WHISPER

WHISPER
Kesibukan Baru



Selesai sarapan, Libra pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Jarak antara kampus dan tempat tinggalnya memanglah dekat. Jadi dia tak perlu membawa kendaraan. Setelah kepergian Libra, Sarah beres-beres dan memandikan Ava.


“Bunda, kapan kita pulang?” tanya Ava ketika mereka sedang berada di ruang TV.


“Kalo Bunda udah gak sibuk kita pulang ya,” jawab Sarah sambil tersenyum lebar. Dia menyalakan TV, mencari acara kartun untuk di tonton Ava. Sementara Ava menonton TV, dia mulai sibuk melanjutkan bab novelnya.


Kini hari-harinya akan di isi dengan menulis, menulis, dan menulis. Dia menuangkan segalanya dalam bentuk tulisan.


Tapi, rutinitas yang di jalani Sarah tentu akan membuatnya lelah dan bosan. Dia butuh teman untuk berbagi dan menikmati hidup. Dia ingin seperti orang lain, pergi shopping, salon, dan jalan-jalan. Tapi apa sekarang bisa? Sedangkan dia berada di lingkungan baru dan tak memiliki teman sama sekali.


Seperti biasa, Sarah akan menulis sambil menikmati kopi. Entahlah, itu seperti pelengkap ide baginya. Ide akan semakin lancar dan semangat akan berkobar. Dia berhenti menulis ketika Ava meminta sesuatu, tapi nanti akan kembali menulis ketika yang di butuhkan Ava sudah terpenuhi.


Hari-harinya berjalan dengan lambat. Namun dia senang karena bisa bersama Ava terus-menerus. Dia tak perlu khawatir dengan Ava. Ketika asik menulis, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari Arzan, dengan jantung yang berdetak tak karuan Sarah membaca pesan itu. Ya, semalam Arzan membalas pesannya, tapi Sarah sudah terlelap tidur. Dan kini Arzan mengiriminya pesan lagi.


[Sarah, lagi kerja ya? Semangat. Gue mau ngajakin lo makan malem, gue jemput jam 7, sekalian sama Ava]


Sarah menatap pesan itu dengan perasaaan tak menentu. Kenapa akhir-akhir ini Arzan sering menampakkan diri? Apa dia ingin mempermainkan Sarah? Atau karena memang merindukan Ava?


“Ck, lo kenapa muncul terus?” lirih Sarah seraya meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali fokus pada tulisannya. Namun lagi-lagi ponselnya bergetar. Namun kali ini pesan dari Libra.


[Lo gak apa-apa kan sendirian?]


Sarah tersenyum sekaligus geli membaca pesan itu. Padahal dia sudah menjadi ibu dari satu anak, tapi tetap saja di perlakukan layaknya masih anak gadis seperti dulu. Dia jadi ingat ketika masih SMA dulu, Libra sering menemaninya ketika orang tua Sarah sedang tidak ada di rumah. Begitu juga sebaliknya.


[Iya, gue gak apa-apa] balas Sarah. Dia meletakkan kembali ponselnya, mematikan laptop dan menemani Ava. Entah sudah berapa banyak yang dia tulis, yang jelas sekarang dia mau istirahat. Meluruskan punggungnya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.


***


Selain membuat novel, Sarah juga membuat cerita untuk komik yang akan dia buat dengan Libra. Saat ini mereka ada di balkon, duduk berhadapan sambil mengerjakan tugasnya masing-masing. Ava sudah tidur sejak setengah jam lalu, jadi mereka bisa fokus tanpa gangguan.


“Bikinin gue matcha dong,” pinta Libra seraya berdiri dan merenggangkan otot-ototnya. Setelah itu dia berjalan ke pinggir balkon, menatap lampu-lampu yang bersinar menerangi kota. Meskipun malam sudah cukup larut, namun masih nampak kendaraan yang berlalu lalang.


“Oke,” Sarah beranjak dan berjalan ke dapur. Dia membuat secangkir kopi untuk dirinya dan secangkir matcha untuk Libra. Hari ini Sarah sudah menghabiskan dua cangkir kopi, tiga cangkir untuk kopi yang sedang di buatnya ini.


