
“Bel, menurut lo, gue harus ngasih tau Libra apa enggak?” tanya Sarah setelah sekian lama tak mendapat jawaban.
“Kasih tau aja gak apa-apa. Gue liat-liat, Libra udah jadi bagian dari hidup lo,” ujar Isabela sambil tetap fokus menatap jalanan.
“Bagian hidup?” tanya Sarah sambil mengetikkan sesuatu dan mengirimnya kepada Libra.
Isabela tak langsung menjawab, dia membelokkan mobilnya ke arah kanan. Setelah itu barulah menjawab, “Di saat suka ataupun duka, Libra tu selalu ada buat lo.”
“Masa sih?”
“Jangan-jangan selama ini lo gak nyadar?”
Sarah tak bisa menjawab pertanyaan itu. Selama ini Libra memang selalu ada untuknya. Bahkan ketika dia berada di titik terendah sekalipun.
“Sarah, gue yakin kalo Libra itu suka sama lo!” imbuh Isabela. Mengenal Sarah dan Libra dalam waktu yang cukup lama, membuatnya sadar jika salah satu di antara mereka ada yang menyimpan perasaan. Dan itu adalah Libra.
Isabela bisa yakin dengan itu semua karena di melihat dari tatapan dan perlakuan Libra terhadap Sarah.
“Hahaha, mana mungkin. Gue sama Libra udah jadi sahabat dari lama. Mana mungkin Libra suka sama gue, lagipula cewenya dia banyak banget,” sergah Sarah. Selama ini dia tak pernah memikirkan hal itu. Suka? Tidak! Diantara dirinya dan Libra tak ada perasaan seperti itu.
“Ih, kok lo gak percaya sama gue sih?”
“Ya enggak lah. Kan gue yang ngerasain bukan lo.”
“Dih, ni anak. Gue yang liat, Sarah. Apa yang gue liat itu udah jelas banget kalo Libra suka sama lo!”
Sarah menatap layar ponselnya sejenak, masih belum ada balasan dari Libra. Biasanya Libra selalu cepat dalam membalas pesan Sarah, tapi kenapa kali ini lama? Sibuk? Atau sedang bersama wanita lain? Entahlah.
“Ck, kita liat aja nanti. Gue yang bener atau lo.”
Isabela mengangguk pasti. Dia sangat yakin jika tebakannya tidak akan salah.
Setelah percakapan itu, mereka berdua terdiam. Isabela sibuk memikirkan kariernya, sedangkan Sarah sibuk memikirkan Ava. Banyak pertanyaan yang berkecambuk di kepalanya.
“Bel, kalo lo capek, kita gantian ya. Gue mau tidur sebentar,” ucap Sarah sambil memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di jok mobil.
Isabela bergumam sekilas, sejauh ini dirinya belum mengantuk sama sekali. Dia sudah biasa tidur larut malam. Dia akan begadang untuk streaming ataupun mencari ide-ide foto untuk feed instagramnya. Dia juga rutin mengadakan give away.
Dengan bantuan Sarah, hidupnya benar-benar berubah. Dia menjadi lebih bahagia dan menghargai hidup. Kini sudah tak ada lagi suami yang kasar, atau tekanan ekonomi yang menghimpitnya.
Tak di sangka, Sarah yang tadinya orang asing, kini justru menjadi seperti keluarga.
***
Libra terbaring lemah di atas ranjang. Kepalanya sangat sakit, tubuhnya menggigil, bahkan terasa pegal. Untuk bangun pun rasanya begitu sulit. Dia tiduran dengan posisi meringkuk, dari ujung kaki sampai ujung kepala terbungkus selimut.
Ponsel yang tergeletak di atas nakas beberapa kali berbunyi, tapi Libra enggan melihatnya. Dia lebih memilih untuk tetap meringkuk di atas kasur sampai pusingnya sedikit reda dan demamnya turun.
Namun sampai beberapa saat, pusing dan demamnya tak juga mereda. Akhirnya mau tak mau dia beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke dapur sambil terhuyung-huyung. Sesampainya di dapur, dia langsung mencari sesuatu yang bisa di makan, lalu meminum obat.
