
Cittt…
Suara ban mobil bergesekan dengan aspal berdecit cukup keras. Libra turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Dia berlari dan memukul kedua laki-laki asing itu dengan membabi buta. Tak ada ampun bagi laki-laki asing.
“Brengsek! Berani-beraninya kalian nyentuh dia!” bentak Libra dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Libra mengambil balok kayu yang ada di dekatnya, lalu mengayunkannya ke arah laki-laki bertubuh gempal yang menyentuh Sarah. Sebelum kayu itu mendarat mulus di tubuh si laki-laki gempal, Sarah berlari dan memeluk Libra dari belakang.
“Libra, udah,” bisik Sarah dengan suara bergetar. Jika tak di hentikan, bisa-bisa Libra membunuh dua orang asing itu.
Dengan tertatih-tatih, kedua laki-laki itu bangkit dan lari menyelamatkan diri. Mereka babak belur karena di hajar oleh Libra. Bahkan si laki-laki pendek berlari sambil terpincang-pincang.
Libra menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah cukup tenang, dia membalikkan badan dan memeluk Sarah dengan erat.
“Brengsek! Kenapa lo pake baju seksi gini, hah?” omel Libra yang masih memeluk Sarah dengan tenang. Dia mengelus punggung Sarah dengan sayang.
Sarah menghembuskan napas lega, pelukan Libra mampu membuatnya merasa lebih tenang.
“Kemaren Isabela bilang kalo dia mau ngajak ke lo ke pesta perayaan gitu, tapi dia gak bilang kalo pulangnya selarut ini.”
Libra melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Sarah dan menatapnya dalam.
“Heh, bego! Kalo di telepon tuh di angkat! Bikin panik aja! Sekali lagi lo gini, gue lempar lo ke kandang macan,” ancam Libra dengan wajah serius.
Sarah justru terkekeh geli. Kedua tangannya terulur untuk memeluk pinggang Libra. “Kok lo tau gue disini?”
“Ck, gue cari tahu tentang pesta itu di sosial media. Gue liat semua story para selebgram. Dan akhirnya gue tahu lokasi pesta itu.”
Sarah tersenyum senang, “Makasih, ya.”
Libra hanya berdecih sambil melempar tatapan tajam.
“Yuk, pulang. Tar lo masuk angin lagi pake baju kekurangan bahan gini,” ajak Libra sambil menggandeng tangan Sarah menuju mobil.
“Gue gak pake baju aja gak masuk angin,” timpal Sarah dengan tatapan menggoda.
Libra mendelik, lalu menoyor kepala Sarah membuat Sarah mencebikkan bibirnya.
“Masuk!” perintah Sarah sambil membukakn pintu untuk Sarah.
“Gue ikutin lo dari belakang,” tambahnya sambil menutup pintu. Dia bejalan ke mobilnya sendiri, lalu menyalakan mesinnya.
Libra terus mengawal Sarah hingga sampai rumah. Sepanjang jalan, kepalanya terus memikirkan Sarah. Mengingat laki-laki yang menyentuh Sarah tadi, dada Libra bergemuruh. Dia sangat marah, bahkan rasanya ingin membunuh laki-laki itu.
Dia yang menyukai Sarah sejak SMA saja tak berani menyentuh Sarah dengan lebih, tapi laki-laki itu justru menyentuhnya secara sembarangan.
***
Sarah menggeliat sambil menguap lebar. Matanya mengerjap-ngerjap karena silau oleh sinar matahari yang masuk melalui ventilasi jendela. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, benar-benar kosong.
Sayup-sayup telinga Sarah menangkap suara ribut dari bawah. Dia heran kenapa sepagi ini terdengar suara keributan. Padahal di rumah hanya ada dirinya dan Isabela. Lalu siapa yang sedang ribut?
Dengan langkah gontai Sarah berjalan menuju kamar mandi. Dia membasuh wajah dan gosok gigi, setelah itu barulah turun.
“Gila lo, ya! Harusnya lo bilang kalo pulang tengah malem!”
“Gue tadinya mau pulang, tapi temen gue ngajak minum dulu,” elak Isabela sambil menatap Libra sekilas.
