
“Semuanya.”
“Lo gak perlu minta maaf. Semua maaf dari lo, gak ada gunanya!”
Arzan menunduk sebentar, lalu kembali menatap Sarah. Tujuannya datang bukan hanya untuk minta maaf, tapi dia ingin membawa Ava kembali tinggal di rumahnya. Dia sangat yakin jika Ava tak akan menolaknya.
“Kok lo tau rumah gue?” selidik Sarah. Dia tak pernah memberikan alamat rumahnya kepada Arzan, tapi Arzan bisa sampai di rumahnya. Pasti ada seseorang yang memberi tahunya.
“Gue mau bawa tinggal di rumah gue lagi. Mamah kangen,” ujar Arzan mengabaikan pertanyaan Sarah. Dia justru mengajukan permintaan yang membuat Sarah membelalak lebar.
“Apa?” tanya Sarah tak percaya. Bukannya dia mau bersikap egois, tapi melihat Ava kemarin, dia jadi tak tega membiarkan Ava tinggal bersama Arzan.
“Gue gak akan mengizinkan!”
Arzan berjalan mendekati Sarah, kini jaraknya semakin dekat. “Gue punya hak atas Ava! gue juga boleh bawa Ava kapanpun selagi dia mau!”
Dengan tergesa-gesa, Sarah mendekati Arzan. Kini mereka berdua berdiri berhadap-hadapan. Bendera perang sudah berkibar di antara keduanya. Bahkan mata mereka berkilat-kilat memancarkan emosi satu sama lain. Tak di sangka, cinta yang dulu tumbuh begitu indah, kini berubah menjadi kebencian yang amat dalam.
“Gue gak akan izinin lo bawa Ava untuk kedua kalinya! Lo gak bisa rawat Ava dengan baik!”
“Gue akan buktiin kalo gue bisa jadi Ayah yang baik!”
“Lo gak perlu repot-repot buat buktiin, karena Ava bisa hidup tanpa lo!” teriak Sarah keras. Bahkan otot lehernya sampai menonjol. Kini dadanya naik turun mengatur emosi.
“Sarah!” bentak Arzan dengan mata yang melotot sempurna.
“Gue bisa menjadi orang tua yang jauh lebih baik dari lo!”
Sarah tersenyum miring, senyum yang tampak meremehkan. Ya, dia memang meremehkan Arzan. Laki-laki bajingan seperti Arzan, pastilah tidak bisa menjadi ayah yang baik. Jangankan jadi ayah yang baik, jadi suami yang baik saja tidak pernah.
“Apapun alasannya, gue agak akan izinin!”
Arzan menggeram lirih, dia membalikkan badan dan langsung menuntun Ava menuju mobilnya. Gerakan yang begitu cepat, membuat Sarah kewalahan. Dia berteriak-teriak memanggil nama Ava, namun Arzan acuh saja. Dia mendudukkan Ava di jok penumpang, lalu sambil berlari dia menuju pintu samping dan segera duduk di balik kemudi. Dia mengabaikan Sarah yang teriak-teriak marah.
“Arzan! Brengsek lo! Jangan bawa Ava!” teriak Sarah sambil memukul-mukul kaca mobil di samping Arzan.
Arzan cuek saja, dia segera menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas dan melesat pergi. Sarah tak kehabisan akal, dia segera berlari menuju rumah. Mengambil kunci mobil lalu mengejar mobil Arzan.
“Ayah, kenapa buru-buru?” tanya Ava yang tak mengerti. Tangannya masih kotor dengan tanah, bahkan beberapa dauh menempel di bajunya.
“Gak apa-apa sayang, Ayah ada kerjaan makanya buru-buru,” sahut Arzan berbohong. Dia melirik spion, ternyata mobil Sarah tepat berada di belakangnya. Dia memacu mobilnya menjadi lebih cepat, aksi kejar-kejaran itu terjadi hingga beberapa saat.
Sarah yang gelap mata menginjak pedal gasnya lebih kencang. Ketika sudah berhasil menyalip mobil Arzan, dia membanting stir untuk menghalangi mobil Arzan.
