WHISPER

WHISPER
Hingga Larut Malam



Sarah bersiap menjemput Isabela, hari ini Isabela sudah di perbolehkan keluar. Setelah melalui masa sulit, akhirnya Isabela bisa melaluinya. Sarah berjalan menuju rungan Isabela. Dia mengenakan rok jenas sebatas lutut di padukan dengan hoodie berwarna putih. Rambut pendek berwarna coklatnya dia biarkan tergerai seperti biasa.


Dia berjalan dengan penuh percaya diri. Tangan kanannya menuntun Ava. Beberapa orang melirik mereka, mengira bahwa Ava adalah adik atau ponakan Sarah. Tapi siapa sangka jika Ava adalah anak Sarah.


Paras cantik dan usianya yang begitu belia membuat siapa saja tak akan percaya bahwa Sarah sudah memiliki satu anak.


Sesampainya di ruangan Isabela, Sarah langsung memeluknya dan memberi selamat. Ava juga bersorak gembira menyambut Isabela.


“Maaf, ya, gue ngrepotin lo,” ujar Isabela. Dia merasa telah banyak merepotkan Sarah.


“Enggak kok, gak usah sungkan gitu, gue justru seneng,” sambut Sarah. Dia membereskan beberapa barang Isabela, lalu menuntunnya keluar dari ruangan. Ava dia biarkan berjalan sendiri, namun tak lepas dari pengawasannya.


“Sayang, hati-hati ya. Jangan lari-lari loh!” peringat Sarah. Dia tak bisa menuntun Ava karena tangan kanya menuntun Isabela sedangkan tangan satunya membawa satu tas.


“Iya, Bunda,” sahut Ava. Dia justru berjalan tertib di samping Sarah.


Mereka berjalan dengan perlahan, meskipun sudah boleh pulang, tapi Isabela tak boleh banyak bergerak.


“Masih sakit?”


“Lumayan, kalo banyak gerak baru kerasa sakit,” jawab Isabela.


Sesampainya di parkiran, Sarah membukakan pintu untuk Isabela, lalu membantunya masuk. Setelah itu dia membantu Ava masuk ke dalam mobil dan memastikannya duduk dengan aman.


“Langkah selanjutnya apa?” tanya Sarah ketika dirinya sudah duduk di belakang kemudi. Dia menyalakan mesin, lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.


“Gue mau gugat cerai. Setelah selesai urusan perceraian, gue tetap jadi streamer dan mau aktif di sosial media,” jelasnya. Dia duduk bersandar sambil memegangi perut bagian kanannya.


“Mau jadi selebgram, nih?”


Isabela tersenyum sambil mengangguk. Dia memiliki potensi yang bagus untuk berkarir di media sosial. Kulitnya putih mulus, tubuhnya proporsional, tinggi, dan wajahnya cantik. Dia juga pandai bergaya di depan kamera.


“Lo tetep tinggal dia apartemen?” tanya Sarah lagi seraya membelokkan mobil ke arah kiri. Untung saja jalanan tak terlalu padat.


“Gak, gue pengen pindah. Kenangan di apartemen itu terlalu buruk buat gue.”


Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepala Sarah. Dia ingin mengajak Isabela tinggal bersama sampai akhirnya Isabela mampu membeli rumah sendiri.


“Bel, niatnya gue mau beli rumah, gue mau ngajakin lo tinggal sama gue, gimana?” tanya Sarah.


Isabela menggeleng cepat, “Gak, gue gak mau ngrepotin lo.”


“Justru gue seneng kalo lo tinggal sama gue, jadi gak sepi.”


“Lo bisa berkarir selama tinggal sama gue, setelah lo bisa beli rumah, lo bisa tinggal sendiri,” sambung Sarah.


Awalnya Isabela ragu, dia tak mau merepotkan Sarah. Selama ini dia sudah banyak menyusahkan Sarah. Tapi berkat bujukan Sarah, akhirnya dia mau.


***


Sarah menggendong Ava menuju kamarnya, lalu menidurkannya dengan sangat hati-hati. Dia melepas sepatu dan jepit rambut Ava. Lalu mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna merah muda sebelum akhirnya keluar. Libra tampak asik menggambar komik yang sedang mereka kerjakan. Tangan kirinya memegang rokok, sesekali menghisapnya.


