
Cukup lama Sarah menunggu Libra, namun orang yang di tunggunya tak kunjung datang. Dia memilih untuk pulang terlebih dahulu. Ketika baru saja hendak melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
Mata Sarah langsung menatap tubuh tinggi itu. Dadanya yang bidang dan kulitnya yang kecoklatan menegaskan bahwa pria di depannya benar-benar jantan. Untuk sesaat Sarah terpaku pada senyum yang mematikan itu.
“Hai,” sapanya dengan suara bariton, suara khas pria dewasa. Dari balik bulu matanya yang lentik, Sarah bisa tahu jika pria di depannya itu sedang memperhatikan.
“Em, hai, eh, halo,” sapa Sarah sedikit gugup. Dia mendadak kehilangan kata-kata. Jari kakinya bergerak-gerak gelisah. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu setelah sekian lama. Apakah dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak! Itu terlalu cepat.
Belum sempat pria itu menjawab lagi, Libra datang dengan langkah tergesa-gesa. Dia langsung menarik tangan Sarah dengan paksa.
“Kita pulang!” tegas Libra. Dia tak peduli dengan penolakan Sarah, dia juga tak peduli dengan pria yang kini menatapnya bingung.
“Maaf, saya harus pergi,” ucap Sarah dengan nada sedikit kecewa. Belum sempat dia berkenalan dengan pria itu, tapi Libra sudah menariknya secara paksa. Benar-benar waktu yang tidak tepat.
Sarah berjalan terseok-seok mengimbangi langkah Libra. Beberapa kali dia memanggil nama Libra tapi di abaikannya. Wajah Libra memancarkan emosi yang terpendam.
Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Sarah memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun dia masih sedikit ragu.
“Ib, lo kan bawa mobil sendiri. Kenapa pake mob-”
“Kenapa sih cewe tuh susah banget di mengerti? Heran gue! Segala sesuatu yang gue lakuin tuh keknya salah mulu!” potong Libra sambil memukul stir yang ada di depannya. Rahangnya mengeras karena emosi. Matanya pun memancarkan kekesalan yang sudah tak bisa dibendungnya lagi.
Sarah menelan ludah, baru kali ini dia melihat Libra marah seperti itu.
“Gak semua cewe gitu kok, cuma cewe lo aja yang gitu.”
Libra melirik Sarah sekilas, kemudian mendengus kesal. Jari tangannya mengetuk-ngetuk stir dengan irama yang tak beraturan.
“Gue minta putus sama Victoria, tapi dia gak mau. Bingung gue, tu orang maunya apa.”
Sarah menelan ludah untuk yang kedua kalinya. Dia menatap keluar jendela, berharap pria yang di temuinya tadi muncul.
“Brengsek!” umpat Libra membuat Sarah terlonjak kaget.
“Ib, lo kan cewenya banyak. Masa gara-gara satu doang lo frustasi gini.”
“Soalnya yang ini kelakuannya gak kek manusia. Bikin pusing aja!”
“Ya udah putusin aja sebelah pihak, terus lo cari pacar lagi!” jawab Sarah enteng. Dia tak mau ikut pusing dengan urusan Libra. Urusannya sendiri sudah memusingkan.
Setelah cukup lama diam, akhirnya Libra melajukan mobil menuju rumah Sarah. Mobil miliknya akan dia ambil setelah mengantar Sarah.
***
Kegiatan Sarah menjadi bertambah setelah memutuskan untuk kuliah. Dia belajar dengan giat agar bisa masuk ke Perguruan Tinggi. Sesekali dia di bantu oleh Libra.
Seperti sekarang ini, setelah selesai menulis, Sarah langsung membuka buku yang memuat banyak soal. Dia mulai mengerjakan soal itu dengan semangat. Di sampingnya sudah ada secangkir kopi yang menemaninya.
Suara pintu di ketuk membuat Sarah menghentikan aktivitasnya. Dia berjalan ke pintu dan membukanya.
“Sarah, Sarah,” panggil Isabela dengan nada mendesak.
