WHISPER

WHISPER
Bertemu Mantan Suami



Libra keluar dari kamar dengan mata yang masih setengah terpejam. Dia merenggangkan otot-ototnya sambil menguap lebar. Dia segera berjalan ke dapur untuk melihat Sarah yang sedang membuat sarapan. Namun saat di dapur, dia tak menemukan Sarah.


“Sarah belum bangun?” batinnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dia juga mencari-cari ke beberapa ruangan, kecuali kamar Sarah.


“Tumben belum bangun,” batinnya lagi sambil melirik jam di dinding. Padahal jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan, tapi Sarah belum juga bangun.


Akhirnya Libra memutuskan untuk membuat sarapan. Dia hanya bisa membuat roti tawar lalu di oles selai cokelat. Ya, hanya itu saja yang bisa di buatnya. Selang beberapa menit, Sarah keluar dengan penampilan yang masih berantakan, namun dia sudah mencuci muka. Di belakangnya ada Ava yang juga masih berantakan.


Ava berjalan ke sofa dan tiduran di sana, sedangkan Sarah duduk di meja makan dengan kepalanya yang di letakkan di atas meja. Dia kembali memejamkan mata, rasanya masih begitu mengantuk.


“Lo tidur jam berapa?” tanya Libra heran seraya meletakkan piring berisi roti tawar di depan Sarah. Dia juga sudah membuatkan segelas kopi.


Sebelum Sarah menjawab, Ava berteriak meminta susu, “Om Ibra bikinin susu!” terik Ava kencang. Kini dia tengah tiduran sambil menonton TV.


“Iya, sebentar,” sahut Libra. Dia bergegas membuatkan susu untuk Ava, lalu menyerahkannya. Setelah itu barulah dia duduk di seberang Sarah.


“Gue tidur jam setengah tiga,” ucap Sarah seraya mengangkat kepala. Dia meraih gelas yang berisi kopi, lalu menghirup aromanya dalam-dalam. Aroma kopi mampu membangkitkan semangatnya. Setelah kopi itu berhasil melewati tenggorokannya, Sarah menatap Libra dengan serius.


“Gue mau pulang, ada orang yang mau beli rumah peninggalan Mama gue.”


“Kapan?”


“Nanti siang.”


“Gue anter, ya,” tawar Libra. Meskipun dia ada kelas, tapi tak apa jika membolos satu kali.


“Gak usah, lo pasti ada kuliah,” tolak Sarah. Dia mencomot roti tawar yang ada di piring, lalu menggigitnya perlahan.


“Lo berapa hari di rumah?”


“Cuma beberapa hari.” Sarah sengaja tak menceritakan perihal pertemuannya dengan Mirna, dia tak mau membuat Libra khawatir.


Libra mengangguk-angguk. Jika Sarah akan menjual rumah, berarti dia benar-benar akan pergi dari apartemennya.


Selesai sarapan, Libra langsung bersiap untuk ke kampus. Dia tak mau telat seperti sebelumnya. Sebelum berangkat ke kampus, dia berpesan kepada Sarah agar hati-hati. Ingin sekali dia mengantar Sarah, tapi Sarah tetap menolaknya meskipun Libra sudah menawarkan beberapa kali.


***


Sarah turun dari mobil, lalu berjalan untuk membuka pintu gerbang. Setelah terbuka lebar, dia kembali masuk ke dalam mobil lalu melajukannya perlahan menuju area halaman yang cukup luas. Dia tersenyum lebar melihat rumahnya, namun kebahagiaan itu tercampur dengan kesedihan karena sebentar lagi rumah itu akan terjual.


Ketika baru saja turun dari mobil, Ava langsung berlarian di halaman. Dia bersorak gembira karena akhirnya bisa bebas berlarian seperti itu.


“Yuk, masuk,” ajak Sarah.


Saat Sarah baru saja masuk, ada tetangga yang meniliknya secara diam-diam. Mata itu mengawasinya sambil sesekali bergumam.


Sarah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu. Tampak furniture-furniture di rumahnya berdebu karena tak terawat. Lantainya juga begitu kotor. Dia berjalan mengelilingi seluruh ruangan yang ada di rumahnya, benar-benar kotor.


“Bunda, rumahnya kotor banget. Ih, Ava gak suka,” celetuk Ava dengan tatapan jijik.


