
Sarah membuka mata perlahan. Cahaya lampu langsung menusuk ke matanya yang membuatnya menyipit. Dia menatap langit-langit dengan bingung. “Apa gue udah di akhirat?” batin Sarah. Dia mengedarkan pandangannya sekeliling, lalu pandangannya berhenti ketika melihat dua orang sedang duduk di sofa.
Isabela tampak sibuk melakukan siaran langsung, sedangkan Arga sibuk mengetik di depan laptopnya. Sarah menelan ludah dengan susah payah. Dia sedikit kecewa karena ternyata dirinya masih ada di dunia. Namun dia juga bersyukur karena masih hidup.
Mendengar suara keyboard di tekan, Sarah merasa rindu dengan laptopnya. Dia ingin kembali menulis, menggetarkan pembaca melalui tulisan-tulisannya.
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang begitu menusuk.
“Sarah,” panggil Arga lirih ketika mendapati Sarah sudah membuka mata.
“Kenapa?” tanya Isabela yang sontak menoleh. Dia menatap Arga heran, kemudian matanya mengikuti arah pandang Arga. Dia terkejut sekaligus bahagia ketika melihat Sarah sudah membuka mata.
Dengan sekali klik, Isabela mengakhiri sesi siaran langsungnya. Dia berlari menuju Sarah dengan perasaan bahagia. Dia sampai menangis terharu.
“Sarah, akhirnya lo bangun. Gue kangen banget sama lo,” pekik Isabela tertahan. Dia membekap mulutnya sambil memegang tangan Sarah.
“Behari-hari gue nungguin lo, berharap supaya lo bangun, bahkan gue tidur di sini. Aaaaa, gue kangen banget sama lo,” ujar Isabela sambil memeluk Sarah. Dia mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.
Arga hanya tersenyum melihat adegan itu. Dia tak memberi komentar apapun. Dia justru mengambil ponselnya dan memberi kabar kepada Libra.
“Sarah, lo jangan mati dulu. Temenin gue berjuang, ya. Kita maju sama-sama. Lo kan udah janji mau nemenin gue selamanya,” kata Isabela lagi. Wajahnya memohon, agar Sarah bangkit dan mau melangkah bersamanya.
Perlahan-lahan Sarah menarik sudut bibirnya. Dia baru sadar jika selama ini ada orang yang sangat menyayangi dan perhatian kepada dirinya. Ternyata dia tak pernah sendirian, ada orang yang selalu mendampinginya.
“Lo tau gak? Gue baca novel online lo. Bahkan banyak pembaca yang nunggu lo update chapter selanjutnya. Cepet sembuh ya, biar lo bisa nulis lagi. Oh, ya. Om Amar juga ngehubungi gue kalo novel lo butuh revisi sedikit. Abis itu bakal bisa terbit. Lo jadi penulis sesungguhnya Sarah,” terang Isabela panjang lebar. Matanya berbinar-binar ketika menyampaikan berita itu. Dia berharap agar Sarah kembali bangkit dan melanjutkan hidupnya.
Sarah mengangguk lemah. Kini dia mulai bisa menerima keadaan. Meskipun sangat sulit, tapi dia akan mencobanya. Sudah berminggu-minggu sejak kematian Ava, dia harus ikhlas agar Ava tenang di dunia barunya.
Isabela menarik kursi yang ada di sampingnya, lalu mendudukan diri sambil terus memandangi Sarah.
“Setelah lo sembuh, pokoknya kita ke salon. Lo harus perawatan!” tegas Isabela. Dia akan mengembalikan Sarah seperti sedia kala.
“Liat nih,” ucap Isabela sambil menujuk lengan Sarah. “Lo kurus banget, tinggal tulang doang. Pokoknya lo harus makan banyak biar berat badan lo bertambah!”
“Terus, ini nih,” ucapnya lagi sambil menunjuk kulit Sarah yang tampak kering dan kusam. “Kulit lo kering lagi!”
“Terus ini,” tambahnya sambil menujuk jerawat yang ada di wajah Sarah. “Lo jerawatan! Pokoknya lo harus ekstra perawatan.”
Arga hanya geleng-geleng melihat kelakuan Isabela, sedangkan Sarah lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis. Sahabatnya itu benar-benar cerewet.