Selesai minum obat, dia memutuskan untuk kembali tidur. Tubuhnya kembali terbungkus selimut dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ponselnya masih tergeletak di atas nakas, bahkan sudah ada beberapa telepon dari Victoria yang dia biarkan saja.
Libra mendudukkan diri dan bersandar di kepala ranjang. Dia meraih selimut dan menutupi kakinya. Setelah di rasa nyaman, dia meraih ponsel yang ada di atas nakas. Perlahan dia membuka ponselnya dan membaca setiap notifikasi.
Dari sekian banyak notifikasi, hanya notifikasi dari Sarah yang membuatnya tertarik. Dia membuka pesan dari Sarah dan membacanya perlahan. Begitu membaca pesan itu, dahinya langsung berkerut-kerut. Dia sampai membaca berulang kali pesan dari Sarah.
Libra langsung mencari kontak bernama Arga dan meneleponnya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, karena Arga langsung mengangkat telepon itu.
“Ga, lo lagi di rumah?” tanya Libra setelah telepon di angkat oleh Arga.
[Gak]
“Di mana?”
[Mau party. Ada apa?] tanya Arga dengan nada datar, persis seperti ekspresi wajahnya sekarang.
“Ke apartemen gue sekarang!”
Belum sempat Arga menjawab, Libra sudah menutup teleponnya secara sepihak. Dia segera melompat dari tempat tidur. Dia menarik sembarang tas dari lemari dan mengisinya dengan beberapa pakaian. Dia juga memasukkan beberapa kebutuhan pribadinya.
“Gue gak bisa biarin Sarah sendiri!” kata Libra seraya keluar. Dia duduk di ruang TV sambil menunggu Arga. Rasa pusing yang masih menyergapnya dia abaikan begitu saja. Bahkan dia sudah tak peduli dengan demamnya. Dia hanya peduli dengan Sarah. Dia penasaran apa yang terjadi dengan Sarah.
Kaki Libra bergerak-gerak gelisah. Beberapa kali dia menatap layar ponselnya, memastikan Sarah membalas pesannya.
“Duh, Arga lama banget sih,” ujar Libra. Kini dia berdiri, lalu berjalan mondar-mandir.
Tiba-tiba terdengar suara bel yang membuat Libra sangat bersyukur. Dia menyambar tas dan kunci mobilnya, lalu berjalan ke arah pintu dengan tergesa-gesa.
“Ada apa, Ib?” tanya Arga ketika Libra baru saja membuka pintu.
“Temenin gue ke pergi,” jawab Libra seraya menutup pintu. Dia menarik tangan Arga untuk mengikutinya. Mereka berjalan tergesa-gesa menuju lift. Arga yang masih bingung tetap saja menurut. Dia tak banyak tanya seperti biasanya.
“Ga, lo gak tanya gue ngajak kemana?” Libra akhirnya mengajukan pertanyaan, dia heran dengan sahabatnya itu, terlalu diam dan cuek. Bahkan di kondisi seperti inipun Argas ama sekali tak bertanya. Bahkan tampangnya masih saja datar.
Mereka berdua keluar dari lift, lalu berjalan menuju parkiran.
“Nanti juga lo bakal ngasih tau,” jawab Arga enteng.
Ya, Libra memang akan memberi tahu setelah mereka berdua berada di dalam mobil. Tapi reaksi Arga benar-benar terlalu santai. Dia biasa saja melihat Libra yang tergesa-gesa dan berwajah panik.
“Nyesel gue nanya!” seru Libra sambil melirik Arga sekilas.
Libra menyerahkan kunci mobilnya ketika mereka berdua sudah sampai di parkiran. Dia meminta Arga untuk membawa mobil sementara dia akan mengistirahatkan tubuhnya.
Ketika mobil mulai melaju, Arga barulah angkat suara. “Kayaknya lo lagi sakit deh, udah minum obat?” tanya Arga. Meskipun dia sering bersikap cuek, tapi dia masih memiliki rasa kemanusiaan sehingga bertanya seperti itu kepada Libra.
“Udah,” jawab Libra singkat. Setelah itu tak ada lagi obrolan. Setelah memberi alamat yang di tuju, Libra memilih untuk tidur. Malam sudah semakin larut, namun jalanan tetap saja masih di padati oleh kendaraan.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️