WHISPER

WHISPER
Hari Pertama Pindah



“Sarah, lo gak apa-apa? Atau gue bantu buat ambil Ava dari Arzan?” tanya Isabela. Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah baru Sarah. Mereka sepakat pindah hari ini meskipun perlengkapan rumah belum lengkap sepenuhnya. Sarah terburu-buru pindah karena desakan Mirna. Untungnya, Isabela membantu membeli beberapa barang sehingga pengeluaran Sarah tak terlalu banyak.


“Gue kangen banget sama Ava, tapi gue gak bisa paksa dia buat tinggal sama gue,” sahut Sarah sambil terus fokus ke jalanan. Entah apa yang di lakukan Arzan, tapi Ava sangat betah di rumahnya.


“Gue gak tega liat lo,” ucap Isabela. Beberapa hari ini Sarah terlihat seperti mayat hidup. Makan tidak teratur, menyiksa diri dengan bekerja, bahkan dia hanya tidur beberapa jam saja dalam sehari.


Sarah menggeleng, meskipun rasanya sangat sesak, tapi dia mencoba tetap tegar. Dia tak mau menjadi orang tua yang egois.


Mobil mereka mulai memasuki kawasan kompleks yang begitu hijau, bersih dan asri. Lingkungannya sangat nyaman untuk di tinggali. Andai Ava bersama Sarah sekarang, pasti dia akan berteriak gembira atas kepindahannya.


Perlahan-lahan mobil memasuki pintu gerbang, lalu menuju halaman dan berhenti tepat di depan teras. Mereka berdua turun, mengambil beberapa barang di jok belakang.


Sarah berjalan lebih dulu, dia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Dua hari yang lalu dia dan Isabela sudah membersihkan rumah tersebut.


Pintu berwarna putih itu terbuka lebar, Sarah dan Isabela masuk ke dalam sambil membawa koper masing-masing. Begitu masuk, mereka langsung berada di ruang tamu yang kini masih kosong, belum terisi apapun.


Sarah segera menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dia akan menata kamarnya sedemikian rupa. Warna monokrom sangat mendominasi rumah itu, sangat cocok dengan konsepnya yang minimalis.


Ketika sampai di kamarnya, Sarah langsung menata baju di lemari . Dia juga memasang seprai berwarna abu muda. Setelah itu dia menata meja kerjanya. Dia meletakkan buku catatan, pena dan beberapa buku bacaan. Besok dia akan membeli karpet dan hiasan dinding untuk kamarnya. Sementara ini, dia belum memiliki meja rias. Dia akan membelinya jika sudah memiliki cukup uang.


Di lantai dua ada kamar Sarah, lalu ada kamar yang akan di gunakan untuk Ava, ruang bersantai dan satu lagi ruangan kosong yang nantinya akan dia isi dengan buku-buku bacaan. Setiap kamar sudah di lengkapi dengan kamar mandi. Dan untuk balkon, ada satu set kursi kayu yang di tata di sana.


Sementara itu, di lantai satu ada kamar Isabela lengkap dengan kamar mandi, tempat untuk mencuci baju, ruang TV, ruang tamu, dan dapur.


***


Sarah mencepol rambutnya dengan asal, dia bersiap untuk membersihkan halaman depan dengan bantuan Isabela. Celana pendek dan kaos polos menjadi outfit untuk mencabut rumput. Sementara itu, Isabela menggunakan tanktop dan hotpants.


Cuaca di sore hari begitu cerah, bahkan tampak beberapa orang sedang berjalan kaki untuk berkeliling kompleks. Ketika Sarah dan Isabela asik mencabut rumput, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa mereka.


“Halo, kalian baru pindah ya?” tanya wanita muda itu.


Sarah menoleh dan tersenyum, “Hai, iya kita baru pindah hari ini. Masuk aja gak-apa,” ujar Sarah meminta agar wanita itu masuk karena gerbangnya terbuka lebar.


