
Sarah terbangun karena mendengar suara ribut-ribut. Dia heran kenapa sepagi ini sudah ada suara ribut-ribut di lantai bawah. Dengan mata yang masih mengantuk, dia turun dari tempat tidur.
Ketika menuruni tangga, telinganya semakin menangkap keributan yang terdengar cukup jelas. Di tengah suara ribut perempuan, ada juga suara laki-laki yang tak asing di telinga Sarah.
Sarah semakin mempercepat langkahnya menuju teras. Dia tertegun ketika melihat Isabela dan Tiara sedang beradu mulut. Selain mereka berdau, ada juga Libra dan beberapa tetangga.
“Lo tau apa tentang gue?!” bentak Isabela dengan nada tinggi.
“Gue tau semaunya! Lo cuma cewe yang hamil di luar nikah, lalu membuang janin yang lo kandung!” balas Tiara dengan nada tak kalah keras. Matanya menatap Isabela dengan tatapan merendakahkan.
Plak…
Dengan sekuat tenaga, Isabela menampar Tiara. Bunyinya begitu renyah di telinga. “Janga nasal ngomong! Sekali lo ngomong gitu, gue hancurin karier lo!” ancam Isabela. Matanya tampak berkilat-kilat seperti cahaya petir. Telapak tagannya menggenggam erat, menahan emosi yang semakin memuncak.
Isabela benar-benar muak dengan Tiara. Dia tak menyangka jika Tiara tega menyebarkan berita bohong di media sosial.
“Isabela, cukup.” Sarah tampak menarik Isabela mundur ke belakang. Dia mengusap-ngusap pundak Isabela, berharap emosi sahabtanya itu reda.
Tiara menatap Isabela dengan tatapan tajam. dia tak terima diperlakukan seperti itu di depan umum. Dia maju dua langkah, lalu melayngkan tangannya untuk membalas Isabela. Namun sebelum itu terjadi, Libra sudah menahan tangan itu dan menarik Tiara utnuk menjauh.
“Lo jangan cari gara-gara di sini! Mending lo pulang sebelum di habisi sama Isabela!” desis Libra sambil mencengkram lengan Tiara dengan kuat. Dia muak melihat perkelahian antara Isabela dan Tiara di pagi hari.
Mendengar ucapan Libra yang tampak mengerikan, akhirnya Tiara berlalu pergi. Dia sempat melirik Isabela sebelum pergi.
Setelah Tiara pergi, beberapa tetangga pun ikut pergi. Mereka berlau sambil berbisik-bisik satu sama lain. Entaha apa yang mereka bicarakan, yang jelas Isabela tak menyukainya.
“Bel, lo gak apa-apa?” tanya Sarah sambil membimbing Isabela masuk. Sementara itu Libra mengekor di belakang tanoa mengucapkan sepatah katapun.
“Hmm,” sahut Isabela singkat.
“Kok bisa berantem sama dia?”
“Dia yang cari gara-gara duluan. Gue mah anteng aja!” kata Isabela sambil membanting tubuhnya di atas sofa. Dia mengatur napasnya beberapa kali, berharap emosinya mereda.
Libra berjalan ke dapur, mengambil sebotol minum lalu memberinya kepada Isabela. Dia ikut duduk di sofa, masih dalam diam.
“Udah lah, cuekin aja,” kata Sarah. Ekor matanya melirik Libra sekilas, lalu kembali menatap Isabela. Dia bertanya-tanya kenapa Libra ada di rumahnya sepagi ini? Apakah ada Sesutu yang penting? Atau ada urusan dengan Isabela.
“Hmm, gue muak banget sama dia!” kesal Isabela. Setelah itu dia beranjak berdiri dan pamit masuk ke dalam kamar. Dia akan mengecek media sosial, khawatir ada berita miring tentang dirinya lagi.
Setelah Isabela pergi, suasan ruang tamu tampak hening. Sarah dan Libra duduk berhadapan dalam diam. Mereka berdua tak tahu haus berkata apa.
“Ekhm,” Sarah berdehem untuk memecah keheningan. Namun usahanya gagal, Libra masih diam dan asik dengan pikirannya sendiri.
“Ib, lo pagi-pagi ke sini ada keperluan apa?” tanya Sarah yang sudah tak tahan dengan keterdiaman keduanya.