“Kita bersihkan, yuk,” ajak Sarah. Dia segera meletakkan tas selempangnya secara asal, lalu mulai mengambil alat-alat kebersihan. Dengan cekatan tangannya segera membersihkan ruangan demi ruangan.


Sarah tersenyum ketika melihat Ava sedang menyapu sambil menyanyi-nyanyi. Lagi-lagi dia sangat bersyukur di beri anak secantik dan sebaik Ava.


Butuh waktu lama untuk membersihkan semua ruangan. Setelah selesai, tubuh Sarah dan Ava terkulai lemas di atas karpet bulu yang ada di depan TV. Keduanya sama-sama terlihat begitu lelah.


“Hm,” gumam Sarah. Dia tersenyum kecut mengingat rumah ini akan di jual.


Ketika mereka berdua sedang kelelahan, tiba-tiba terdengar suara mobil terparkir di depan rumah. Sarah mengernyit heran, dia menduga bahwa itu Libra. Tapi kenapa Libra menyusulnya?


Suara pintu di ketuk dengan keras membuat Sarah segera bangkit. “Ava tunggu di sini ya, Bunda mau bukain pintu,” kata Sarah. Dia berjalan mendekati pintu, lalu membukanya perlahan.


Seketika mata Sarah terbelalak lebar, jantungnya langsung berdetak tak karuan. Apa yang dilihatnya sekarang benar-benar di luar dugaan.


Laki-laki itu berdiri dengan wajah tenang. Seperti biasa, dia mengenakan topi sebagai pelengkap penampilannya.


“Lo kemana aja?” tanya Arzan dengan nada datar.


Sarah masih berdiri mematung. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi Arzan. Rasanya masih begitu sulit.


“Sarah! Lo dari mana?” bentak Arzan membuat Sarah terlonjak kaget.


Sarah menggeleng, “Gue…em, abis liburan,” ujar Sarah berbohong.


“Liburan?” tanya Arzan sinis. Dia berjalan mendekati Sarah, lalu berdiri tepat di hadapannya. “Ini apa?” Arzan menyodorkan HPnya, memperlihatkan foto dirinya dan Libra berada di sebuah rumah sakit. Sarah ingat, saat itu dia sedang menjenguk Isabela. Tapi siapa yang mengambil foto itu? Apa selama ini dia di kuntit.


“Kenapa diem aja? Udah jadian sama Libra?” tanya Arzan menyadarkan Sarah dari lamunannya.


Sarah mengerjap beberapa kali, menunduk, lalu memainkan jari-jemarinya dengan gugup. Entah apa yang membuatnya gugup, tapi dia tak suka situasi seperti sekarang.


“Jawab, Sarah!” bentak Arzan membuat Sarah terkejut.


“Tante Mirna sakit, jadi gue jengukin sama Libra,” jawab Sarah masih dengan jantung yang berdebar hebat. Dia sama sekali tak bisa menatap mata Arzan. Dia tak mau pertahanannya runtuh.


Arzan kembali mengantongi ponselnya, lalu tangannya meraih dagu Sarah dan memaksanya agar menatap matanya.


“Lo kalo mau bohong harusnya pinter dikit.”


“Gue gak masalah lo mau pergi, tapi setidaknya lo bilang! Ava juga anak gue!” seru Arzan, tangan yang tadinya memegang dagu Sarah, kini sudah beralih ke pipi Sarah.


“Gue berhak atas Ava,” desisnya sambil membelai pipi Sarah.


Tubuh Sarah menggigil karena belaian itu. Ingin rasanya dia lari dan bersembunyi dari Arzan. Dia tak mau tersiksa seperti ini.


“Arzan gue-em-gue-gak-” Sarah tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia memejamkan matanya sejenak, lalu kembali menatap Arzan dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Mulai sekarang, Ava tinggal sama gue!” seru Arzan sambil menepuk pipi Sarah pelan. Setelah itu dia berjalan masuk, mencari keberadaan Ava.


Sarah segera menyadarkan diri, lalu menyusul Arzan dan menarik tangannya.


“Apa lo bilang?”


Arzan menepis tangan Sarah dan terus berjalan cepat mencari Ava. Dia memanggil-manggil nama Ava.


“AYAH!!!” teriak Ava dengan wajah sumringah ketika melihat Arzan.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️