WHISPER

WHISPER
Di Bawah Sinar Bulan



Sinar bulan memancarkan cahayanya dengan malu-malu. Angin malam menari-nari dengan gemulai, membuat Sarah beberapa kali mengusap lengannya.


Di sampingnya ada Libra yang terus bercerita banyak hal. Terutama progress komik yang sedang di kerjakannya. Ya, komiknya berkembang dengan pesat. Dia memiliki banyak pembaca, bahkan sudah mulai mendapatkan uang.


Mereka berdua berjalan di atas pasir putih sambil bertelanjang kaki. Tangan mereka saling bertautan satu sama lain, persis seperti sepasang kekasih.


Sekarang Libra mulai berubah. Dia tak lagi memiliki banyak wanita di hidupnya. Sekarang hanya ada Sarah seorang.


Malam ini Sarah tampak begitu cantik dengan balutan dress berwarna putih. Rambutnya berkilauan di terpa sinar bulan. Matanya memancarkan cahaya yang membuat san rembulan iri padanya. Bahkan kulitnya tampak seperti benang sutera.


“Ib, Victoria gimana?” tanya Sarah tiba-tiba.


“Gimana apanya?”


“Lo balikan sama dia?”


“Gak,” jawab Libra singkat. Dia enggan membahas tentang Victoria. Sejauh ini, dia sudah bisa melupakan wanita pencemburu itu.


“Terus? Em, lo sekarang sama siapa?”


Libra tampak menggeleng. Dia tak bisa bersama wanita lain sementara perasaannya kepada Sarah semakin besar. Bahkan dia tak tahu bagaimana cara menghentikannya.


“Atau lagi ada cewek yang lo suka?” tebak Sarah.


Keduanya terus berjalan menyusuri pantai dalam cahaya bulan. Momen ini menjadi momen paling indah dalam hidup Libra.


“Ya, gue lagi suka sama cewek.”


“Tuh kan, tebakan gue bener,” sahut Sarah sambil tersenyum riang. “Siapa?” tanyanya polos.


“Lo,” batin Libra. Dia hanya mengatakan itu di dalam hati. Dia tak memiliki keberanian untuk mengatakannya langsung kepada Sarah.


“Kalo udah waktunya, nanti lo bakal tau sendiri!”


Sarah hanya berdecak, dia penasaran wanita seperti apa lagi yang di sukai oleh sahabatnya itu. Cantik? Seksi? Popular?tentu saja wanita seperti itu yang di sukai Libra.


“Sarah, kenapa kita gak pacaran aja sih?” tanya Libra setengah tertawa. Sebenarnya dia hanya iseng menanyakan itu, tapi hati kecilnya mengharapkan jawaban yang tidak mengecewakan.


“Hahaha, kalo gue mau pacaran sama lo pasti udah dari dulu, Ib. Lo tuh terlalu berharga untuk di jadikan seorang kekasih yang nantinya akan kembali asing. Gue lebih nyaman gini.”


“Gue gak mau kehilangan lo hanya karena perasaan konyol dari dasar hati. Kalo kita terus bersahabat, pasti hubungan kita gak akan berakhir. Selamanya kita bisa kaya gini,” tambahnya.


Libra sama sekali tak setuju dengan ucapan Sarah. Dia menginginkan lebih. Dia ingin menjaga Saah melebihi dari sekedar sahabat. Dia ingin menyayangi Sarah sebagai seorang kekasih. Dan, dia ingin hidup bersama Sarah sebagai seorang sumi istri, bukan sahabat.


“Bilang aja gue terlalu tampan untuk di miliki!” seru Libra berusaha mencairkan suasana. Dia tak mau terlihat kecewa dengan jawaban Sarah.


“Dih, kepedean lo!” cibir Sarah sambil melirik Libra dengan sebal. Dia mengakui jika Libra memang tampan, tapi entah kenapa, perasaahannya hanya mampu berhenti sebagai sahabat.


Mereka berdua tertawa riang. Entah apa yang mereka tertawakan, yang jelas, keduanya bahagia.


***


Sarah dan Libra duduk di atas pasir saling berhadapan. Kaki mereka saling bertautan, tubuhnya condong ke belakang dengan kedua tangan yang menyangga di atas pasir. Mereka sama-sama menatap bulan.


