
Pagi-pagi sekali Sarah terbangun. Setelah mencuci muka, dia menguncir rambutnya dan mengenakan pakaian santai. Pagi ini dia ingin olahraga lari di sekitar kompleks.
Ketika baru saja membuka pintu, udara segar menyambut Sarah. Hawa sejuk terasa menyengat di kulit. Belum ada bercak sinar yang terlihat di langit.
Sarah mulai berjalan keluar dari halaman, ternyata ada beberapa orang juga sedang berjalan-jalan. Ketika berpapasan dengan orang, dia selalu menyapanya. Dia tak mau terlihat seperti warga baru yang sombong.
Langkah yang tadinya santai, kini menjadi cepat dan akhirnya berlari. Dia terus berlari menyusuri jalanan hingga langkahnya berhenti di sebuah taman. Pepohonan yang rindang dan hijau menghiasi taman itu. Ada beberapa bunga yang tumbuh dengan teratur. Taman itu terlihat sangat terawat.
Sarah memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon. Ketika baru saja duduk, matanya menangkap seorang petugas kebersihan sedang menyapu di lapangan basket yang ada di taman itu.
Petugas kebersihan itu merupakan seorang wanita paruh baya. Kulitnya kecoklatan karena sering terpapar sinar matahari. Rambut hitamnya tertutup oleh topi.
“Boleh duduk di sini?” tanya seorang wanita yang kini berdiri di samping Sarah. Dia terlihat masih sangat muda, bahkan lebih muda dari Sarah.
“Silahkan,” ujar Sarah seraya tersenyum ramah.
“Lo orang baru ya? Gue baru liat soalnya,” celetuk wanita muda itu setelah duduk di samping Sarah.
“Iya gue orang baru. Baru pindah beberapa hari yang lalu.”
Wanita itu mengangguk-angguk mengerti, kemudian dia bertanya lagi, “Lo sendirian di sini?”
“Iya, lari pagi sekalian kenalan sama warga sekitar. lo kuga sendiri?” tanya Sarah balik.
“Iya, gue jalan-jalan di sekitar sini. Gue lagi hamil muda, makanya rutin jalan pagi biar sehat,” jelas wanita muda itu.
Sarah terkejut mendengar jawaban wanita muda itu. Hamil? Yang benar saja! Dilihat dari wajahnya saja dia masih sangat muda.
“Hamil?” ulang Sarah tak percaya.
“Hm. Gue hamil sama pacar, tapi sayang dia gak mau tanggung jawab. Baru beberapa hari yang lalu gue keluar dari sekolah,” jelas wanita muda itu dengan wajah datar. Dia menceritakan itu seolah-olah hanya hal kecil yang tak perlu di tutup-tutupi. Tidak ada kesedihan, atau keputusasaan yang tergambar di wajahnya. Atau mungkin wanita itu sudah bisa menerima keadaan.
“Lo tinggal sama siapa di sini?”
“Sendiri. Oh, ya, kenalin, gue Jennifer. Lo bisa panggil gue Jeni,” ujar Jenifer seraya mengulurkan tangannya, mengajak Sarah untuk bersalaman.
“Sarah,” jawab Sarah seraya mengulurkan tangannya.
Setelah bersalaman, keduanya mengobrol banyak hal. Ternyata rumah Jeni tidak jauh dari rumah Sarah.
Jeni bercerita banyak hal kepada Sarah. Mulai dari kisah percintaannya saat SMA dulu, sampai dia bisa hamil seperti sekarang. Tapi Jeni tak menyesal telah mengandung, dia justru termotivasi untuk melahirkan dan membesarkan anaknya dengan baik.
Meskipun pacarnya tak mau bertanggung jawab, Jeni tidak mau bersedih dan mengemis cinta kepada pacarnya. Oh bukan, mantan pacarnya! Kini Jeni berusia enam belas tahun, usia yang sangat muda untuk memiliki seorang anak.
“Kalau lo butuh apa-apa, bilang aja ya. Nanti gue bantu,” ujar Sarah. Kini nada bicaranya sudah lebih santai dari sebelumnya. Dia berharap bisa menjadi teman untuk Jeni.
