WHISPER

WHISPER
Dukungan Sarah



Arzan duduk di sofa dengan pikiran yang tak karuan. Di pangkuannya ada seorang wanita cantik mengenakan stelah blazer berwarna merah muda. Meskipun wanita itu terus mengajaknya berbicara, tapi Arzan sama sekali tak tertarik.


Wanita itu merupakan sekertaris sekaligus pacar barunya. Tapi entah kenapa keberadaan wanita itu tak bisa menggantikan Sarah.


Sejak pagi tadi, dia hanya duduk dengan pikiran yang berkecamuk. Semua pekerjaannya masih teronggok di atas meja, sama sekali tak di sentuhnya.


Beberapa hari yang lalu, dia mendapat kabar dari temannya bahwa Sarah terlihat di sebuah rumah sakit yang ada di luar kota. Awalnya dia tak percaya, tapi temannya bersikeras bahwa dia tak salah lihat.


Setelah beberapa kali datang ke rumah Sarah dan Sarah tidak ada, dia sempat curiga bahwa Sarah pergi ke suatu tempat. Tapi dia tak tahu pasti apakah kepergian Sarah hanya sementara atau selamanya.


Berulang kali dia menanyakan keberadaan Sarah melalui pesan, Sarah sama sekali tak memberi tahunya. Bahkan ketika bertanya kepada Libra, sahabat baik Sarah, Libra tak memberi jawaban pasti. Arzan benar-benar di buat pusing.


Dia merindukan Ava, sekaligus Sarah. Tapi untuk sekarang dia tak bisa berbuat banyak. Mencari Sarah?Tidak! Akhir-akhir ini pekerjaannya begitu banyak, dia tak bisa pergi begitu saja meninggalkan pekerjaan.


"Sayang, Lo kenapa? Kayaknya lagi ada masalah," tanya wanita yang masih duduk di pangkuannya.


Arzan menggeleng, kemudian dia menyuruh agar wanita itu beranjak dari pangkuannya. Dia juga memberi perintah untuk mengerjakan beberapa laporan.


Setelah wanita itu keluar, Arzan berjalan mendekati jendela. Dia berdiri sambil menatap keluar. Tampak jalanan begitu padat, orang-orang terlihat berlalu lalang di trotoar. Pemandangan itu begitu membosankan bagi Arzan.


"Huft...Sarah, lo kemana?" tanya Arzan kepada dirinya sendiri. Tangan kanannya menyentuh kaca yang ada di depannya, sekilas dia melihat bayangan dirinya sendiri. Penyesalan itu kembali merayapi hatinya.


"Sarah, gue kangen," lirihnya lagi. Wajahnya berubah menjadi sendu, matanya sudah berkaca-kaca. Dia benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan Sarah. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dia ingin meminta kesempatan kedua, tapi apakah bisa? Rasanya sulit.


"Gak, gue harus cari Sarah! Gue akan minta kesempatan kedua! Pasti Sarah mau maafin gue," ujarnya optimis. Dia berjalan kembali ke kursi kebesarannya, lalu mulai berkutat dengan pekerjaan. Dia tak mau hanya diam dan meratapi nasib, dia akan bergerak.


***


Sarah menatap Isabela dengan perasaan senang. Setelah lima hari kritis, akhirnya Isabela bisa kembali sadar. Dia duduk di samping Isabela sambil menggenggam tangannya, sementara Ava dan Libra duduk di sofa sambil bermain.


"Makasih, Sarah. Berkat lo gue masih hidup," lirih Isabela, dia menyunggingkan senyum manisnya.


Sarah mengangguk dan balas tersenyum. Dia sangat bersyukur karena Isabela masih bisa bertahan, meskipun janinnya tidak.


"Sarah, bayi-" Isabela terdiam. Dia menahan air matanya dengan kuat, dia merasa bahwa bayinya sudah tidak ada di perut. Namun sekuat apapun dia menahan, air mata itu tetap menetes.


Isabela menangis sesenggukan. Selama ini yang menguatkan hidupnya adalah bayi yang di kandungnya. Tapi kini bayi itu sudah tidak ada lagi. Lalu darimana sumber kekuatannya sekarang?


“Hust, udah, lo jangan nangis terus. Sekarang pikirin kesehatan lo, pikirin juga kedepannya mau gimana. Lo harus balas perbuatan biadab suami lo itu. Balas dengan kesuksesan,” nasihat Sarah.