“Ib, gue ketemu sama cowo dan gue langsung tertarik sama dia,” kata Sarah membuka percakapan. Dia masih menatap bulan sambil membayangkan wajah maskulin William. Sepertinya dia benar-benar menyukai William. Padahal baru beberapa kali bertemu.


Untuk beberapa saat Libra tak bereaksi. Dia hanya diam sambil menatap bulan. namun, hatinay seperti terhantam sesuatu yang sanat keras. Baru saja selesai dengan urusan Arzan, kini Sarah sudah mendapatkan pengganti Arzan.


“Em. Dia dosen di salah satu universitas. Dia nyaris sempurna.” Memikirkannya saja membuat Sarah begitu bersemangat. Dia jadi ingin bertemu lagi dengan William.


Libra menegakkan tubuhnya, lalu menatap wajah Sarah. Dia terdiam beberapa saat, wajah Sarah tampak begitu cantik dengan balutan sinar bulan. Dia ingin membelai pipi itu, mengecup keningnya dan menggenggam senyum menawan yang selalu hadir di wajah sahabatnya itu.


“Secepat itu lo tertarik sama cowok?”


Sarah sedikit tersinggung dengan pertanyaan Libra. Tapi dia tak mempermasalahkan karena malam ini terlalu indah untuk berdebat dengan Libra.


“Seperti yang gue bilang, dia nyaris sempurna. Segala yang ada pada dirinya, begitu menarik. Dia seperti magnet yang mampu menarik benda tanpa harus bersusah payah.”


Libra tertawa mengejek. Laki-laki mana yang tidak mamiliki cela? Dan apa tadi? Magnet?


“Sarah, lo harus belajar dari masa lalu. Bahwa laki-laki yang sempurnapun tak menutup kemungkinan untuk mendua atau menyakiti lo!”


“Dia beda,” lirih Sarah tak terpengaruh dengan ucapan Libra. Matanya masih betah memandangi bulan.


“Beda? Lo yakin? Gue harap lo gak secepat itu menarik kesimpulan.”


“Ib, gue butuh pasangan! Gue butuh seseorang yang bisa di ajak berbagi, berdiskusi, membimbing, bahkan berjalan beriringan!”


“Gue bisa ngelakuin itu semua buat lo! Jangan cari laki-laki lain untuk mendapatkan itu.”


Mata mereka beradu, saling menelisik satu sama lain. “Ibra, pasangan dan sahabat itu beda!”


“Lo tau apa yang gue rasain sekarang? Gue bebas tapi kesepian! Papa gak tau kemana, Arzan berpaling! Mama udah pergi, bahkan Ava pun ikut sama Mama! Sedangkan gue? Gue masih duduk di dunia ini sendirian!” tegas Sarah. Kini posisinya duduk tegak dengan kepala yang sedikit mendongak. Dia lemah, tapi tak mau menujukkkan itu.


Libra mendengus, dia beranjak beridiri lalu menepuk bagian belakangnya yang terkena pasir. Dalam keheningan malam, dia menatap air laut sambil hati yang begitu gundah. Dia tahu harus bagaimana.


“Kita beda, Ib. Lo pasih punya kedua orang tua! Punya banyak temen, bahkan lo bisa ganti pasangan semudah itu!”


“Sedangkan gue? Status gue janda, banyak orang yang memandang rendah gue. Nyari orang yang bisa nerima gue apa adanya tu susah!”


“Apa laki-laki yang lo maksud bisa menerima lo apa adanya?”


“Ya!”


“Gue gak yakin!”


“Gue yakin!” kata Sarah dengan suara sedikit keras. Dia ikut bangkit dan berdiri di belakang Libra.


Libra membalikkaa tubuhnya, lalu berkata dengan ekspresi serius. “Ternyata pengalaman tak selamanya bisa di jadikan pelajaran!”


Sarah tercekat. Dia tak sepenuhnya mengerti dengan ucapan Libra, tapi dia merasa seperti di jatuhkan dari atas ketinggian.


“Ib, gue butuh dukungan!”


“Gue cuma mengoreksi apa yang salah!”


“Salah di mata lo, belum tentu salah dia mata gue!”


Libra memalingkah wajahnya sejenak, lalu kembali menatap Sarah.


“Apa kita harus bertukar mata agar lo liat kekeliruan itu?”


Sarah mendunduk dalam-dalam. Dia tak meminta apa-apa dari Libra, dia hanya butuh dukungan dalam segi apapun. Tapi, kali ini Libra tak memberikan apa yang dia minta.