
Libra berjalan dengan santai sambil menggendong Ava. Dia mengenakan celana pendek cargo yang di padukan dengan kaos berwarna hitam. Rambutnya yang berwarna grey terlihat mencolok di antara yang lain. Apalagi kulitnya putih bersih.
Ava tampil cantik menggunakan dres berwarna dusty pink. Rambutnya di kuncir kuda dengan ikat rambut berwarna senada. Mereka berdua terlihat sangat serasi, layaknya seperti anak dan ayahnya.
Beberapa wanita muda bahkan ibu-ibu melirik Libra sambil berbisik-bisik. Mereka kagum melihat Libra yang begitu tampan.
“Gila, hot Daddy.”
“Suami idaman.”
“Sumpah, idaman banget.”
“Coba kalo suamiku kaya dia, pasti gak akan ngelirik sana-sini.”
Itulah beberapa celetukan para wanita-wanita yang melihatnya. Namun Libra tetap acuh dan terus berjalan. Dia menuju kolam renang khusus anak kecil, sebelum membiarkan Ava bermain air, dia mengganti pakaian Ava dengan baju renang. Dia juga mengganti pakaiannya sendiri dengan baju renang.
Lagi-lagi Libra menjadi pusat perhatian banyak orang, tapi dia tetap acuh dan sibuk bermain-main dengan Ava. Dia mengajari Ava berenang, tapi tampaknya masih sulit di lakukan oleh Ava.
Dengan sangat sabar Libra melatih Ava berenang. Tak henti-hentinya dia tertawa melihat tingkah Ava yang begitu menggemaskan. Dia tak tega melihat Ava harus tumbuh dalam keluarga broken home. Dia ingin membuat Ava bahagia, dengan caranya sendiri.
Dia ingin menemani Ava, tapi keadaan tak memihak karena sebentar lagi dia harus masuk kuliah. Rasanya berat harus meninggalkan Ava.
“Libra,” panggil seorang wanita dengan pakaian seksi. Tubuh putihnya terekspos, membuat beberapa lelaki melirik kagum ke arahnya.
Libra menoleh sejenak, lalu tersenyum ke arah wanita seksi itu. Dia adalah salah satu wanita yang sedang dekat dengannya. Ya, salah satu dari sekian banyak. Wanita itu bernama Selena, mahasiswi semester empat.
“Lo lagi sama siapa?” tanya Selena seraya duduk di tepi kolam. Dia sengaja duduk dengan tegak sambil membusungkan dada. Dia ingin tampil sempurna dan tentu saja menggoda di depan Libra.
“Oh, ini ponakan gue. Lo sama siapa?” tanya Libra seraya menuntun Ava menuju Selena. Namun Ava menolak dan memilih bermain air sendiri. Libra mengizinkannya karena airnya tidak tinggi, lagipula dia bisa mengawasi Ava dari pinggir kolam.
“Tuh, sama temen,” ujar Selena sambil menunjuk segerombolan wanita cantik yang sedang berenang di kolam yang ada di sebelah.
Libra mengangguk mengerti, kemudian duduk di sebelah Selena. Matanya tak pernah lepas dari Ava. Meskipun Selena begitu menggoda, tapi dia lebih memusatkan perhatiannya kepada Ava.
Selena memposisikan dirinya lebih dekat dengan Libra. Bahkan lengannya menyentuh lengan Libra. Mereka berdua baru dekat beberapa minggu. Awal perkenalan mereka ketika Libra datang ke club malam. Tentu saja Selena yang mendekati Libra terlebih dahulu.
Mereka berdua berbincang ringan, dan tentu saja mata Libra sama sekali tak lepas dari Ava. Setelah cukup lama, Libra menyusul Ava dan mengajaknya mandi dan berganti baju. Dia tak mau membiarkan Ava terlalu lama bermain air karena takut terserang flu. Awalnya Ava menolak karena masih asik bermain, tapi Libra terus membujuknya sampai usahanya berhasil.
Dengan susah payah Libra memahami petunjuk pembuatan susu di kardus susu formula. Dia membaca sambil mempraktikannya. Sementara Ava sudah tak sabar meminta susu. Ternyata menjaga anak kecil tak semudah yang dia kira.