“Lo harus buktiin bahwa hidup lo lebih bahagia tanpa dia,” tambahnya. Sarah menyeka air mata Isabela, lalu menggenggam tangannya. Dia tak mau melihat orang lain terpuruk hanya karena seorang lelaki.


“Hiks, makasih ya.” Isabela berusaha balas tersenyum dengan manis. Mulai sekarang dia harus menata hidupnya dari awal.


Sekarang dia tak perlu lagi khawatir akan di pukuli suaminya. Selama menikah, dia kerap kali mendapat kekerasan dalam rumah tangga. Semua itu berawal dari pekerjaannya menjadi streamer di media sosial. Suaminya berlaku kasar karena merasa cemburu jika ada laki-laki yang berkenalan dengan Isabela.


Padahal Isabela melakukan itu semua demi mencari nafkah. Selama menikah, suaminya tidak pernah bekerja. Dia hanya mabuk-mabukan dan berjudi. Hal itu membuat Isabela terpaksa harus banting tulang mencari nafkah sendiri.


Cukup lama Sarah mengobrol dengan Isabela, hingga tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Dia segera pamit pulang dan berjanji akan mengunjunginya lagi besok.


“Semoga cepat sembuh,” ujar Libra kepada Isabela sebelum dia berlalu pergi. Selama menjadi tetangganya, baru kali ini dia berbicara dengan Isabela.


“Cepet sembuh ya, Tante.” Ava mengikuti apa yang Libra katakan.


Isabela tersenyum dan mengangguk. Dia bersyukur karena di pertemukan dengan orang-orang yang baik. dia berjanji tidak akan melupakan kebaikan mereka semua.


Sarah berjalan di depan, sementara Libra di belakangnya sambil menuntun Ava. Mereka menyusuri koridor menuju parkiran. Di sore hari seperti ini, banyak orang yang hendak mengunjungi pasien karena memang jam besuk.


“Lengan lo masih sakit?” tanya Libra yang kini sudah berjalan di samping Sarah.


“Sedikit, tapi udah lebih mendingan,” sahut Sarah.


Libra mengangguk-angguk. Saat melihat Sarah kesakitan sambil memegangi lengan atasnya, dia sangat marah dan ingin membunuh suami Isabela. Dia tidak terima melihat Sarah terluka. Entahlah, tapi perasaan itu muncul begitu saja.


Jika saja polisi tak muncul, mungkin Libra sudah membunuh lelaki bertato itu.


“Temen-temen gue lagi di kafe, mau nyusul gak?” tanya Libra seraya membukakan pintu mobil untuk Ava. Setelah memastikan Ava duduk dengan aman, dia berjalan memutar dan duduk di balik kemudi.


“Boleh,” ujar Sarah seraya memasang **seatbelt**nya.


Mereka pun meluncur ke tempat tujuan. Sarah senang bisa bergabung dengan teman-teman Libra. Apalagi teman-teman Libra begitu asik, sama sekali tak memandang berbeda kepada Sarah.


Ketika mereka sampai, Sarah langsung di sambut hangat. Bahkan Vivi langsung menciumi pipi Ava. Untung saja Ava sudah kenal dengan mereka, jadi dia bisa langsung berbaur.


“Kalian darimana? Kok gak ngajak-ngajak?” tanya Sabrina. Dia tampil begitu cantik mengenakan dress berwarna merah muda, dia juga mengenakan topi berwarna putih.


“Abis jenguk Isabela,” jawab Sarah seraya duduk. Sedangkan Ava sudah ada di pangkuan Vivi.


“Isabela?” tanya Davian. Dia seperti tahu nama itu, tapi dia tak ingat siapa Isabela.


“Cewe korban penusukan waktu itu loh,” jelas Libra.


“Oh, iya gue inget. Gimana keadaannya?” tanya Davian setelah berhasil mengingat siapa Isabela.


Ketika teman-temannya sibuk mengobrol, Arga hanya diam sambil mendengarkan. Dia sudah terbiasa menjadi pendengar untuk teman-temannya. Sifatnya yang pendiam membuat beberapa mahasiswi menyukainya, apalagi dia tampan.


“Udah lebih mendingan,” balas Libra.


“Pasti dia syok banget. Gue gak bisa bayangin gimana hidupnya.” Vivi ikut berkomentar.


Mereka semua asik mengobrol sampai malam. Banyak sekali hal yang mereka obrolkan, seolah tak pernah kehabisan topik.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