“Minta sarapan,” jawab Libra enteng.
“Ck, gue lagi males masak. Gofood aja deh,” ucap Sarah malas. Semenjak Ava tidak ada, dia jadi jarang memasak. Dia dan Isabela sering makan di luar ataupun memesan makanan via online.
“Emang lo pernah rajin?” tanya Libra dengan alis yang terangkat. Kini matanya menatap Sarah, dengan punggung yang di sandarkan ke sofa.
Sarah berdecak sebal, ingin sekali dia memukul Libra. Tapi dia beruntung karena suasana sedikit mencair. Dia sendiri heran kenapa antara dirinya dan Libra enjadi seperti ini.
“Ib, lo kenapa sih?” tanya Sarah yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya lagi.
“Bohong, lo keliatan aneh.”
Libra menelan ludahnya dengan susah payah. Apa dia harus bilang bahwa dia mencintai Sarah sejak SMA? Atau bilang sayang? Atau cemburu?
Tidak!
Itu terdengar konyol. Bisa-bisa Sarah akan menjauhinya jika dia mengatakan itu semua.
“Aneh gimana?”
“Beda aja, lo bukan Libra yang gue kenal. Kalo ada masalah bilang, jangan diem aja. Gue gak tau apa yang lo rasain,” tegas Sarah.
“Emangnya kalo gue jujur lo gak akan marah?”
“Tergantung.”
Libra menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Wanita memang sama saja.
“Ada apa sih?” tanya Sarah gemas.
Bukannya menjawab, Libra justru menatap Sarah dalam-dalam. Lidahnya begitu kelu untuk mengucapkan beebrapa kata.
“Gak ada apa-apa, gue cuma kangen sama lo karena beberapa hari gak kesini.” Hanya kalimat seperti itu yang mampu lolos dari mulut Libra.
“Kangen? Seumur hidup baru kali ini gue denger lo ngomong kangen.”
Libra memaksakan diri untuk tertawa. Setelah itu berucap, “Emang gak boleh?”
Meskipun Sarah tahu bahwa tawa itu terdengar terpaksa, tapi dia tetap ikut tertawa. Suasana antara dirinya dan Libra benar-benar berubah.
“Boleh, kok. Oh ya, komik lo gimana?” tanya Sarah mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak mau suasana tak enak terus berlanjut.
Topik obrolan mereka berganti pada komik dan novel. Keduanya asik membahas topik itu. Bahkan keduanya lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya. Suasana kembali mencair seprti sebelumnya.
Cukup lama mereka mengobrol, sampai akhirnya Libra pamit untuk pulang. Kini keduanya sudah bisa bercanda seperti biasanya. Bahkan Libra banyak meledek Sarah. Tapi siapa sangka, sepanjang peristiwa yang Libra lewati, jantungnya benar-benar berdegup kencang. Mati-matian dia mengontrol jantungnya.
“Sarah, gue pergi dulu,” kata Isabela yang sudah rapi dengan pakaian seksinya. Wajahnya pun terlihat begitu cantik.
“Lo mau kemana? Cantik amat.”
“Holiday sama Arga,” jawab Isabela sambil tersenyum penuh arti.
“Lo holiday apa mau open Bo?” tanya Sarah lagi sambil tertawa lebar.
Isabela mendelik sambil mengerucutkan bibirnya. Dia memang sudah terbiasa memakai baju seksi. “Dua-duanya!” Isabela menimpali sambil berlalu keluar rumah.
Kini Sarah benar-benar sendiri di rumah. Di sisi lain dia senang karena bisa bekerja dengan fokus, tapi di sisi lain dia juga meraskan kehampaan yang luar biasa. Tidak ada seorang pun di rumah membuatnya merasa kesepian. Ya, ini lebih tepat di sebuat kesepian daripada kebebasan.
Sarah hanya bisa bekerja dan bekerja untuk melanjutkan kehidupannya. Dia rela menyibukkan diri, bahkan menyiksa dirinya untuk terus bekerja agar tak memiliki kesempatan untuk mengingat apa yang seharunya tak perlu di ingat.
“Semangat, Sarah,” kata Sarah menyemangati dirinya sendiri.