WHISPER

WHISPER
First Date



Sarah mematut dirinya di depan cermin untuk yang ketiga kalinya. Dia mengenakan dress berwarna hitam dengan panjang selutut, rambut yang berwarna honey dia biarkan begitu saja. Dia juga mengenakan kalung emas dengan liontin bulan sabit. Tangan kanannya dia hiasi dengan gelang kecil, sedangkan tangan krinya di hiasi jam tangan rantai berwarna sedana dengan dressnya.


Dia memakai riasan tipis, namun terlihat segar dan begitu cantik. Setelah menyemprotkan parfum dan meraih handbagnya, dia keluar kamar.


Hari ini dia akan bertemu dengan William. Setelah berdebat dengan Libra beberapa hari yang lalu, dia memutuskan untuk tetap menerima William di dalam hidupnya. Dia pikir itu tidak apa-apa.


Ketika Sarah berada di anak tangga terakhir, dia melihat Arga sedang duduk dalam diam. awalnya dia heran kenapa ada Arga di rumahnya, tapi sedetik kemduian dia ingat Isabela. Pasti sahabtanya itu akan pergi bersama Arga.


“Hai, Arga. Lo mau jalan sama Isabela?” tanya Sarah basa-basi.


Arga tersenyum tipis sambil mengangguk. Sarah sudah tak heran lagi dengan reaksi Arga yang hanya seperti itu.


Sarah ikut mengangguk, kemudian berucap, “Ya udah, gue duluan ya,” katanya sambil berlalu pergi. Dia tak mau membuang waktu sehinga telat di hari pertamnya kencan.


Sepanjang jalan menuju tempat tujuan, Sarah merangkai beberapa kata untuk dia ucapkan nanti saat bertemu dengan William. Dia menyiapkan beberapa topik pembicaraan agar suasana first date tak canggung.


“Selamat malam, William,” lirih Sarah dengan nada bicara yang terlalu formal.


“Hai!”


“Em, halo.” Sarah menggeleng kuat-kuat, “Gak-gak, gak gitu,” ujar Sarah.


“Maaf menunggu lama-” Sarah mengentikan ucapannya, kemudian kembali menggeleng karena kalimat itu seperti kalimat yang di ucapkan kepada clien bisnis.


Sarah benar-benar bingung harus berkata apa. Sudah lama dia tidak bertemu dengan laki-laki, rasanya cukup gugup. Apalagi statusnya sudah menjanda, terasa aneh dan sulit.


Karena tak kunjung mendapat kalimat yang pas, akhirnya Sarah menyerah. Dia kembali fokus menyetir sambil bedoa semoga semuanya berjalan dengan lancar. Padahal ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan William. Tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda.


“Sayang, kalo Bunda sama William gak apa-apa kan?” tanya Sarah yang di tunjukan kepada anaknya. Dia harap Ava akan ikut bahagia dengan apa yang dia lakukan sekarang.


“Sama William?” batin Sarah. Firs date saja belum terlaksana, tapi Sarah sudah memikirkan hal itu. Rasanya belum pantas.


Ketika Sarah sedang sibuk memikirkan William, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia melirik sekilas ke layar ponselnya. “Libra,” batinnya. Dia pikir Libra masih marah, tapi kenapa sekarang meneleponnya? Apa Libra sudah tak marah? Apa Libra setuju jika dia memiliki pria lain? Entahlah.


“Halo,” sapa Sarah. Dia menggunakan fitur Bluetooth untuk menerima panggilan. Jadi, dia tetap bisa fokus menyetir meskipun harus menerima panggilan.


[Lo dimana?] tanya Libra singkat.


“Jalan,” balas Sarah tak kalah singkat.


[Ke mana?]


Sarah berdecak sebal. Kenapa juga dia harus laporan kepada Libra. Mau dia pergi ke planet lain pun itu bukan urusan Libra. “Jalan-jalan!”


[First date?]


“Gak!”


[Lo yakin mau-]


Sebelum Libra melanjutkan kalimatnya, Sarah memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu. Dia tak mau mendengar omelan Libra lagi. Dia benar-benar membutuhkan sosok pasangan yang mendampingi hidupnya. Maka dari itu, dia memutuskan untuk membuka hati bagi William. Apakah itu salah? Menurutnya tidak.