***
Libra membuka pintu tak sabaran. Ketika baru masuk, dia langusng berteriak menyebut nama Sarah. Isabela sampai terlonjak kaget karena ulah Libra.
“Gila! Ketuk pintu dulu, kek,” kesal Isabela sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Dia berniat makan malam berama Arga sementara Libra menjaga Sarah.
“Makasih, makasih karena lo mau bertahan hidup,” ujar Libra dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Isabela dan Arga sampia meringis tak percaya melihat Libra yang begitu cengeng.
“Ib, gue sama Arga mau pergi. Lo jagaian Sarah sampe besok ya,” ujar Isabela sebelum dia benar-benar pergi.
Libra hanya mengangguk sekilas, perhatiannya masih terpusat pada Sarah yang sedang terbaring lemah di depannya.
Setelah Isabela dan Arga menutup pintu, Libra kembai berucap, “Masih sakit?”
Sarah tersenyum tulus, lalu menggeleng dengan lemah. Tangan yang masih dalam genggaman Libra, kini bergerak ke atas untuk menyentuh pipi Libra.
“Thanks,” lirihnya. Jari itu membelai pipi Libra dengan gerakan lembut. Matanya terus memandangi wajah Libra yang terlihat begitu tampan. Dengan semua pengorbanan dan kebaikan Libra, dia masih saja belum bisa menyukai sahabatnya itu.
Harusnya, Sarah bisa menyukai Libra sebagaiman dia menyukai Arzan. Tapi sampai detik ini, perasaan suka itu tak kunjung muncul. Dia sampai heran dengan dirinya sendiri. Apa yang salah?
“Sarah, lo gak boleh ngelakuin ini lagi.”
“Gue takut, gue gak bisa di tinggal lo sendirian.”
“Kalo lo pergi, gue sama siapa dong?”
“Jangan pergi ya, lo harus sama gue selamanya. Lo harus masakin gue kalo gue laper, lo harus beresin apartemen gue kalo berantakan, dan masih banyak lagi tugas lo,” kata Libra setengah bercanda.
Sarah menepuk pipi Libra perlahan, lalu kembali menurunkan tangannya. Tapi dalam hati dia ternyum bahagia. Ternyata Libra masih sama. Awalnya dia berpikir jika hubungannya dengan Libra ataupun Isabela menjadi renggang, tapi ternyata tidak.
Beberapa saat kemudian, datang seorang perawat berperawakan tinggi dan berkulit putih. Rambutnya sebahu dengan warna hitam pekat. Perawat itu menyapa Libra, lalu memeriksa kondisi Sarah.
“Pasien sudah lebih baik. saya harap anda menjaganya dengan baik,” kata perawat itu dengan anggun.
“Setelah ini makanan dan obat akan datang, tolong pastikan dia makan dan meminum obatnya dengan benar,” peringat perawat itu sebelum belalu pergi.
“Baik, terimakasih,” jawab Libra singkat.
Setelah perawat itu pergi, Libra membantu Sarah untuk duduk bersandar. Mereka mengobrol ringan sambil menunggu makanan datang. Ketika makanan datang, Libra dengan sigap menyuapi Sarah.
“Gue bisa sendiri,” tolak Sarah dengan suara lirih.
“Udah lo diem aja,” protes Libra. Dia menyuapi Sarah dengan sangat telaten. Bahkan ketika bibir Sarah belepotan, dia mengusapnya dengan lembut. Sarah menghabiskan makanannya setengah. Meskipun begitu, Libra sangat senang. Setelah kematian Ava, baru kali ini Sarah mau makan dengan porsi yang cukup banyak.
“Nih, di minum obatnya,” perintah Libra sambil menyodorkan empat butir obat. Dia memegang segelas air putih, lalu membantu Sarah untuk meminumnya.
“Pintar. Cepet sembuh, Tuan Puteri,” ucap Libra sambil mengusap puncak kepala Sarah. Dia mengambil selebar tisu, lalu membersihakan sudut bibir Sarah yang tampak basah oleh air minum.
Malam ini Libra bercerita banyak hal. Sarah hanya mendengarkan sambil sesekali menangapi. Perlahan-lahan, keadaan kembali seperti semula. Libra berjanji akan mebawa Sarah kepada kehidupa yang lebih berwarna. Dengan ataupun tanpa Ava.