Ketika Sarah kembali, Libra tampak sibuk dengan ponselnya. Sarah sudah tak heran karena Libra memiliki banyak wanita.


“Besok gue pulang malem,” ujar Libra seraya meletakkan ponselnya dan meraih matchanya. Dia meniupnya sejenak, lalu menyesapnya perlahan.


“Mau pergi sama simpanan?” ledek Sarah sambil memegangi cangkir kopinya.


“Pacar lo berapa sih?”


“Pacar gue satu. Namanya Victoria Tigen. Cewe paling populer di kampus. Tapi dia manja, cemburuan, dan ribet,” terang Libra. “Oh, ya. Dia juga orangnya emosian,” tambahnya.


“Hahaha, oh, yang lo numpang tenar kan?” tanya Sarah sambil tertawa ringan.


Libra hanya nyengir kuda. Kemudian kembali menyesap matchanya. Pacarnya memang satu, tapi simpanannya begitu banyak tak terhitung. Dia sampai bingung membagi waktunya.


Sarah mengamati dialognya, lalu memperlihatkannya kepada Libra. Ketika sedang memutar laptop ke arah Libra, tangan Libra terulur untuk menyambut laptop itu. Secara tak sengaja, tangan Sarah dan Libra bersentuhan. Ada rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuh ketika tangannya bersentuhan dengan Libra, tapi dia segera menepis rasa itu. Untungnya Libra bersikap biasa saja, jadi dia tak merasa canggung.


“Ini satu chapter ya? Tar gue masukin ke gambarnya,” kata Libra sambil menatap layar laptop di depannya dengan tatapan puas. Dia jadi tak sabar untuk mempublikasikannya di aplikasi online. Nantinya, dia akan meminta teman-temannya untuk membaca dan mempromosikannya.


“Iya satu chapter,” jawab Sarah. Meskipun dia sedang membuat novel, tapi dia masih mampu mengerjakan naskah untuk komik. Apapun yang bisa dia kerjakan, pasti akan dia kerjakan.


Libra kembali sibuk menyelesaikan gambarnya. Dia sampai tak sadar di amati oleh Sarah. Entah sudah berapa lama Sarah mengenal Libra, tapi dia baru menyadari kalau Libra terlihat tampan jika di lihat sedekat ini.


“Kenapa gue baru sadar ya?” batin Sarah.


Dulu saat SMA, banyak yang iri kepada Sarah. Mereka mengatakan bahwa Sarah sangat beruntung karena bisa menjadi sahabat Libra. Dia memang beruntung, tapi bukan karena Libra tampan, melainkan baik.


Rambut Libra yang berwarna dark grey terlihat berkilauan karena efek lampu. Kulitnya yang putih bersih semakin bercahaya, dan aroma tubuhnya yang maskulin membuat Sarah betah berada di dekat Libra.


Ketika Libra mendongak, Sarah langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bahkan dia pura-pura sibuk mengecek dialog yang dia buat.


“Kenapa lo liatin gue? Baru sadar ya kalo gue tampan?” celetuk Libra sambil tersenyum meledek.


“Dih, tampan dari mananya?” cibir Sarah membela diri.


“Udah, akui aja gue ganteng. Bahkan cewe-cewe di luar sana langsung bertekuk lutut sama gue. Lo gak ada niatan bertekuk lutut juga?” ledek Libra. Kali ini di iringi tawa ringan.


“Mohon maaf ya, tapi cewe-cewe di luar sana matanya minus! Mereka gak tau aja kalo sebenernya cowo yang di kagumi itu playboy,” cibir Sarah sambil menatap Libra dengan tatapan meledek.


“Hahaha, kan gue mainnya rapi. Jadi mereka gak tau,” ujar Libra yang terkesan sombong. Mereka bercanda ria sambil sesekali saling meledek, persis saat SMA dulu. Sarah sangat bersyukur karena Libra masih ada di sampingnya. Awalnya dia mengira jika Libra sudah tidak sudi menjadi sahabatnya. Tapi salah, Libra justru datang dan mengulurkan tangan kepadanya, lalu menarik Sarah dari lubang kesedihan.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