WHISPER

WHISPER
Lelaki Asing



“Hai,” sapa seorang laki-laki mengenakan stelan jas hitam.


Sarah menoleh, dia sama sekali tak mengenal laki-laki itu. Tapi sepertinya dia ingat jika laki-laki itu berada di dalam lift yang sama dengannya.


Tapi tunggu, wajah itu begitu familiar. Sarah seperti pernah melihat laki-laki itu. Tapi dimana?


Sarah masih terdiam, mengamati laki-laki itu yang memiliki tubuh atletis, kulit kecoklatan, dan bulu matanya lentik. Dia terlihat sangat sempurna dengan stelan jasnya.


“Maaf, apa sebelumya kita pernah bertemu?” tanya Sarah sedikit heran.


Lelaki itu mengangguk, lalu berucap. “Mungkin.”


Sarah berusaha mengingat-ingat lelaki di depnnya itu, namun gagal. Dia sama sekali tak bisa mengingatnya.


“Kita pernah bertemu di kafe, dan belum sempat berkenalan,” ujarnya lagi.


“Kafe?” ulang Sarah.


“Ya, kita berdiri berhadapan, lalu ada laki-laki yang menarik tanganmu.”


Seketika Sarah ingat. Hari itu adalah hari dimana Libra dan Victoria bertengkar. Libra menyeret Victoria keluar, meninggalkan dia seorang diri di dalam kafe. Lalu ketika hendak beranjak pergi, ada seorang laki-laki yang menghampirinya. Kini Sarah ingat semuanya.


“Ya, gue-em, aku ingat.”


“Aku William, dan kau?”


“Sarah Ilona.”


“Youtubers? Selebgram? Model? Atau?”


“Penulis. Aku datang bersama temanku, dia selebgram, youtubers, dan streamer,” jelas Sarah.


William mengangguk-angguk mengerti. Lalu dia mengajak Sarah untuk duduk di sofa yang ada di pojok ruangan. Awalnya Sarah ragu, namun akhirnya dia setuju. Toh berdiri dalam waktu yang cukup lama membuatnya pegal.


“Jadi kamu penulis?” tanya William setelah mereka berdua duduk bersebelahan.


“Ya. Aku menulis di sebuah aplikasi, dan sebentar lagi novel pertamaku akan terbit.”


“Wah, selamat. Aku pasti akan membeli novel itu,” kata William seraya tersenyum manis.


Sarah benar-benar terpesona dengan senyum itu. Mendadak jantunnya berdetak tak karuan. Dia jadi sedikit gugup dan canggung.


“Aku seorang dosen di salah satu Universitas. Tapi temanku seorang youtubers, itulas kenapa aku ada di sini,” kata William.


Sarah menelan ludah. Dia tak menyangka jika William adalah seorang dokter. Di lihat dari penampilannya, dia lebih mirip dengan model.


“Wow, hebat!” puji Sarah.


“Apa kau kuliah?”


“Tidak, tapi aku sedang memikirkannya untuk masuk kuliah.”


“Lebih baik jika kau melanjutkan Pendidikan.”


Sarah mengangguk sekilas. Kemudian matanya mencari sosok Isabela. Ternyata Isabela sedang sibuk foto-foto dengan beberapa temannya.


Wiliam menengadahkan tangannya, lalu berucap, “Boleh pinjam ponselmu?”


“Untuk?”


“Kau harus menghubungiku jika novelmu terbit.”


Sarah merogoh tasnya, lalu mengelurkan ponsel dan menyerahkannya kepada William. Sudah lama dia tak bertukar nomor telepon dengan seorang laki-laki, dan baru kali dia melakukannya. Rasanya cukup mendebarkan.


“Terimakasih,” ucap William seraya menyerahkan kembali ponsel Sarah.


Mereka berdua mengobrol-ngobrol banyak hal. William banyak menceritakan tentang dunia kampus. Bahkan dia memberi tahu tentang tipe-tipe mahasiswa yang di ajarnya.


Menurut William, ada empat tipe mahasiswa yang di ajarnya. Pertama, ada mahasiswa kupu-kupu. Tipe ini adalah mahasiswa yang kegiatan sehari-harinya hanya kuliah seperti biasa, lalu pulang ke rumah. Kedua, tipe kura-kura. Tipe ini merupakan tipe mahasiswa yang kuliah-rapat. Biasanya mereka mengikuti suatu organisasi dan sibuk emnghadiri rapat.