Wanita muda itu mengangguk dan melangkahkan kakinya memasuki halaman. Wanita muda itu berkulit kuning langsat, rambutnya bergelombang, memiliki lesung pipi yang terlihat begitu manis saat tersenyum.


“Gue Tiara, penghuni rumah sebelah,” kata Tiara memperkenalkan diri sambil menunjuk ke arah kanan. Pakaian yang dia gunakan tak kalah seksi dengan Isabela. Sepertinya dia suka tampil seksi.


“Gue Sarah, dan ini Isabela, sahabat gue,” kata Sarah sambil menunjuk ke arah Isabela.


“Wah, Kak Isabela ya? Streamer sekaligus selebgram itu kan? Gak nyangka sekarang jadi tetangganya,” ucap Tiara sambil menoleh kea rah Isabela. Dia tersenyum dengan sangat manis.


“Kak, foto bareng, yuk,” ajak Tiara seraya mengeluarkan ponselnya. Persis seperti dugaan Isabela.


Isabela menatap Sarah sebentar, lalu mengangguk setelah melihat Sarah juga menganggukkan kepala. Untuk saat ini, Isabela akan bersikap ramah juga, tapi kedepannya dia akan pasang tampang jutek.


“Gue gak suka sama dia,” celetuk Isabela setelah Tiara pergi.


Sarah yang sedang menyapu mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya itu. “Kenapa?” tanyanya heran. Baru pertama kali bertemu, tapi Isabela sudah mengatakan tidak suka. Apa gara-gara Tiara meminta foto?


“Dia itu selebgram yang banyak tingkah. Sukanya nyari masalah sama orang lain!”


“Lo tau dia?” Sarah kembali menyapu, lalu membuang sampahnya ke tempat sampah di luar gerbang.


“Hm, baru seminggu yang lalu dia bikin masalah.”


“Gue percaya kalo dia gak berani bikin masalah sama lo.”


“Ck, kita liat aja,” sahut Isabela tak yakin.


Selesai membersihkan halaman depan, Isabela langsung mandi karena dia ada janji dengan seseorang. Dan dia akan pulang malam. Sedangkan Sarah tetap di rumah. Rasanya begitu sepi berada di rumah seorang diri. Biasanya ada Ava yang selalu cerewet, tapi sekarang tidak ada.


“Ava, Bunda kangen banget,” ujar Sarah ketika dia sedang bercermin di depan kaca lemari. Dia baru saja selesai mandi, dan setelah ini dia akan kembali bekerja. Ya, hanya pekerjaan yang menemaninya.


Cukup lama dia memandangi pantulan dirinya di depan cermin, sampai kahirnya dia memutuskan untuk mengambil laptop dan berjalan ke balkon. Di balkon itu dia mulai menuliskan imajinasinya. Segalanya dia tulis.


Ketika sedang asik menulis, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Libra terpampang di layarnya. Sarah tersenyum dan segera menggeser tombol hijau.


“Halo, Ib. Ada apa?”


[Makan malem, yuk] ajak Libra tanpa basa-basi.


[Gue jemput jam tujuh] tambahnya.


Setelah Sarah mengiyakan ajakan Libra, telepon di tutup. Sarah menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Satu kemudian barulah dia mematikan laptop dan bersiap untuk makan malam. Sudah lama dia tak merasakan makan malam bersama seseorang. Dan ketika Libra mengajaknya, dia ingin berdandan maksimal. Dia ingin menunjukan kecantikannya malam ini.


“Duh, gue mau pake apa?” batin Sarah. Di jadi bingung harus mengenakan apa untuk makan malam kali ini. Meskipun bajunya banyak, tapi dia tetap merasa tak memiliki baju.


Lama dia berdiri di depan lemari yang terbuka lebar. Matanya mencari-cari baju yang cocok. Bahkan dia memikirkan make up seperti apa yang akan di pakainya.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