WHISPER

WHISPER
Mengubur Perasaan



Sarah berjongkok di samping makam Ava. Air matanya sudah tak berurai seperti sebelumnya. Tapi dadanya masih saja sesak ketika mengingat semua kenangan bersama Ava. rasanya begitu singkat.


“Sayang, Bunda sekarang punya kehidupan baru. Kamu bisa liat Bunda dari sana kan? Semoga kamu ikut bahagia ya, sayang,” kata Sarah sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama anaknya.


Libra hanya diam, tangannya mengelus punggung Sarah dengan sayang. Kehilangan Ava adalah mimpi buruk paling besar bagi Libra. Dia sangat sayang kepada Ava.


Cukup lama mereka berjongkok di samping makam. Ketika hari sudah mulai gelap, barulah mereka beranjak pergi. Ternyata benar, ikhlas bisa menjadi jalan untuk terus hidup.


Sebelum pulang, mereka menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah restoran untuk makan. Namun hal tak terduga terjadi di sana. Di restoran itu ada William yang sedang makan bersama teman-temannya.


Sarah tak menyadari keberadaan William. Tapi William justru menyadari keberadaan Sarah dan sempat memperhatikannya. Dia heran kenapa Sarah bisa bersama Libra. Dia sempat curiga jika Sarah berpacaran dengan Libra. Tapi kecurigaan itu dia tepis jauh-jauh, setahunya, Libra justru berpacaran dengan Victoria.


William ingin menghampiri Sarah, tapi dia urungkan karena takut rahasianya terbongkar oleh Libra. Di balik sikap baik William, ternyata dia memiliki sesuatu yang begitu menakutkan. Dia menyimpannya itu baik-baik, bahkan sang korban tak akan menyadarinya.


“Ib, sekarang lo lagi deket sama siapa?” tanya Sarah setelah makanan datang. Akhir-akhir ini dia tidak pernah tahu ataupun melihat Libra bersama wanita. Hidup Libra tampak jauh dari sosok perempuan.


“Gak ada!”


“Hah? Serius?” tanya Sarah tak percaya. Jelas saja dia tidak percaya, sementara Libra yang dia kenal merupakan playboy. Apa yang membuat Libra berubah secepat itu? Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala Sarah.


“Iya, lo gak percaya banget sama gue!”


Setelah menelan makanan, Sarah menatap Libra dengan tatapan tak percaya. Sulit rasanya membpercayai Libra tentang hal itu.


“Ya, gue berubah karena lo. Lo yang bikin gue jadi playboy, dan lo juga yang bikin gue berubah lagi,” batin Libra. Sarah memang sangat berpengaruh terhadap hidupnya.


“Bosen jadi playboy, mau jadi yang setia aja,” kata Libra sambil tersenyum menggoda. Senyum itu dia paksakan begitu saja.


Sarah hanya tertawa menanggapi ucapan Libra. Setia? Dia pikir laki-laki yang seperti itu sudah tidak ada.


“Gue bingung harus bilang apa,” kata Sarah setelah tawanya reda.


Setelah makanan keduanya habis, Libra pamit untuk ke toilet. Dia ingin buang air kecil. Setelah kepergian Libra, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Sarah.


“Hai, di sini juga?” tanya William.


Sarah sedikit terkejut oleh sapaan yang menurutnya terlalu tiba-tiba. Dia menoleh dan menatap William. Seketika senyumnya mengembang lebar.


“William,” sapanya, masih dengan senyum manis.


William mengangguk, kemudian keduanya berbincang-bincang hangat. Tanpa disadari Sarah, pemandangan itu tak luput dari penglihatan William. Ya, dia sangat paham dengan William.


“Sarah kenal Pak William?” batinnya. Dia jadi ingat ketika dirinya bertengkar dengan Victoria dulu. Ketika di sebuah kafe, dia bertengkar dengan Victoria dan meningglkan Sarah seorang diri. Ketika dia kembali dan menyeret Sarah pulang, William ada di situ.


Libra tak langsung menghampiri Sarah. Dia justru menunggu William pergi.