Tipe ketiga adalah mahasiswa kunang-kunang atau kuliah-nangkring. Biasanya mahasiswa seperti ini akan langsung nangkring atau nongkrong setelah perkuliahan selesai. Dan yang terakhir adalah tipe mahasiswa kue-kue atau kuliah-gawe. Tipa mahsiswa ini harus bisa membagi waktunya antara kulaiih dan bekerja.


“Kau pasti akan memilih tipe yang keempat,” kata William sambil menatap Sarah dan tersenyum.


Sarah balas tersenyum kikuk. Tentu saja dia akan memilih tipe itu karena dia sendiri harus bekerja.


***


“Terimakasih,” ucap Sarah kepada William karena telah membantunya membawa Isabela ke mobil. Di akhir pesat tadi, Isabela minum banyak alkohol sehingga dirinya tak sadarkan diri. untung saja ada William yang membantunya.


William hanya mengangguk sekilas. Dia berdiri di samping mobil Isabela, menunggu mobil itu berlalu pergi.


“Ck, lo kenapa minum sih?” tanya Sarah kepada Isabela yang di jawab dengan rancauan tak jelas.


Malam sudah sangat larut, jalanan begitu sepi membuat Sarah sedikit ngeri. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun dia harus mengentikan mobilnya di pinggir jalan ketika Isabela akan muntah.


“Tar, tar! Lo jangan muntah dulu,” pekik Sarah seraya turun dari mobil. Dia berlari memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Isabela. Dia menarik Isabela keluar, tepat di bibir jalan.


“Hoek…hoek…hoek,” Isabela muntah sambil menepeuk-nepuk dadanya.


Sarah memijit leher bagian belakang Isabela, beberapa kali dia menoleh kanan-kiri, takut ada orang jahat yang menghampirinya. Ketika Sarah mengambil tisu di dalam mobil, ada dua orang laki-lkai yang datang entah dari mana menghampirinya.


“Hai, butuh bantuan?” tanya salah satu bertubuh gempal dan berkulit hitam. Wajahnya mengerikan, bahkan senyumnya begitu menjijikkan. Sedangkan temannya bertubuh pendek kurus, ramburnya gondrong, dan giginya agak tonggos. Sarah benar-benar ketakutan.


“Maaf, tidak perlu,” kata Sarah sambil sedikit menunduk. Kemudian dia berjalan menghampiri Isabela, membersihkan sudut bibir Isabela, dan menyeka keringat di dahi Isabela. Setelah itu dia menuntun Isabela agar masuk ke dalam mobil. Semua pergerakannya tak lepas dari perhatian dua laki-laki asing tadi.


Setelah mendudukan Isabela di dalam mobil, dia kembali menutup pintu dan berjalan memutari mobilnya menuju kursi kemudi.


Tapi langkahnya terhenti ketika laki-laki bertubuh gempal menghadangnya. “Mau kemana? Kita belum senang-senang,” ujarnya.


Malam ini benar-benar sepi. Pertokoan yang berjejer rapi di pinggir jalan sudah tutup. Bahkan gedung-gedung tinggi yang ada di seberang jalan pun sudah tak berpenghuni. Kendaraan pun tidak ada yang lewat di jalan itu. Sarah benar-benar panik.


“Maaf, saya harus pulang,” kata Sarah. Dia melanjutkan langkahnya melewati lelaki gempal yang menghadangnya.


“Eits, belum juga mulai, udah mau pergi aja,” kata laki-laki pendek sambil meraih pergelangan tangan Sarah. Dia menariknya dan menghempaskan tubuh Sarah hingga membentur mobil.


Laki-laki bertubuh gempal maju beberapa langkah, lalu mengunci Sarah dalam kurungannya. Sarah semakin mepet ke mobil, tubuhnya bergetar ketakutan.


“Ma-maaf, saya harus pulang,” moho Sarah sengan suara bergetar.


Bukannya menyingkir, tapi lelaki gempal itu justru membelai pipi Sarah dengan tangannya yang begitu kasar. Sarah menahan napas, tubuhnya semakin bergetar ketakutan. Dia melirik kanan dan kiri, lagi-lagi taka da orang sama sekali. Dia ingin berteriak, tapi rasanya percuma. Tak aka nada orang yang mendengarnya.


Tangan kasar itu terus bergerak di turun ke leher Sarah. Tatapan matanya penuh gairah, membuat Sarah ngeri. Mata Sarah meilirk Isabela yang ada di dalam mobil, namujn dia harus menelan kekecewaan karena Isabela sudah tak sadarkan diri.


“To-to-tolong jangan lakukain itu,” pinta Sarah.


Sarah menjerit histeris ketika tangan itu terus bergerak turun.


Cittt…