WHISPER

WHISPER
Dunia Baru



Sarah membuka pintu sambil senyum-senyum. Entah berapa lama dia menghabiskan waktu bersama William, yang jelas dia sangat bahagia. Banyak sekali topik obrolan yang mereka bahas. Ternyata William menyenangkan.


Senyum Sarah pudar ketika melihat Isabela duduk di sofa sambil menghisap rokoknya, sedngkan di depannya ada laptop dan dua ponsel. Setelah Ava pergi, Isabela secara terang-terangan merokok di depan Sarah.


“Bel, lo kenapa? Ada masalah?” tanya Sarah ketika melihat wajah Isabela yang begitu kusut. Ketika Isabela ada masalah ataupun banyak masalah, maka raut wajahnya begitu jelas.


“Lo tau Tiara, kan? Tetangga sebelah?”


“Iya, tahu. Kenapa?” tanya Sarah yang kini sudah duduk di hadapan Isabela. Tas selempangnya dia taruh asal di sisi kanannya.


“Masa dia bikin berita hoax tentang gue!” seru Isabela tak terima.


Sarah tampak mengernyit bingung. setahunya, Tiara selalu bersikap baik kepadanya. Tapi kenapa justru membuat Isabela marah. “Emang berita apa?”


“Dia ngatain gue janda muda yang pernah gugurin kandungan. Tu anak bener-bener gila!” kata Isabela dengan emosi yang meluap-luap. Matanya berkilat-kilat karena amarah.


“WHAT?” pekik Sarah. Dia tak menyangka jika berita hoax yang di sebarkan Tiara begitu buruk.


Untuk beberapa saat ekspresi wajah Sarah masih terkejut. Dia memiringkan kepalanya sambil berusaha berpikir. Daripada Tiara dapat berita itu?


“Tunggu,” ujar Sarah sambil mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan yang terangkat di depan dada.


“Gue gak ngerti kenapa Tiara ngomong gitu. Selama ini, lo gak pernah ngobrol sama Tiara secara pribadi. Pasti gue yang ngobrol sama dia.”


“Nah, itu dia! Kenapa tu anak ngomong gitu?” Seketika Isabela ingat dengan komentar buruk beberapa waktu yang lalu. Komentar itu di buat oleh akun fake. Namun, kini justru Tiara yang menyebarkan berita itu di sosial media.


“Emm, kasus lo dulu, gimana? Maksudnya, selain berita tetang lo di tusuk sama mantan suami lo, ada berita lain gak?”


Isabela tampak berpikir, dia mengingat semua berita yang pernah di bacanya. “Media tuh gak tau kalo gue hamil.”


“Lo yakin?”


Isabela mengangguk pasti, “Gue yakin banget.”


“Satu lagi, lo yakin pihak rumah sakit gak ngasih tau ke media?”


“Gak mungkin rumah sakit ngasih tau ke media.”


Kini keduanya tampak berpikir keras. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Tiara. Berbagai macam pertanyaan muncul di kepala mereka. Bahkan Sarah yang tadinya masih kesemsem dengan William, seketika lupa. Kini fokusnya kepada Isabela dan Tiara.


“Rencana lo apa?” tanya Sarah setelah beberapa lama mereka terdiam.


Isabela justru menopang dagu, dia menatap kosong ke arah jendela. Dia sendiri belum tau akan melakukan apa. Otaknya belum bisa berpikir soal rencana.


“Gak tau,” ujar Isabela lemas. Dia tak mau bertindak gegebah, tapi juga tak mau bertindak lambat. Secepatnya berita itu harus dia singkirkan agar tak berpengaruh pada pekerjaannya.


“Mending lo klarifikasi aja deh,” usul Sarah.


“Gue mau nyari akar masalahnya dulu.”


***


Sarah menatap layar laptop dengan was-was, dia takut jika ujian masuk kulihanya gagal. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Ucapan pedas para tetangganya dulu selalu terngiang. Meskipun Ava sudah tidak ada, tapi dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa sukses.