Setelah mengantar Sarah dan Isabela pulang, Libra memilih untuk menginap. Dia sengaja menginap karena masih takut akan terjadi sesuatu dengan Sarah.
“Kalian kenapa brisik banget sih?” kesal Sarah sambil menuruni tangga. Ketika sampai di bawah, dia mencepol rambutnya dengan asal.
“Libra, nih. Marahin gue mulu,” ujar Isabela mengadu. Dia sedang duduk sambil menatap layar TV yang menayangkan gosip-gosip artis. Setelah semalam tidur, kini tubuhnya sudah kembali segar bugar. Berbeda dengan Libra yang terlihat masih lesu, dia justru baru tidur beberapa jam.
“Gue gak apa-apa, ngapain lo marah ke Isabela?” tanya Sarah yang kini menyusul Isabela. Dia duduk di samping Isabela, matanya fokus ke layar TV.
Libra menatap kedua wanita yang kini sedang menonton acara gosip. Dia berdecak sebal karena kehadirannya di abaikan.
“Pagi-pagi tuh beresin rumah, masak, nyuci baju gitu. Ini malah nonton gosip.”
“Lagi males,” jawab Sarah dan Isabela serempak. Mereka tetap asik dengan menonton gosip, bahkan sesekali mereka saling memberikan pendapat.
Libra meringis tak percaya. Kedua orang itu lama-lama memiliki banyak kemiripan. Daripada keberadaannya tak di anggap, Libra memilih untuk naik ke lantai atas. Dia akan kembali tidur.
“Sarah, emang kemaren ada kejadian apa? Kok Libra marah banget ke gue?” tanya Isabela setelah memastikan bahwa Libra sudah naik ke atas.
Sarah mengalihkan pandangannya dari layar TV ke arah Isabela. “Waktu pulang ke rumah, lo mau muntah gitu. Akhirnya gue berhenti di pinggir jalan.”
“Nah, waktu lo lagi muntah-muntah, tiba-tiba ada orang asing.”
“Gue tebak, pasti orangnya jelek,” potong Isabela.
“Lo salah, orangnya gak jelek, kok.”
“Terus?”
“Jelek banget,” kata Sarah sambil bergidik ngeri. dia kembali mengingat wajah orang-orang yang menganggungnya semalam.
“Sialan lo, sama aja! Terus gimana?” tanya Isabela dengan wajah penasaran.
“Dia megang-megang gue,” kata Sarah sambil bergidik ngeri. Wajahnya menampakkan ekspresi jijik, dia benar-benar benci di sentuh secara sembarangan.
“WHAT? Lo inget mukanya gak?” tanya Isabela semakin penasaran.
“Dih, ngapain gue inget-inget mukanya dia?”
“Kalo lo inget, mau gue hajar tu orang.”
Sarah tertawa mengejek. Melihat wajahnya saja sudah ngeri, apalagi menghajarnya.
“Lo gak percaya sama gue?” tanya Isabela tak terima.
“Percaya kok percaya,” sahut Sarah pasrah. Mereka berdua lanjut membicarakan tentang gosip artis yang sedang di tontonnya. Sekitar jam sembilan, barulah mereka beranjak dari sofa dan membuat sarapan.
“Libra mana?” tanya Sarah sambil menoleh sana-sini karena sejak tadi tidak melihat keberadaan Libra.
Isabela menggeleng, lalu ikut mengedarkan pendangannya ke seluruh ruangan. Memang sejak tadi dia tak melihat Libra. “Tidur kali.”
Sarah mengernyit heran, kemudian dia berjalan meniki tangga menuju lantai dua. Dia memanggil-manggil nama Libra beberapa kali, namun tetap tak ada sahutan. Ternyata Libra memang benar-benar tidur. Dia tidur di sofa dengan posisi telentang.
Sarah mendekat, kemudian sedikit membungkukkan badannya untuk mengamati wajah Libra. Wajah tampan itu terlihat begitu lelah. Selama ini Sarah tak menyadari wajah lelah Libra. Dia hanya tahu jika Libra selalu kuat, selalu ada, dan tak pernah menampakkan kesedihan.
Sarah jadi penasaran apa yang terjadi dengan Libra selama ini. Apa dia bahagia? Atau justru sebaliknya?