WHISPER

WHISPER
Gerimis Malam



Sarah mengamati ruangan sekitar. Meskipun apartemen Libra tidak luas, tapi terlihat begitu rapi. Libra berjalan di depan Sarah, lalu mengenalkan segala yang ada di apartemen miliknya. Dia juga menunjukkan kamar untuk Sarah dan Ava. kamar itu tidak luas dan masih begitu berantakan, Sarah harus membersihkannya terlebih dahulu.


“Lo istirahat aja, biar gue yang beres-beres,” ujar Sarah seraya mengikat rambutnya dengan asal. Dia mulai menata kamarnya dengan membersihkan debu-debu di lemari, meja dan ranjang. Lalu menata baju di dalam lemari. Menyapu, mengepel, dan memasang seprei. Setelah semuanya beres, dia keluar untuk memasak.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat Libra dan Ava tertidur sambil berpelukan. Mereka tertidur di depan TV sementara TVnya masih menyala. Lama kelamaan Ava begitu lengket dengan Libra.


Apartemen ini terdiri dari empat ruangan. Ruangan pertama sebagai ruang tamu dan ruang TV yang tidak di batasi oleh apapun. Lalu ada dapur dan ruang makan yang menjadi satu ruangan. Kemudian dua ruangan lagi untuk kamar Sarah dan Libra.


Kombinasi warna abu tua dan putih terlihat begitu serasi. Masing-masing kamar juga memiliki balkon yang memungkinkan untuk bersantai di balkon sambil menatap pemandangan sekitar. Meskipun pemandangannya hanya jalanan dan gedung-gedung tinggi, tapi jika malam tiba, pemandangannya cukup bagus karena efek lampu yang bergemerlapan.


Sarah sudah menata balkonnya sedemikian rupa. Ada  dua kursi dan meja di balkonnya, yang nantinya akan dia gunakan sebagai tempat menulis novel.


Sementara Libra dan Ava tertidur, Sarah memasak untuk makan malam. Untungnya dia sudah membeli banyak bahan makanan sebelum sampai di apartemen tadi.


Sarah mulai berkutat dengan alat masak. Dia tak memasak banyak. Hanya memasak kerang, sayur hijau, sop, dan hidangan penutup. Meskipun rasanya begitu lelah, tapi dia bahagia dengan semua yang di miliki sekarang.


Sebelum Sarah selesai, Ava terbangun dan memanggil-manggil namanya. Tampaknya Ava masih asing dengan tempat barunya.


“Bundaaaaa,” pekik Ava dengan nada yang sedikit ketakutan.


Libra terbangun dan menenangkan Ava, sementara Sarah tergopoh-gopoh datang sambil membawa sebotol susu. Setelah menyerahkan botol susu kepada Libra, Sarah kembali ke dapur dan melanjutkan memasak. Untung saja Ava sudah akrab dengan Libra, jadi cukup mudah untuk menenangkannya.


Setelah Ava tenang, Libra mengajaknya untuk mandi. Awalnya Ava menolak, dia ingin dimandikan oleh Sarah, tapi berkat keahlian Libra dalam membujuk, akhirnya Ava menurut.


Libra bingung harus bagaimana ketika sudah sampai di kamar mandi. Dia belum memiliki pengalaman memandikan anak kecil sama sekali. Akhirnya dia berteriak meminta intruksi kepada Sarah. Akhirnya mereka saling berteriak sahut menyahut demi kelancaran memandikan Ava. Memandikan anak kecil harus benar-benar memiliki kesabaran.


“Ini pertama kalinya gue mandiin anak kecil, ternyata susah ya,” ujar Libra seraya mendudukkan diri di meja makan. Ava sudah cantik dengan stelan baju tidur, dan kini sedang asik bermain di ruang TV.


“Gue aja awalnya bingung, untung aja Mama sering dateng dan ngasih tau caranya.” Sarah menimpali sambil mengiris cabai merah.


“Lo mau matcha gak?” tanya Sarah tanpa menoleh ke arah Libra.


“Gak usah, gue mau mandi,” sahut Libra. Dia berjalan menuju kulkas, mengambil sebotol air minum dan menuangkannya ke dalam gelas. Hanya karena memandikan Ava, dia mendadak jadi haus.


