
Siang ini Sarah di sibukkan dengan aktivitas baru. Dia menandatangani novel yang baru saja diterbitkan. Berkat promosi sana-sini, novel pertama Sarah memiliki banyak peminat. Dia sangat bersyukur karena mimpinya sedikit demu sedikit terwujud.
“Sayang, novel Bunda berhasil di terbitkan,” lirih Sarah. Dia sangat rindu dengan Ava. Tak pernah sekalipun dia tak merindukan Ava.
Sarah meletakkan pena secara sembarang, lalu menggeser novel yang baru saja di tanda tanganinya.
Bahu Sarah mulai bergoyang hebat. Lagi-lagi dia tak berhasil membendung air matanya. Meskipun sudah berjanji tak akan menangis lagi, tapi tetap saja. Air mata selalu berbicara ketika hati sedang tidak baik-baik saja.
Untungnya Isabela tak di rumah, jadi dia bisa menangis sepuasnya. Untuk kali ini saja, dia ingin menangis tanpa gangguan.
Cukup lama dia menangis, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Semua orang yang di sayanginya perlahan pergi. Mulai dari Arzan, Naura, bahkan Ava. Entah apa yang sedang di rencanakan Tuhan, tapi itu benar-benar menyakitkan.
“Ibra,” lirih Sarah sambil mendongak. Dia tak mau kehilangan Libra. Tidak! Dia tak sanggup jika Libra pergi meninggalkannya.
Sarah menarik napas dalam-dalam, lalu menatap tumpukan novel yang belum selesai di tanda tangani. Dia kembali meraih pulpen, lalu mulai menandatangani satu persatu. Setelah menangis, dia menjadi lebih tenang.
Setelah semuanya selesai, Sarah memutuskan untuk pergi ke toko buku. Dia akan membeli beberapa novel. Semenjak Ava pergi, aktivitasnya hanya seputar menulis novel dan belajar untuk persiapan masuk.
Berkali-kali dia memulai hidup dari nol, namun belum juga menemukan titik kebahagiaan. Bahkan, hidupnya sempat berkutat pada titik nol yang membuatnya harus mengakhiri hidupnya.
Sarah sempat menyerah, namun akhirnya bisa bangkit. Dia sempat putus asa, namun akhirnya kembali memiliki semangat. Sejak dulu sudah terlatih untuk menjadi wanita kuat, mandiri, dan tentunya sabar.
Apa belum cukup?
Sarah menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Rumah yang tadinya ramai karena Ava, kini benar-benar sepi. Apalagi Isabela sibuk beraktivitas di luar rumah.
Dia mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah. Beruntung, tetangga yang dia miliki sekarang begitu baik. Mereka tak pernah mengejek atau memojokkan Sarah meskipun beberapa dari mereka sudah tahu statusnya.
Mobil terus melaju, keluar dari kompleks yang di huninya menuju jalan raya utama. Matahari bersinar begitu terik, namun tak menghalangi banyak orang untuk beraktivitas di luar rumah.
Ketika berhenti di lampu merah, Sarah melihat seorang wanita muda sedang menuntun anaknya masuk ke dalam toko mainan. Anak kecil itu terlihat begitu sumringah ketika memasuki toko. Lagi-lagi dia teringat Ava. Tapi, kali ini dia tak mau menangis.
Sesampainya di toku buku, Sarah langsung tersenyum senang. Toko buku yang dia datangi cukup besar. Toko itu memiliki dua lantai yang masing-masing lantai menyediakan banyak buku. Mulai dari buku pelajaran, pengetahuan, novel, pengembangan diri, sampai kamus-kamus.
***
“Sarah,” panggil seseorang dari arah samping.
Sontak Sarah menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya. Dia mengernyit heran, merasa taka sing dengan laki-laki yang kini berdiri di sampingnya.
“Willian?” Sarah mencoba mengingat-ingat lelaki itu.
“Ya, aku William. Kau mencari novel?” tanya William.
Sarah tersenyum manis, lalu mengangguk. Entah kenapa, setiap kali bertemu dengan William, dia merasa lebih bersemangat dan bahagia. Ada apa sebenarnya?