“Apa pilihan gue tepat?” batin Sarah. Setelah sekian banyak yang dia lalui, kini dia kembali memulai hidupnya dari nol. Benar-benar dari nol dengan tidak adanya keluarga.


“Sarah!” panggil Libra keras dari luar kamarnya.


Sarah terkejut mendengar panggilan itu. Dia segera mematikan laptop dan berjalan keluar. Dia sama sekali tak sadar dengan apa yang di pakainya. Tubuhnya hanya di balut celana pendek dan tanktop berwarna putih.


Libra tertegun sejenak, lagi-lagi jantungnya berdisko. Melihat Sarah yang begitu cantik dengan pakaian seksi, ada rasa ingin memiliki yang tiba-tiba tumbuh. Dia semakin tak rela melihat Sarah bersama laki-laki lain.


Entah sejak kapan perasaan itu muncul, yang jelas, itu sangat mengganggu. Dia sadar, sampai kapanpun Sarah tak akan mencintainya sebagai seorang kekasih. Tapi, diapun sadar jika cinta yang bersemi di hatinya tak akan pernah pudar.


Sarah mendudukkan diri di depan Libra. Bahunya merosot ke bawah, wajahnya tertekuk dengan sempurna.


“Lo kenapa?” hanya kalimat itu yang mampu terlontar dari mulut Libra. Dia belum sepenuhnya menguasai perasaan yang terus bergejolak.


“Sebelum novel gue terbit, lo inget kan kalo gue ikut ujian masuk univ?”


“Hmm.”


“Gue lulus!”


Libra membenarkan posisi duduknya. Kini dia sudah lebih santai daripada sebelumnya. “Bagus, dong.”


Sarah melempar tatapan malas. Memang bagus, tapi dia memikirkan langkah selanjutnya. Apa dia mampu membiayai kulihanya? Apa pekerjaannya akan lancar? Apa menulis novel mampu mencukupi kebutuhna hidupnya? Dan lagi, biaya hidupnya pasti akan bertambah.


“Gue pusing tentang uang.”


Libra tampak tertawa mengejek. Setelah tawanya reda, dia menatap Sarah dengan tatapan lembut. Demi apapaun, Sarah sangat benci dengan tatapan lembut seperti itu.


“Lo punya kemampuan menulis! Harusnya lo bisa belajar lebih banyak lagi tentang tulisan. Selain jadi novelis, lo juga bisa punya pekerjaan lain.”


“Misalnya?”


“Lo harus belajar content writing, copy writer, atau yang lainnya. Lo juga bisa mengelola blog yang nantinya bisa di jadikan sebagai ladang uang. Hidup itu tentang belajar Sarah.”


“Setiap hari, bahkan setiap detik lo harus terus belajar.”


Sarah begitu tertarik dengan apa yang di ucapkan Libra. Selama ini dia hanya mengenal dunia fiksi saja. Dia sama sekali tak mengenal dunia yang lebih luas lagi mengenai tulisan.


“Kok lo tau itu semua?”


“Karena gue belajar!”


Sarah mencebikkan bibirnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah. Dia tampak lelah dan butuh udara segar.


“Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat. Jam tujuh malem gue jemput,” kata Libra seraya beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke sebuah ruangan yang di jadikan sebagai perpustakaan pribadi oleh Sarah. Di ruangan itu terdapat banyak jenis buku. Namun koleksinya belum terlalu banyak.


“Ke mana?” tanya Sarah yang ikut beranjak berdiri dan menyusul Libra. Dia duduk di salah satu kursi kosong. Lalu tangannya meraih sebuah novel.


“Liat aja nanti,” sahut Libra. Dia juga mengambil sebuah novel dan duduk di kursi. Mereka berdua larut dalam bacaan masing-masing. Sesekali mereka berbicara tentang apa yang sedang di bacanya, dan selebihnya hanya keheningan.