
“Nenek kan masih ada urusan di luar kota, sayang,” ujar Sarah seraya kembali duduk. Rasanya begitu sesak setiap kali Ava bertanya soal Naura. Entah sampai kapan harus membohongi Ava. Bagaimana perasaannya nanti jika selama ini di bohongi? Apakah dia akan membenci Sarah? Atau justru membenci neneknya yang pergi begitu saja?
Ava tampak cemberut, padahal dia sangat berharap bisa bertemu dengan neneknya. Dia rindu saat-saat bersama neneknya. Dia ingin bermain dan bercanda dengan neneknya.
Arzan kembali duduk, lalu meraih paperbag yang ada di sampingnya. Dia menyerahkan paperbag itu kepada Ava.
“Udah jangan sedih, Ayah bawa sesuatu buat kamu,” kata Arzan menghibur Ava.
Sarah mengernyit heran, karena terlalu terpesona dengan sosok Arzan, dia sampai tak sadar Arzan datang membawa satu paperbag yang berisi boneka. Sosok Arzan benar-benar mengalihkan dunianya. Dan dia benci itu.
Ava bersorak gembira, lalu segera membuka paperbag itu. Dia mengucapkan terimakasih kepada Arzan. Sarah mengajarkan kepada Ava untuk selalu mengucapkan terimakasih setiap kali ada orang yang memberinya sesuatu. Rasa terimakasih itu sudah Sarah tanamkan sejak dini kepada Ava.
Ketika Ava sedang sibuk memainkan boneka barunya, tiba-tiba terdengar suara bel rumah. Sarah langsung keluar karena ia tahu itu adalah makanan yang di pesan oleh Libra. Setelah membayar, Sarah kembali masuk ke dalam. Dia menuju ruang makan dan menyusun makanan di atas maja.
Setelah selesai menyusun makanan di atas meja, Sarah memanggil Libra, Arzan beserta Ava untuk makan malam. Dia berharap semoga makan malam kali ini tidak canggung. Dulu juga mereka berempat pernah makan malam bersama. Bedanya, dulu dia masih menjadi istri Arzan, sedangkan sekarang tidak.
Libra masuk dan duduk di samping Sarah, sedangkan Arzan duduk di seberangnya dan Ava di sampingnya. Di meja makan sudah terhidang berbagai olahan ayam. Sarah juga sudah menuangkan tiga gelas air putih.
“Ava makan di suapin Ayah, ya,” ujar Arzan sambil menyendok nasi. Sudah lama dia tak menyuapi anaknya. Malam ini dia akan makan dan menyuapi Ava seperti dahulu. Lagi-lagi Sarah hanya diam sambil memandangi Arzan dan Ava. Momen seperti itu dulu sering di lihatnya, tapi baru kali ini dia menyadari jika momen seperti itu ternyata sangat berharga.
“Makan, ngalamun mulu, lo!” seru Libra sambil menyenggol lengan Sarah dengan sikunya. Lagi-lagi dia melihat Sarah seperti orang bodoh.
Sarah terkesiap dan tersenyum kaku, dia segera menyendok nasi dan menormalkan kecanggungannya. Dia makan dengan sangat pelan, bahkan Libra sampai melongo tak percaya.
“Cinta emang bikin orang goblok,” batin Libra sambil menggeleng sekilas.
Acara makan malam kali ini banyak di isi oleh keheningan. Sesekali hanya celetukan Ava yang di tanggapi oleh Arzan. Libra masih jengah melihat cara makan Sarah. Dan Sarah? Tentu saja dia makan dengan hati-hati dan lembut. Dia seperti seorang remaja yang sedang jatuh hati dan berusaha memikat lawan jenisnya.
***
Sarah membuka mata, menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkecambuk. Dia mengingat-ingat kejadian semalam, saat Arzan datang ke rumahnya. Kenapa Arzan baru datang sekarang? Kenapa Arzan baru meminta maaf dan menyesal sekarang? Kenapa saat di pengadilan agama Arzan terlihat begitu santai? Bahkan terlihat bahagia. Apa sekarang Arzan sudah tidak bahagia?
