
Libra keluar dari kelasnya sambil menguap lebar, dosen yang mengajar nyaris membuatnya lelap dalam mimpi. Di sampingnya berdiri Davian dan Arga yang juga menahan kantuk. Sedangkan Sabrina dan Vivi sudah melesat pergi.
“Lo langsung pulang?” tanya Davian kepada Libra. Mereka berjalan beriringan melewati koridor kampus. Jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi, beberapa mahasiswa mulai berdatangan ke kampus. Hanya dosennya yang memulai perkuliahan terlalu pagi.
“Gak tau nih,” jawab Libra asal. Dari semalam pesannya tidak di balas oleh Sarah, telpon pun tidak di angkat. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Sarah. Biasanya Sarah tak seperti itu.
Baru saja mereka sampai di parkiran, Victoria muncul dengan pakaian yang super seksi. Davian langsung melirik Libra dan tersenyum nakal, sedangkan Arga justru memalingkan wajah.
“Emm, Bro. Cewe lo bukan main,” ujar Davian.
Libra hanya tersenyum kecut. Dia sudah bisa menebak kenapa Victoria menghampirinya. Pasti karena semalam dia tak membalas pesannya.
Davian dan Arga pergi setelah berbasa-basi sedikit dengan Victoria. Kini hanya ada Libra dan Victoria yang saling berpandangan dengan ekspresi yang sama-sama datar.
“Kenapa gak bales chat gue?” tanya Victoria. Kedua tangganya dia lipat di depan dada. Tatapannya lurus ke depan, tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya dengan kagum.
“Gue harus ngerjain komik,” jawab Libra. Dia memang tak bohong, semalam dia mengerjakan komiknya hingga larut malam. Tapi dia sengaja tak membalas pesan dari pacarnya itu.
“Lebih penting komik ya daripada gue?” tanya Victoria dengan nada ketus.
Libra hanya diam, dia sedang malas berdebat. Percuma saja dia berdebat, toh pendapatnya tak pernah di dengar oleh Victoria.
“Jangan-jangan lo selingkuh sama Sabrina. Emang ****** gak tau diri! Dari dulu gue udah curiga kalo dia itu suka sama lo!”
“Ck, lo gak ada pikiran lain apa selain overthinking?” tanya Libra. Lama-lama dia muak dengan tingkah Victoria yang sangat pencemburu, posesif dan tidak pernah mengerti kesibukannya.
“Libra! Gue sayang sama lo! Gue kaya gini karena gue sayang sama lo!” seru Victoria mulai naik pitam. Beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh mendengar suara Victoria yang begitu keras. Mereka menatap dengan tatapan ingin tahu. Mungkin berita pertengkaran antara Libra dan Victoria akan menjadi berita panas di kampus.
Libra menghela napas sejenak, lalu berlalu pergi begitu saja. Dia mempercepat langkahnya menuju mobil. Biasanya dia tak membawa mobil, tapi hari ini sengaja membawa karena dia ingin mampir ke suatu tempat.
“Libra, tunggu! Gue belum selesai ngomong!” teriak Victoria sambil berlari menyusul Libra. Dia meraih tangan Libra dan memaksa Libra untuk berbalik untuk menghadapnya.
“Akhir-akhir ini lo jadi berubah, bener kan dugaan gue? Semua ini gara-gara ****** itu?” tanya Victoria memastikan.
“Victor! Jangan bawa-bawa Sabrina. Dia itu temen gue!” tegas Libra. Dia menepis tangan Victoria, lalu kembali berjalan menuju mobil. Secepat kilat dia masuk ke dalam mobil dan melesat pergi. Dia tak peduli dengan teriakan dan makian Victoria. Bahkan dia sudah tak peduli jika hubungannya akan kandas begitu saja.
***
Victoria mengepalkan tinjunya, dia ingin meluapkan emosinya saat ini juga. Keberadaan Sabrina benar-benar membuatnya jengkel. Dengan bantuan teman-temannya, dia mencari keberadaan Sabrina.
Setelah tahu keberadaan Sabrina, dia langsung mendatanginya. Kali ini dia akan memberi pelajaran kepada Sabrina.