William mengalihkan pandangannya menuju rak, lalu menatap novel satu persatu.
“Kau suka novel yang seperti apa?”
“Romance.”
“Apa hidupmu penuh keromantisan?” tanya William tanpa menoleh. Dia justru mengambil sebuah novel dan membaca blurb yang ada di belakang sampul.
William mengangkat sebelah alisnya, lalu kembali menoleh ke arah Sarah dengan pandangan aneh.
Menyadari tatapan aneh William, Sarah langsung menghentikan tawanya. “Maaf. Tapi kehidupanku jauh dari hal-hal romantis,” ujarnya sambil tersenyum getir.
William kembali meletakkan novel di rak. Tatapannya berubah, namun Sarah tak mengerti apa arti tatapan itu.
“Kita sama,” ujarnya kemudian.
“Sama?”
“Aku rasa kita harus duduk berhadapan sambil menikmati kopi hangat. Lalu berbincang banyak hal hingga lupa bahwa waktu masih bersama kita. Apa kau berkenan?”
Sarah menahan senyum. Namun ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Seperti itukah William mengajaknya jalan?
“Jika berkenan, kita pergi sekarang.” William masih memandang Sarah dengan tatapan penuh harap. Sepertinya dia tipe laki-laki yang tidak suka basa-basi. Dia lebih suka langsung bertindak.
“Sekarang?” tanya Sarah tak percaya.
“Iya. Kenapa tidak?”
Kali ini Sarah tak bisa menahan senyumnya. Laki-laki di depannya benar-benar menarik. Dia semakin ingin mengenal William lebih jauh. Tunggu! Mengenal? Apa Sarah sedang jatuh hati? Atau hanya untuk mengisi waktu luang?
“Baiklah,” Sarah segera mengambil beberapa novel lalu berjalan ke kasir. Sebelum dia mengambil uang dari dompetnya, William sudah lebih dulu membayarnya.
“Tidak usah, biar aku saja,” kata Sarah tak enak hati. Dia belum terlalu mengenal William, tapi hari ini William sudah mengeluarkan uang untuk membayar novel yang dia beli.
“Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena kau telah meluangkan waktu untukku,” kata William dengan senyum mautnya. Bahkan sang petugas kasir terlihat terpesona dengan senyum William. Lalu bagaiaman dengan Sarah? Tentu saja jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Terimakasih,” ucap Sarah kepada William. Lalu dia menerima kantong plastik yang berisi tiga buah novel.
Mereka berdua berjalan kaki menuju ke sebuah kafe yang ada di dekat toko buku. Kira-kita jaraknya seratus meter.
“Apa kau lelah?” tanya William ketika sudah separuh jalan.
“Tidak. Aku wanita kuat,” jawab Sarah.
“Hahaha, sepertinya kau tak butuh laki-laki karena terlalu mandiri,” kata William. Entah kalimat itu di tunjukan sebagai pujian atau justru sindiran.
Sarah ikut tertawa, lalu berkata, “Tidak, aku tetap butuh lelaki.”
Sepanjang jalan menuju kafe, mereka berbicara banyak hal. Dari pembicaraan itu, Sarah menyimpulkan bahwa William benar-benar berbeda dengan lelaki lain. Bahkan ketika Sarah mencari kekurangan dari sosok William, dia belum bisa menemukannya.
Ketika sampai di tempat tujuan, William membukakan pintu untuk Sarah. Tindakannya benar-benar membuat Sarah jadi salah tingkah. Bahkan William melakukan hal-hal di luar dugaannya. Dia memperlakukan Sarah seperti ratu.
Tapi Sarah merasa dejavu. Hal-hal kecil yang William lakukan persis seperti Arzan dulu. Namun di balik perlakuan itu, Arzan justu melakukan hal busuk yang membuat Sarah sangat membencinya.
“Sepertinya kau sudah mahir berhadapan dengan wanita,” celetuk Sarah setelah makanan datang.
“Tidak, aku hanya melakukan sebagaimana mestinya.”
Apa semua laki-laki yang di temuinya memang seperti itu. Dia jadi takut jika kejadian lama terulang lagi. Tidak, itu mimpi buruk baginya.