WHISPER

WHISPER
Ungkapan Perasaan



Sarah terpaku di tempat duduknya. Di depannya ada laptop yang masih dibiarkan menyala. Dia menelan ludah dengan susah payah. Dadanya mendadak sesak, seperti ada sesuatu yang menekannya.


“William sama siapa sih?” batin Sarah dengan pikiran tak karuan.


Dia memejamkan matanya sejenak, berharap jika yang dilihatnya bukan William. Tapi salah, dia tetap melihat William bersama wanita cantik dan seorang anak kecil.


Sarah ingin sekali menghampiri William dan bertanya langsung. Tapi dia tak memiliki cukup keberanian. Meskipun hubungannya dengan William cukup dekat, tapi dia tak mau bertindak bodoh seperti itu.


“Ekhm.”


Tiba-tiba ada seseorang yang berdehem, membuat Sarah sontak menoleh dan menatap seseorang itu dengan heran.


“Lo ngapain kesini?” tanya Sarah heran.


“Gue kesini sama Arga, eh liat ada lo,” jawab Libra seraya menarik kursi dan mendudukan diri. sedangkan Arga justru pamit pergi karena akan menemui Isabela.


Sarah mengangguk sekilas, lalu matanya kembali fokus pada sosok William yang sedang mneggendong anak kecil. Dia benar-benar penasaran.


“Lo liatin siapa?” tanya Libra seraya mengikuti arah pandang Sarah. Ketika melihat William, dia semakin yakin jika sahabatnya itu memiliki hubungan khusus dengan William.


“Em, enggak,” jawab Sarah sambil menggeleng kuat. Dia tak mau menceritakan kedekatannya dengan William.


“Liatin Pak William ya?” tebak Libra yang membuat mata Sarah terbelalak lebar.


“Kok, lo tau William?”


“Dia dosen gue,” jawab Libra enteng.


Sarah yang sedang meminum jusnya langsung tersedak. Dia terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya. Setelah batiknya reda, dia menatap Libra dengan tatapan menyelidik.


“Dosen lo?”


Libra mengangguk enteng. Dia heran kenapa Sarah begitu kaget. “Lo udah tau kan kalo dia dosen?”


“Iya, tapi gue gak tau kalo dia itu dosen lo.”


“Emang kenapa kalo Pak William dosen gue? Lo suka sama dia?” tebak Libra yang memang tepat sasaran. Sejak awal dia sudah curiga jika Sarah menyukai William.


Sarah jadi salah tingkah sendiri. Dia memang mulai menyukai William, tapi dia tak mau jika Libra tau hal itu.


“Emm, enggak kok,” elak Sarah. Dia tak berani menatap Libra, takut kebohongannya terbaca.


“Gue bisa liat itu, kok.”


“Sarah, sebaiknya lo jangan suka sama dia,” tambahnya.


“Kenapa? Lo gak ada hak buat larang-larang gue!”


“Pak William itu-”


“Gue gak mau denger apapun. Gue juga butuh laki-laki, Ib! selama ini gue jomblo, gue juga butuh sosok laki-laki buat-”


Belum selesai Sarah berbicara, Libra langsung memotongnya. “Ada gue! Gue selalu ada di samping lo!” tegas Libra. Dia sudah bisa menahan diri. Kehadirannya selama ini seperti tak dianggap oleh Sarah.


“Gue butuh pasangan! Bukan sahabat!”


“Gue bisa jadi apa aja buat lo!” tegas Libra.


“Lo gak bisa jadi pasangan, Ib.”


“Gue suka sama lo dan gue bisa jadi pasangan lo! Sejak SMA gue suka sama lo!” kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Libra. Dia bahkan menyesalinya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Dia tak bisa menarik kalimat itu lagi.


Sarah hanya melongo tak percaya. Persahabatan yang dia yakini tak melibatkan perasaan, kini justru sebaliknya. Libra, sahabat baiknya menyatakan kebenaran yang membuatnya tak bisa berkata-kata. Sejak SMA?


“Ib, lo gak bercanda kan?”


“Lupakan, jangan pikirin omongan gue,” kata Libra seraya beranjak dari tempat duduknya. Dia akan melangkah keluar, namun tangannya di tahan oleh Sarah.