***


Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di kepala Libra. Dia ingin menanyakan perihal William kepada Sarah. Tapi entah kenapa mulutnya tak bisa mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan itu.


“Besok lo berangkat naik apa?”


“Sama Isabela.”


“Gue anter aja, gue juga mau ke kampus,” kata Libra sambil kembali melanjukan mobilnya.


“Oke,” jawab Sarah singkat. Hari ini dia merasa sangat lelah, ketika pulang nanti, dia ingin mandi dan tidur. Tapi sayang, dia masih harus melanjutkan novelnya. Pembacanya akan protes ketika dia telah update cerita.


Setelah percakapan itu, keduanya hanya diam sepanjang perjalanan. Sarah baru buka suara ketika mobil sudah sampai di rumahnya.


“Mampir dulu, yuk,” ajak Sarah.


Libra hanya mengangguk. Dia turun dari mobil dan mengekori Sarah masuk ke dalam rumah. Jam baru menunjukan pukul tujuh malam, dan Isabela belum pulang. Isabela memang terbiasa pulang sampai larut malam.


Mereka berdua menuju lantai atas, tepatnya di ruang santai. Libra langsung membanting tubuhnya di sofa, sementara Sarah masuk ke dalam kamar untuk mandi.


Sembari menunggu Sarah selesai, Libra membuka sosial medianya. Dari sosial media itu, dia tahu jika Victoria sudah memiliki kekasih baru. Dia tak heran mengetahui fakta itu, Victoria terlalu cantik dan banyak yang mengantre untuk menjadi pacarnya.


Tapi Libra sama sekali tak menyesal putus dengan Victoria. Dia merasa telah membuat keputusan yang tepat.


Beberapa saat kemudian, Sarah muncul dengan baju tidur pendek, rambut basah, dan membawa laptop. Aroma wangi Sarah begitu segar, membuat Libra begitu betah berdekatan dengan Sarah.


“Gila, gue capek banget! Tapi harus kerja!” gerutu Sarah sambil menghidupkan laptopnya.


“Heran deh! Gue cantik! Mandiri! Pekerja keras! Tapi masih aja di sia-siain sama cowok!” sungut Sarah. Tanganya dengan terampil menari-nari di atas touchpad. Lalu mulai menulis.


Libra hanya diam saja sambil memandangi Sarah. Dia sudah biasa melihat pemandangan yang seperti itu. Ketika lelah, Sarah akan mengomel. Bahkan kadang menulis sambil menangis.


“Udah?” tanya Libra.


“Belum!” balas Sarah. Dia lanjut mengomel, setelah puas, barulah dia diam.


Libra yang juga merasa sangat lelah, memutuskan untuk tidur sejenak. Seharian tadi dia mengurus skripsi dan lanjut membuat komik. Aktivitas seperti itu sangat menguras tenanganya.


Sarah sudah larut ke dalam tulisannya. Dia sampai tak sadar jika Libra sudah tertidur dengan nyenyak.


“Arghhh, capek banget,” keluh Sarah entah sudah keberapa kalinya. Dia merenggangkan otot-ototnya, lalu menoleh ke arah Libra.


“Tidur?” batin Sarah.


Dia mengamati wajah Libra yang begitu tenang saat tidur. Dia tak menyangka jika persahabatannya dengan Libra sudah bertahan sejauh ini. Jika dipikir-pikir, Libra sudah menemaninya di saat suka ataupun duka. Secara tidak sadar, Libra sudah menjadi bagian dari hidupnya.


“Kok gue baru sadar ya?” batin Sarah lagi. Dia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak ada Libra. Mungkin dia sudah pergi menyusul Naura dan Ava.


“Thanks, Ib,” batin Sarah lagi.


“Kok bisa ya, gue sahabatan sama lo tanpa melibatkan perasaan,” lirih Sarah sambil tersenyum. Ya, dia memang tak melibatkan perasaan. Tapi tidak dengan Libra. Sejak awalpun, Libra sudah melibatkan perasaannya. Tapi dia menguburnya baik-baik. Entah sampai kapan dia akan mengubur perasaan itu dalam-dalam.