka beristirahat sekitar satu jam. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Sarah menawarkan diri untuk menyetir. Dia tak tega melihat Libra yang terus menerus membawa mobil dengan jarak tempuh yang cukup jauh.


“Gak usah. Gue aja. Lo cukup duduk manis di samping gue,” itulah jawaban Libra. Meskipun Sarah memaksa, tapi Libra tetap tidak mau di gantikan.


Akhirnya Sarah menyerah, dia memilih untuk duduk manis di samping Libra sambil sesekali mengobrol. Kali ini Ava tertidur nyenyak di belakang. Biasanya jika Ava tak tidur, dia sudah heboh membicarakan banyak hal.


“Ib, lo bisa bantu gue lagi gak?” tanya Sarah memecah keheningan.


“Apapun itu gue pasti bantu lo.”


“Bantu gue cari cowo ya, gue mau memulai kehidupan yang baru,” ujar Sarah enteng. Sebenarnya dia belum terlalu memikirkan hal itu, tapi tidak di pungkiri bahwa dia memang butuh pendamping.


Libra sedikit terkejut dengan permintaan Sarah. Tapi dia segera menyembunyikan keterkejutannya. Mau bagaimanapun Sarah tetap butuh pengganti Arzan. Tapi apakah secepat itu?


“Lo serius?” tanya Libra tak yakin. Dia takut jika itu hanya keinginan yang sementara bagi Sarah.


“Ya. Gue serius dan yakin.”


“Oke, gue bantu sebisa gue.” Jawab Libra. tapi dia tak sepenuhnya ingin membantu. Dia ragu apakah Sarah bisa menemukan seseorang dalam waktu singkat. Dia juga takut Sarah masih trauma dengan hubungan di masa lalunya.


“Lo mau cari yang gimana?”


Tanpa berpikir panjang Sarah langsung berucap, “Anak tunggal kaya raya.”


Libra menoleh dan menoyor kepala sahabatnya itu. Dia berbicara serius, tapi jawaban Sarah justru membuatnya geram.


“Serius! Lo mau cowo yang kaya apa?” ulang Libra sekali lagi.


Sarah terkekeh geli, kemudian memasang wajah serius. “Yang bisa nerima gue sama Ava.” Cukup sederhana sebenarnya, tapi mencari laki-laki yang bisa menerima Sarah sekaligus anaknya tidaklah mudah. Apalagi dia menjadi janda di usinya yang masih begitu muda.


“Oke, gue bantu cari. Lo beneran mau move on dari Arzan?”


“Hmm,” gumam Sarah tanpa menoleh.


Libra tampak tertawa mengejek, “Gimana caranya lo move on? Sedangkan Arzan tuh Ayahnya Ava? Lo liat Ava aja berasa liat Arzan.”


Sarah tampak menghela napas berat. Ucapan Libra memang ada benarnya. Meskipun tak bisa lepas dari Arzan, setidaknya dia bisa menghilangkan rasa cintanya kepada Arzan. Dia ingin mencari orang baru untuk mengisi hatinya.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