Berbagai macam pertanyaan itu memenuhi kepala Sarah. Tapi dia sama sekali tak menemukan jawabannya.
“Apa gue telpon Libra aja ya?” tanya Sarah lirih sambil terus memandangi Ava. Dia bingung harus membawa Ava atau menitipkannya kepada Libra.
Tapi dia tak mau merepotkan Libra. Mungkin saja Libra sibuk dengan wanita simpanannya di luar sana. Dia tak mau mengganggunya. Sambil menunggu Ava bangun, Sarah beranjak menuju kamar mandi. Dia mengikat rambutnya asal, lalu mencuci muka dan menggosok gigi.
Seperti biasa, dia akan bersih-bersih rumah. Lalu memasak, mandi dan mengurus Ava. Rutinitas seperti itu sudah ia lakoni selama ini. Tanpa bantuan orang lain. Ketika Sarah sedang menyapu, ponselnya berdering menandakan ada seseorang yang menelepon.
“Halo, Ibra. Ada apa?” tanya Sarah setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Dia heran kenapa pagi-pagi buta Libra meneleponnya. Dia menduga pasti ada sesuatu yang penting.
[Hari ini gue mau renang, gue bawa Ava ya, boleh?] tanya Libra tanpa basa-basi. Sebenarnya dia tahu bahwa Bu Lasih tak mau di titipi Ava karena reputasi Sarah yang begitu buruk di mata warga sekitar. Diam-diam dia mencari tahu tentang itu. Apalagi Sarah di cap sebagai janda gatel gara-gara dirinya yang keluar masuk rumah Sarah sesuka hati. Sebenarnya dia sedikit merasa bersalah, tapi dia sendiri tak bisa menjauhi Sarah.
“Boleh aja sih, emang gak ngerepotin?” tanya Sarah sedikit ragu.
[Gak, gue malah seneng kok kalo bawa Ava]
“Oke, lo kesini aja,” ujar Sarah kemudian. Dia justru bersyukur jika Ava bersama Libra. Daripada harus membawanya ke kantor. Ava juga sudah lama tak keluar rumah.
Setelah menutup telepon, Sarah segera melanjutkan aktivitas bersih-bersihnya. Hanya butuh waktu satu jam untuk membersihkan seluruh sudut rumah. Untung saja rumahnya tak begitu besar, jadi dia tak kewalahan mengurus rumah.
Mandi, membuat sarapan, bahkan memandikan Ava sudah. Kini dia sedang menunggu Libra datang dan akan mengajaknya sarapan. Dan benar saja, tak lama kemudian Libra datang dan ikut sarapan bersama mereka.
“Sar, gue jijik banget liat lo yang sok cantik waktu Arzan dateng ke sini,” celetuk Libra seraya menggigit roti tawarnya yang di olesi selai coklat.
“Ck, gue biasa aja!” balas Sarah di sela kunyahannya. Dia tak mau mengingat-ingat kejadian semalam. Jika di pikir-pikir, sikapnya memang begitu menjijikkan.
“Gue heran, kenapa sikap lo jadi berubah banget waktu Arzan dateng? Dari cara lo duduk, ngomong, bahkan makan. Lo kek orang yang kasmaran dan harus jaim di depan doi,” sindir Libra yang langsung tepat sasaran. Dia masih mengingat jelas seperti apa ekspresi Sarah semalam.
“Ib, gue udah selesai sarapan. Gue berangkat dulu ya, jagain Ava,” kata Sarah seraya beranjak berdiri. Dia mencium kening Ava dan segera melesat pergi. Jika berlama-lama sarapan bersama Libra, dia takut di pojokkan oleh sahabatnya itu. Dia sendiri begitu muak mengingat-ingat kejadian semalam.
“Sar, gue belum selesai ngomong, jangan pergi!” seru Libra dengan nada sedikit keras. Namun Sarah mengabaikannya dan tetap pergi. Dalam hati dia merutuki kebodohannya yang mendadak keluar ketika Arzan datang.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️