***


Dia sibuk mencari nama tokoh untuk novel yang akan di kerjakannya. Mulai dari tokoh utama sampai tokoh pendukung. Selesai membuat tokoh beserta karakternya, dia membuat alur cerita sedemikian rupa. Dia mengangkat kisah cinta anak-anak SMA.


Setelah semua selesai, jari-jemari Sarah mulai menari-nari di atas keyboard. Dia mengetikkan kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga menjadi paragraf. Hawa dingin yang menyerangnya justru menambah sensasi ilusi yang sedang dia ciptakan.


Sambil mengetik, pikiran Sarah terus menciptakan dunia fiksi yang dia buat sendiri. Dia benar-benar hanyut ke dalam dunia fiksinya. Segala adegan dia tulis, segala dialog dia susun.


Hingga tak sadar jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Sarah masih asik mengetik. Sesekali dia menyesap kopinya, menikmati rasa pahit dan manis yang menyatu di lidahnya.


Sarah menghentikan aktivitasnya, mengalihkan pandanganya dari laptop dan merenggangkan otot-ototnya. Gerimis kecil turun, membuat hawa semakin dingin bahkan menusuk sampai ke tulang.


Sarah masuk ke dalam kamar, mengambil selimut dan kembali lagi ke balkon. Dia duduk sambil menyelimuti dirinya sendiri. Laptop sudah dia matikan, dan kini Sarah hanya duduk diam sambil menikmati kesunyian.


Dia masih tak menyangka jika hidupnya menjadi seperti ini. Rasanya seperti mimpi. Dia cantik, memiliki kemampuan sendiri, mandiri, setia, tapi kenapa Arzan tega menyia-nyiakannya? Pertanyaan itu terkadang muncul di kepala Sarah. Tapi sampai sekarang dia masih tak tahu jawabannya.


“Mah, Sarah kangen,” rengek Sarah dalam kesunyian malam. Dia benar-benar kesepian. Tidak ada orang tua, pasangan, bahkan teman. Yang tersisa hanyalah Ava dan Libra.


Sarah menggeleng, menyadarkan dirinya sendiri agar tidak larut dalam kesedihan yang mendalam. Masa depannya masih panjang. Dia memiliki Ava yang harus dia rawat. Setidaknya Ava menjadi alasan kenapa dia masih hidup sampai sekarang.


“Gue disini harus punya kehidupan yang lebih baik,” ujar Sarah dengan optimis. Dia tak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun.


Sarah beranjak berdiri, mengambil laptopnya dan masuk ke dalam kamar. Sebelum tidur, dia memandangi Ava terlebih dahulu. Entah sampai kapan Ava akan hidup tanpa ayah seperti ini. Tapi dari hati kecilnya, dia sangat berharap memiliki pendamping secepatnya. Dia butuh seorang pemimpin sekaligus ayah untuk Ava.


“Apa terlalu cepat?” batin Sarah. Dia jadi bingung sendiri. Di satu sisi, dia benar-benar butuh pendamping, tapi di sisi lain, dia masih trauma dengan kisah cintanya dulu. Perselingkuhan membuatnya sedikit takut menjalin hubungan dengan seseorang. Ketika hendak tidur, HP Sarah bergetar menandakan ada notifikasi masuk. Dia meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


“Arzan,” ucapnya dengan lirih. Dia membaca pesan Arzan yang ternyata menanyakan kabar Ava. Tak hanya itu, dia juga menanyakan kabar Sarah. Sejujurnya dia ingin membalas pesan itu, tapi otaknya bersikeras untuk tidak membalas.


“Gak, gue gak boleh bales pesan ini!”


Namun beberapa detik kemudian dia sudah sibuk mengetik dan memikirkan kata-kata yang pas untuk membalas pesan Arzan. Persetan dengan otak yang mencegahnya untuk tidak membalas, toh akhirnya dia membalas juga. Lucu memang, ketika hati dan otak saling bertentangan.


“Gak apa-apa, sekali aja gue bales!” kata Sarah. Setelah itu dia meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, lalu tidur.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