“Sabar sayang, Om Ibra lagi bikin,” teriak Libra karena Ava sudah mulai menangis.
Dengan cekatan dia menuang air panas sedikit, lalu di campur dengan air dingin agar susu yang di buatnya terasa hangat dan langsung bisa di minum oleh Ava. Selesai membuat susu, dia bergegas ke ruang TV dan menyerahkan botol susu ke Ava.
Ava tiduran di atas kasur lipat tepat di depan TV. Tangan kananya memegang botol susu, sedangkan tangan kirinya memeluk boneka pemberian Arzan.
Libra ikut tiduran di samping Ava, mengelus-elus kepalanya agar cepat tertidur. Dia melakukan itu karena sering melihat Sarah melakukannya. Dia juga menceritakan kisah dongeng agar Ava cepat tertidur.
Setelah berhasil membuat Ava tertidur, Libra pun ikut tertidur di sampingnya. Mereka berdua tertidur sambil berpelukan. Mungkin Sarah akan terharu melihat pemandangan itu. Seharusnya Arzan yang kini sedang tertidur sambil memeluk Ava, tapi justru Libra, sahabat baik Sarah.
Menjelang sore hari, Sarah pulang dengan wajah yang begitu lelah. Dia membuka pintu dan berjalan masuk. Namun saat melihat Ava dan Libra sedang tertidur pulas, dia langsung tersenyum. Seketika rasa lelahnya menghilang begitu saja, tergantikan oleh rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Ava dan Libra tidur berhadap-hadapan. Tangan Ava memegang rambut Libra yang berwarna grey. Sedangkan kakinya di atas pinggul Libra. Sungguh pemandangan yang mengharukan.
Dengan sangat hati-hati, Sarah berjalan masuk ke dalam kamar. Dia segera mandi dan bersiap memasak makan malam. Rasa lelahnya semakin berkurang ketika tubuhnya di guyur air hangat. Kehangatan memang mampu meruntuhkan rasa lelah.
“Andai gue punya suami yang sifatnya mirip Libra, pasti hidup gue lebih baik,” ucap Sarah tanpa sadar. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dia langsung menggeleng setelah menyadari ucapannya yang terlalu konyol. Libra? Kenapa juga dia menginginkan suami seperti Libra? Tidak, batin Sarah. Libra playboy, tak sebaik yang dia bayangkan.
Sarah menyisir rambut pendeknya yang berwarna cokelat, lalu mengaplikasikan handbody ke seluruh tangan dan kaki. Tak lupa dia juga menyemprotkan parfum ke titik-titik nadi. Setalah bercerai dengan Arzan, dia lebih memperhatikan penampilannya. Dia ingin selalu tampil cantik, bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri.
Ketika hendak memasak, dia mendengar suara berisik Ava yang terdengar seperti sedang membangunkan Libra. Bahkan dia mendengar teriakan gemas Ava karena Libra tak mau bangun. Dengan langkah ringan, dia menghampiri Ava.
“Halo, sayang. Udah bangun?” sapa Sarah kepada Ava dengan seulas senyum di wajahnya.
Ava mengangguk dan segera menghambur ke dalam pelukan Sarah. Sedangkan Libra hanya memandanginya dengan mata yang masih mengantuk. Dia menatap Sarah dengan mata setengah terbuka. Namun, dia masih bisa melihat kecantikan Sarah. Apalagi aromanya yang begitu wangi. Sejak dulu dia selalu menyukai aroma Sarah.
“Yuk, mandi. Abis itu Bunda masak buat kalian,” ujar Sarah yang terdengar seperti seorang ibu rumah tangga yang sedang berbicara kepada anak dan suaminya.
Ava mengangguk patuh. Dia segera berjalan di depan Sarah menuju kamar mandi. Dia selalu bersemangat untuk mandi karena ketika mandi bisa bermain balon yang terbuat dari busa sabun.
Sebelum berlalu, Sarah menyuruh Libra untuk bangun. Tapi usahanya sia-sia karena Libra justru kembali tertidur dengan posisi meringkuk. Dia meminta waktu lima menit lagi untuk tidur, tapi Sarah tak percaya. Mana mungkin Libra butuh waktu lima menit, paling tidak satu jam.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️