Setelah bertemu Isabela, wanita yang kehidupannya sulit karena ulah suaminya, kini dia bertemu Jeni, wanita kuat yang bisa menerima keadaannya. Ternyata banyak orang yang bernasib lebih buruk dari Sarah.
***
“Arzan masih ngirim uang buat gue?” batin Sarah. Karena penasaran, akhirnya dia menelepon Arzan dan akan menanyakannya.
[Halo] jawab Arzan dari seberang sana setelah Sarah menunggu beberapa saat.
“Arzan, lo kenapa masih ngirim uang ke gue? Tanpa lo ngirim uang, gue masih bisa makan,” ujar Sarah to the point. Dia tak mau hidup bergantung pada Arzan.
[Gue ngelakuin ini karena gue masih sayang sama lo. Tolong terima uang itu, ya] kata Arzan dengan nada lembut, nada yang di benci oleh Sarah.
Sarah menarik napas panjang. Sayang? Persetan dengan rasa sayang, toh Arzan sudah memiliki kekasih yang cantik. Lama-kelamaan dia tak mengerti dengan jalan pikiran Arzan.
“Terserah lo, gue gak pernah minta. Ngomong-ngomong, Ava kapan pulang?” tanya Sarah mengalihkan pembicaraan.
[Kemarin gue ngajak Ava buat pulang ke rumah lo, tapi dia nolak. Gue udah bujuk, tapi susah karena dia lagi seneng main sana Neneknya] terang Arzan. Ucapan itu adalah ucapan bohong yang dia rangkai sendiri. Pada kenyataannya, Ava sangat merindukan Sarah sampai-sampai menangis histeris.
“Ck, ya udah. Kalo Ava minta pulang, tolong anterin ke rumah gue ya. Tar gue kirim alamatnya. Satu lagi, makasih uangnya,” ucap Sarah.
Setelah itu telepon di tutup. Tanpa sadar, air matanya menetes mengingat Ava. Dia benar-benar merindukan anaknya. Tapi apa daya, Ava masih saja betah di rumah Arzan.
Setelah meletakkan telepon di atas nakas, Sarah turun ke bawah untuk sarapan. Dia melihat Isabela sedang membuat jus alpukat.
“Lo pagi-pagi tadi darimana?” tanya Isabela seraya menuang jus ke dalam dua gelas.
Sarah duduk di mini bar, dia menatap Isabela sambil menopang dagu. “Lari pagi.”
“Rajin banget lo,” sahut Isabela. Dia meletakkan satu gelas jus di depan Sarah, lalu ikut duduk di samping Sarah.
“Bel, menurut lo, kuliah capek nggak?” tanya Sarah tiba-tiba.
Isabela meneguk jusnya, lalu menoleh heran. “Lo mau kuliah?”
“Ya, gue pengen lanjut kuliah, nyari kerja, dan jadi orang hebat biar Ava bangga.”
“Menurut gue, kuliah itu capek, makanya gue gak kuliah,” jawab Isabela seraya tersenyum lebar. Sejak duduk di bangku SMA, Isabela sudah terbiasa mencari uang. Bahkan dia lebih memprioritaskan uang daripada sekolah.
“Kalo mau kuliah, ya kuliah aja. Soal Ava, gue bisa jaga dia selama lo kuliah,” sambungnya.
“Gue mau cari pengasuh buat dia, gue gak mau ngrepotin lo.”
Isabela tampak tertawa, “Sarah, kita itu bernasib sama. Gue mau kita saling dukung dan akhirnya menjadi wanita yang hebat. Gue mau bantu lo sebagaimana lo bantu gue,” ujar Isabela setelah reda dari tawanya.
“Ck, gue terharu,” balas Sarah sambil pura-pura menyeka air mata. Tawa Isabela meledak melihat kelakuan Sarah. Setelah reda dari tawanya, mereka berdua kembali menikmati jus alpukat. Keheningan tercipta di antara keduanya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hidup memang selalu tak terduga. Sarah kehilangan orang yang di sayang beberapa kali, namun, dia juga di datangi oleh orang-orang yang begitu baik. Ada saja hal baik setelah hal buruk terjadi.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