Ckit…
“Brengsek!!!” umpat Arzan dalam hati. Tentu saja dia mengumpat dalam hati, dia tak mau Ava mendengar kalimat umpatan yang keluar dari mulutnya.
Sarah berlari menghampiri mobil Arzan, namun sebelum sampai, Arzan sudah menggendong Ava dan akan membawanya pergi. Arzan menyebrangi jalan dengan tergesa-gesa, dia tak sempat tengok kanan-kiri karena takut terkejar oleh Sarah. Jalanan yang cukup sepi membuatnya merasa aman, namun siapa sangka, ada truk yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Tinnnnn…….
Brakkkk…….
Brum…
Truk itu kabur dengan kecepatan tinggi. Setelah itu semuanya menjadi hening. Sarah merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, penglihatannya kabur. Hampir saja dia tak bisa menahan tubuhnya.
Untuk beberapa saat, Sarah hanya memandangi Arzan dan Ava yang sudah bersimpah darah. Dia berdiri membeku, merasakan angin yang seolah menyadarkannya. Detik berikutnya, Sarah menjerit histeris.
“AVA!” teriaknya seraya berlari menghampiri Ava. Dia berjongkok dan melihat kondisi Ava. Dia meringis ngeri ketika melihat kondisi Ava dan Arzan. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengecek denyut nadi anaknya.
“Nggak!” Sarah menggeleng. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Tangannya yang bergetar hebat kembali mengecek denyut nadi Ava. Tapi, meskipun dia mengeceknya berkali-kali, dia tak berhasil merasakan denyut nadi Ava.
Tangis Sarah pecah. Dia berteriak-teriak persis seperti orang gila. Tak hanya itu, dia juga menggoyang-goyang tubuh Ava dengan kuat, berharap nyawa anaknya bisa terselamatkan.
Tepat ketika ada sebuah mobil berhenti di dekatnya, tubuh Sarah ambruk tak sadarkan diri. Kesadaran Sarah hilang karena tak kuasa menahan kesedihan sekaligus rasa sakit. Dia terus menerus kehilangan orang yang di cintainya.
Kehilangan Naura saja hampir membuatnya hilang akal, apalagi sekarang harus kehilangan Ava. Entah apa yang akan terjadi kepadanya. Mungkin dia tak akan sanggup menghadapi ini semua. Mungkin dia ingin mengakhiri hidupnya, menyusul ibu dan anaknya.
Sarah benar-benar tak bisa bertahan di dunia yang telah melenyapkan dua orang kesayangannya.
Dari mobil itu, muncul seorang laki-laki bersama seorang wanita seksi. Laki-laki itu adalah Libra. Dia langsung berteriak memanggil nama Ava dan Sarah. Dengan perasaan tak karuan dan tubuh gemetar, Libra segera membawa Arzan, Sarah dan Ava ke rumah sakit.
“Kita ke rumah sakit sekarang!” perintah Libra kepada wanita seksi itu. Arzan di bawa menggunakan mobil Libra, sedangkan Sarah dan Ava di bawa menggunakan mobil Sarah.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Libra tak henti-hentinya berdoa demi keselamatan Sarah dan Ava. Dia belum memeriksa denyut nadi Ava, jadi dia tak tahu jika nyawa Ava tak tertolong.
“****!” umpat Libra ketika mobilnya harus berhenti di lampu merah. Dia menunggu dengan tak sabaran, sesekali dia menoleh ke belakang, menatap Sarah yang tengah tak sadarkan diri.
Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat kondisi Ava, kecelakaan yang menimpanya begitu parah. Ketika lampu sudah kembai berwarna hijau, Libra langsung menginjak pedal gas dengan tak sabaran. Dia ingin segera tiba di rumah sakit, menyerahkan Sarah dan Ava agar di tangani dokter.
“Sarah, sabar ya,” lirih Libra.
Meskipun hatinya begitu kalut, tapi dia tetap mencoba untuk konsentrasi saat menyetir.
Setibanya di rumah sakit, Libra langung berteriak meminta bantuan kepada perawat yang sedang bertugas. Keringat dingin sudah mengucur di tubuh Libra, jantungnya berdegup kencang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️