“Gue gak akan lepasin lo!” ucap Victoria sambil memukul setir mobilnya. Kini dia sudah sampai di parkiran kafe yang cukup ramai. Kafe itu tidak jauh dari kampusnya.
Dengan emosi yang meluap-luap, dia berjalan masuk dan mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kafe untuk mencari Sabrina. Tak mendapati Sabrina di lantai bawah, dia segera menaiki tangga dan mencarinya di sana.
Sudut bibirnya terangkat ketika melihat Sabrina sedang duduk bersama Vivi di pojok belakang. Dengan langkah tergesa, dia menghampiri Sabrina.
Pyurrr…
“Gue udah bilang buat jauhi Libra, tapi kayaknya lo gak ngerti juga!” kesal Victoria.
“****!” umpat Sabrina sambil menyeka wajahnya menggunakan tisu. Dadanya naik turun karena emosi, Victoria benar-benar membuatnya emosi.
“Hey, *****! Lo apa-apaan sih? Gila lo ya?” maki Vivi yang tak terima melihat sahabatnya di perlakukan buruk.
Victoria melirik sekilas ke arah Vivi. Dia enggan menanggapi Vivi karena Vivi bukan targetnya.
Sabrina berdiri, lalu dengan kekuatan penuh dia menampar pipi mulus Victoria. Adegan itu menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kafe yang ada di lantai dua.
“*****, lo bukan saingan gue. Kalo lo pikir gue suka sama Libra, lo salah! Gue sama dia gak ada hubungan apa-apa!” tegas Sabrina. Matanya melotot sempurna ke arah Victoria.
“Sekali lagi lo nuduh gue yang enggak-enggak, gue pastiin garpu ini nancep di leher lo,” tamahnya sambil meraih sebuah garpu dengan tangan kanannya. Kali ini dia tak akan bersikap lunak dengan Victoria. Sudah berulang kali dia bersabar, namun Victoria tak berubah.
Victoria memegangi pipinya sambil menggeram marah. Dia tak terima di permalukan seperti itu. “Gue gak akan gini kalo lo gak mancing-mancing!”
“Oh ya? Bukannya lo yang mancing-mancing?” tanya Sabrina enteng.
Ketika tangan Victoria terayun hendak balas menampar Sabrina, tiba-tiba dari belakang ada tangan yang mencegahnya. Dia menarik Victoria agar menjauh dari Sabrina.
“Berapa kali gue harus bilang kalo gue gak selingkuh sama Sabrina?” tanya Libra dengan tatapan benci. Dia bosan melihat Victoria terus-menerus menuduh Sabrina sebagai selingkuhannya.
“Gue emang selingkuh, tapi bukan Sabrina yang jadi selingkuhannya,” tambahnya. Kali ini dia mengatakan kejujuran agar Victoria tak mengganggu Sabrina lagi.
“Lo ngejar orang yang salah!” desis Libra.
“Daripada malu, mending lo pergi. Kita selesaikan masalah ini besok!”
Mata Victoria sudah berkaca-kaca, ingin rasanya dia menangis dan memaki Libra. Tapi dia tak mau memperlihatkan kelemahannya di depan khalayak umum. Terutama di depan Sabrina. Akhirnya dia memilih untuk pergi.
“Sorry, Bin. Lagi-lagi dia nuduh lo,” kata Libra kepada Sabrina ketika Victoria sudah tak terlihat lagi.
“Emang brengsek lo, kenapa cari pacar yang modelnya kek kuyang sih?” kesal Sabrina sambil kembali duduk.
“Tau nih, anak. Cewe yang lebih baik dari Si Kuyang tuh banyak,” Vivi menimpali.
Libra hanya tersenyum tipis, kemudian ikut duduk bersama mereka. “Lo tau daya pikatnya dia apa, cantik, seksi dan-” Libra tak melanjutkan kalimatnya, dia justru mengedikkan bahunya sambil tersenyum nakal.
“Jijik gue liat ekspresi lo,” sahut Sabrina setengah tertawa.
Tak lama kemudian muncul Davian bersama Arga. Setelah duduk, Davian langsung menyerbu Sabrina dengan berbagai pertanyaan.
“Kirain bakal baku hantam sampai mampus,” ucap Davian dengan nada setengah kecewa. Ya, dia suka melihat keributan.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