“Lo suka sama gue sejak SMA? Kok bisa?” tanya Sarah dengan rasa yang begitu penasaran.


Libra diam sejenak, dia menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.


“Ya, lo first love gue. Setelah gue suka sama lo, gue gak pernah lagi jatuh cinta. Rasa cinta gue terlalu besar, sampai-sampai gue harus ikhlas saat lo nikah sama Arzan.”


“Rasa sakit yang gue rasain, gak sebandig sama rasa sakit ketika liat lo gak bahagia.” Mata Libra menatap lurus, tepat ke bola mata Sarah. Dia ingin memeluk dan berbisik di samping telinga Sarah, mengatakan bahwa dia sangat mencintainya.


“Ib, kenapa lo gak bilang dari awal?”


“Gue takut kehilangan lo.”


“Kehilangan?”


“Gue takut lo pergi setelah tau perasaan gue.”


Sarah menggeleng, “Gak, gue gak akan pergi dari lo.”


“Kenapa lo suka sama Pak William?”


“Em, dia-”


“Dia udah punya istri!” potong Libra cepat.


“A-apa?” tanya Sarah dengan nada keras. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Tiba-tiba dadanya terasa begitu nyeri. Ucapan Libra seperti petir yang menyambarnya dengan ganas. Benar-benar mematikan.


“Gue gak bohong. Gue bisa buktiin.”


Sarah meggeleng, tiba-tiba matanya memanas. Dia ingin menangis dan menampar William. Tega-teganya William memepermainkannya seperti itu.


Karena sudah tak tahan, Sarah memutusakn untuk pergi. Dia berjaln dengan cepat menuju parkiran. Dia ingin menghilang saat itu juga. Sakit, malu dan sedih bercampur menjadi satu.


Melihat Sarah yang terus berjalan, Libra hanya bisa mengekorinya dari belakang.


Brukkk,


Sarah terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dia terduduk sambil meringis kesakitan. Rasanya begitu menyakitkan. Dia jadi ingat ketika dirinya bercerai dengan Arzan. Setelah keluar dari Gedung pengadilan, dia terjatuh dengan lutut yang terluka. Tangisnya berhenti ketika ada anak kecil yang menghampirinya.


Kejadian saat ini persis seperti kejadian saat dulu.


Libra berjongkok dan memeluk Sarah dengan erat. Setelah beberapa menit, Libra menggendong Sarah ala bridal menuju mobil yang jaraknya sekitar sepuluh meter.


Melihat Sarah seperti ini, hatinya begitu sakit. Dia ingin membahagiakan Sarah dengan caranya sendiri.


“Gue gak mau pulang,” kata Sarah saat keduanya berada di dalam mobil.


Libra hanya mengangguk, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan keduanya hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sarah masih tak menyangka jika Libra mneyukainya sejak SMA. Selama ini, dia selalu menganggap persahabatan mereka tanpa melibatkan perasaaan, tapi salah.


Sarah melirik Libra sekilas, tampak Libra sedang fokus menyetir. Dia bingung harus mengajak Libra mengobrol tentang apa. Tiba-tiba suasana menjadi tidak nyaman.


“Ki-ki-kita mau kemana?” tanya Sarah gagap.


Libra menggeleng, dia sendiri tidak tahu akan membawa mobil itu kemana. Kepalanya hanya diisi oleh Sarah. Dia ingin menanyakan perihal perasaan Sarah terhadapnya, tapi ia ragu. Dia takut jika pertanyaan itu menganggu Sarah.


Mobil terus melaju entah kemana. Namun, Libra menghentikan mobilnya di dekat sebuah jembatan besar. Dari jembatan itu, mereka bisa melihat sungai serta rumah-rumah warga.


Air di sungai itu sangat tenang, namun menghanyutkan.


Hari sudah petang, lampu-lampu menyala, menghiasi setiap sudut kota sehingga menjadi indah.


Libra turun dari mobil, di ikuti oleh Sarah. Mereka berdua berdiri di bibir jembatan dalam diam.


“Lo gak pernah suka sama gue?”