“Udah jauh lebih mendingan, tadi gue mampir lama karena bantu dia beres-beres,” terang Sarah. Setelah menjemput Isabela, dia membantu mengemas semua barang milik suami Isabela.


Sarah memposisikan tubuhnya duduk di atas karpet bulu, di depannya sudah ada meja kecil dan di atasnya bertengger laptop kesayangnnya. Dia akan menulis hingga larut malam.


“Mereka mau bercerai?” tanya Libra penasaran. Kini pandangannya kea rah Sarah sepenuhnya.


“Iya. Em, setelah gue dapet rumah, gue ngajak Isabela tinggal sama gue.”


“Lo yakin?”


Sarah mulai menyalakan laptopnya, lalu berucap, “Yakin. Gue justru seneng kalo ada yang nemenin.”


“Bagus deh. Jadi lo gak kesepian,” ujarnya kemudian. Dia kembali menggambar fokus menggambar. Ya, Sarah memang tak kesepian, namun justru dirinya yang akan kesepian.


“Kalo lo udah pindah, gue boleh main kapan aja?”


Sarah yang kini sudah sibuk mengetik menyahut, “Pintu gue selalu terbuka untuk lo.”


Libra menyunggingkan senyum bahagia. Setidaknya Sarah tak benar-benar pergi jauh darinya. Mereka berdua kini sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Keheningan malam begitu terasa. Beberapa kali Libra melirik ke arah Sarah.


Malam sudah semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Libra masih asik menggambar, sedangkan Sarah sudah tertidur pulas. Dia tidur dengan posisi miring, tepat di samping meja kecil yang berisi laptopnya.


Melihat Sarah tertidur pulas, Libra berinisiatif mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Sarah. Dia berjongkok di samping Sarah, memandanginya dengan perasaan tak karuan. Dia masih tak percaya bisa merasakan tinggal dengan Sarah, meskipun sesaat.


Tangan Libra terulur, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Sarah. Dia heran, kenapa wanita sebaik dan secantik Sarah justru di sia-siakan dan disakiti oleh Arzan. Apa salah Sarah? Setelah mendengar perceraian Sarah dengan Arzan, dia ingin sekali menghajar Arzan habis-habisan. Tapi niatnya dia urungkan karena kondisi Sarah lebih penting.


“Gue yakin, Arzan adalah laki-laki paling bodoh di dunia,” batin Libra.


“Meskipun nantinya lo jadi milik orang lain, gue akan selalu jadi sahabat baik buat lo,” ujar Libra sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Libra menggambar sambil sesekali chatting dengan wanita-wanita simpanannya. Perbanyak cabang, perkuat pusat. Itulah yang di lakukan Libra sekarang.


Cukup lama dia menggambar, sampai-sampai punggungnya terasa pegal. Beberapa kali dia merenggangkan ototnya dan mengucap lebar. Pandangannya menyapu ruangan, melihat Sarah yang masih terlelap, lalu menatap jam yang ada di dinding. Ternyata sudah jam setengah dua dini hari.


Libra beranjak berdiri, lalu berjalan ke arah Sarah. Dia membangunkan Sarah dan menyuruhnya untuk pindah ke dalam kamar


“Sarah, bangun! Pindah ke kamar,” ujar Libra sambil menggoyang bahu Sarah.


“Hmm, gue ngantuk. Gue tidur disini aja, lo temenin Ava di kamar,” gumam Sarah dengan mata yang masih terpejam.


“Ck, buruan pindah. Disini dingin, tar lo masuk angin,” kata Libra lagi sambil menggoyang bahu Sarah lebih kencang.


“Hoammm, gue ngantuk banget, Ibra!” kesal Sarah. Dia membuka matanya setengah, lalu melempar Libra dengan boneka milik Ava. “Sana lo temenin Ava!” seru Sarah, lalu dia kembali memejamkan mata dan tertidur.


Plak...


Libra memukul bahu Sarah, lalu menariknya agar mau pindah ke kamar. Tak hanya menariknya saja, dia juga memapah Sarah masuk ke dalam kamarnya. Sarah mengumpat sambil berjalan terseok-seok, sampai akhirnya Libra berhasil membawa Sarah hingga ke kasur dan membaringkannya di samping Ava.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