Isabela tampak ragu berbicara. Dia menatap Sarah, lalu menatap ponselnya lagi. Bahkan dia manggigit bibir bawahnya dan terlihat berpikir.
“Ada apa, Bel? Lo ada masalah?” tanya Sarah tak sabaran.
“Em, ini, anu, Ava-”
“Ava kenapa?”
“Ava kayaknya di rumah sakit deh. Ini tadi ada cewe yang-”
Belum sempat Isabela melanjutkan kalimatnya, Sarah sudah merebut ponsel yang ada di genggaman Isabela. Dia menatap foto itu dengan jantung yang berdebar tak karuan. Seketika kakinya lemas, hampir saja dia terduduk di lantai jika Isabela tak segera memegangi tubuhnya.
Di foto itu terlihat seorang anak kecil terbaring lemah di rumah sakit, sementara di sampingnya ada seorang wanita cantik yang duduk sambil memegangi tangan anak kecil itu. di caption tertulis ‘Get well soon’. Sarah masih ingat, wanita cantik yang ada di dalam foto itu adalah wanita yang bersama Arzan. Dan Ava? sejak kapan Ava sakit?
“Lo kenal sama cewe ini?” tanya Sarah setelah mengembalikan kesadarannya.
“Em, enggak sih. Cuma beberapa kali komen-komenan gitu di story atau feed,” terang Isabela. Jelas saja dia sangat aktif di media sosial, pekerjaannya saja ada media sosial semua.
“Sekarang lo DM tuh cewe, tanyain itu ada di rumah sakit mana. Sekarang juga gue mau ke rumah sakit itu,” ujar Sarah seraya kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil tas dan memasukkan beberapa baju.
Isabela ikut masuk ke dalam kamar Sarah, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengetikkan sesuatu. Untuk beberapa saat dia menunggu balasan dari wanita itu.
“Gue temenin ya, lagipula lusa gue ada janji sama temen di daerah lo,” kata Isabela sambil kembali memandangi layar ponselnya.
Sarah mengangguk sekilas, setelah selesai memasukkan baju ke dalam tas, dia segera memasukkan laptop dan keperluan lainnya.
“Dapat! Gue turun dan siap-siap ya,” kata Isabela setelah pesannya di balas. Dia segera beranjak turun untuk bersiap-siap.
Ketika Isabela baru saja keluar dari kamar, Sarah terduduk sambil menangis. Sejak tadi dia menahan agar tak menangis di depan Isabela. Dadanya begitu sakit melihat Ava terbaring di rumah sakit tapi dia tak di beri tahu oleh Arzan.
Ingin rasanya dia mengamuk kepada Arzan. Bisa-bisanya dia tak di beri tahu padahal anaknya sakit.
“Arzan, bajingan lo!” desis Sarah sambil mengepal.
Untuk beberapa saat Sarah masih duduk sambil menangis, sampai suara panggilan Isabela membuatnya segera beranjak. Sebelum keluar, dia mencuci muka agar tak terlihat seperti habis menangis.
Dia menuruni tangga dengan perasaan tak karuan. Setelah sampai di bawah, Sarah menyerahkan kunci mobil kepada Isabela.
“Lo yang nyetir ya, gue gak sanggup,” kata Sarah seraya menyodorkan kunci mobil.
Isabela mengangguk mengerti. Barang yang di bawanya jauh lebih banyak dari milik Sarah. Sebagai streamer dan selebgram, tentu saja penampilan menjadi nomor satu.
Jam baru menunjukan pukul delapan malam, jalanan masih di padati oleh kendaraan roda empat ataupun roda dua. Dengan cekatan Isabela menyalip beberapa mobil dan motor.
Sarah memandangi ponselnya, dia ragu apakah harus memberi tahu kepada Libra atau tidak. Jika memberi tahu, pasti Libra akan menyusulnya. Dan jika tidak, kemungkinan Libra akan marah.
“Bel, menurut lo, gue harus ngasih tau Libra apa enggak?” tanya Sarah setelah sekian lama tak mendapat jawaban.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️