Menjadi wanita yang di ratukan oleh pasangannya merupakan suatu hal yang di inginkan banyak wanita. Termasuk Sarah. dia juga butuh seseorang untuk di jadikan rumah tempatnya pulang.


Sarah menatap laki-laki yang ada di depannya. Kulitnya kecoklatan, tubuhnya tinggi dan atletis, hidungnya mancung dan rahangnya terlihat tegas. Dia mengenakan kemeja panjang berwarna maroon, lengannya di gulung sebatas siku. Tatapannya begitu lembut, persis seperti tatapan mata Arzan.


Meskipun ini bukan pertemuan pertama, tapi Sarah merasa sangat gugup. Rasanya mau pingsan melihat William yang begitu tampan.


“Hai,” sapa Sarah canggung.


William tersenyum manis, lalu beranjak berdiri dan menarik kursi, mempersilahkan Sarah duduk. Untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan, mengagumi karya Tuhan yang paling indah. Mungkin ini terdengar konyol, tapi Sarah benar-benar terperangkap dalam jaring asmara.


“Kau tampak begitu cantik,” puji William.


Perasaan Sarah menghangat, bahkan dia merasa bahwa pipinya memanas. Sudah lama sekali dia tak mendengar pujian dari seorang laki-laki.


“Terimakasih,” balas Sarah. Dia tersenyum malu-malu, bahkan dia tampak gugup. Rasanya seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.


Mereka berdua mengobrol-ngobrol banyak hal. Hanya topik ringan yang mereka bahas. Tidak ada pembicaraan yang menjurus pada hal-hal pribadi. Tampaknya William tak peduli dengan masa lalu Sarah atau apapun itu. Dia hanya tahu Sarah yang sekarang ada di hadapannya.


Bagaimana dengan Sarah? Dia pun tampaknya tak peduli dengan masa lalu William. Tapi, di balik renyahnya obrolan mereka dan di balik tatapan lembut keduanya, William menyimpan sebuah rahasia yang begitu besar.


Rahasia yang akan menghancurkan Sarah, ataupun dirinya sendiri.


“Aku sudah membaca novelmu,” kata Wiilliam setelah keduanya terdiam beberapa saat.


Sebelum Sarah menjawab ucapan William, tiba-tiba ponselnya berdering. Lagi-lagi Libra yang meneleponnya. Dia heran kenapa Libra mengganggunya seperti ini. Entah apa yang salah dengan Libra, yang pasti, dia tak menyukainya.


Sarah menggeser tombol merah dengan kesal, setekah itu kembali menatap William dan akan menimpali ucapan Willian. Namun sebelum itu terjadi, lagi-lagi ponselnya berdering.


“Maaf, aku harus menerima telepon dulu,” pamit Sarah seraya mengambil ponselnya.


Setelah William mengangguk, Sarah beranjak pergi menjauhi William. Dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel di samping telinganya.


“Lo kenapa telpon mulu sih?” tanya Sarah dengan nada kesal.


[Lo lagi di mana?] tanya Libra. Dia sengaja mengabaikan pertanyaan Sarah. rasa penasarannya benar-benar memuncak. Dia ingin tahu keberadaan Sarah, ingin tahu apa yang sedang di lakukan Sarah, bahkan ingin tahu lelaki mana yang di temui oleh Sarah.


“Gue lagi dinner. Ada apa?”


Libra menelan ludahnya dengan susah payah. sarah benar-benar membuka hati unutk orang lain. Sepertinya dia akan kalah lagi kali ini. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan.


[Masih lama?]


“Hmm, ada apa?” tanya Sarah tak sabaran.


Libra tampak bingung. Tak ada alasan khusus dirinya menelepon Sarah. Biasanya dia akan pandai membuat alasan, tapi kali ini dia benar-benar buntu.


[Gak ada apa-apa, gue cuma kangen sama lo]


Dengan cepat Libra memutuskan sambungan telepon, lalu merutuki dirinya sendiri karena begitu bodoh. Kenapa juga dia mengatakan itu kepada Sarah.


“Ibra, lo bego banget!” kata Libra dalam hati. Dia memejamkan mata, lalu menggeleng kuat-kuat. Dai jadi salah tingkah sendiri.


Sementara itu, Sarah menatap ponselnya dengan mulut setengah terbuka. Dia heran kenapa Libra bertingkah seperti itu. Apa libra salah makan? Entahlah. Sarah tak mau memikirkan hal itu, dia memilih kembali pada William.