
Waktu terus berlalu, akan tetapi, Sarah masih tetap sama. Dia masih sering duduk malamun, menangis, bahkan menjerit histeris. Ketika Libra ataupun Isabela mengajaknya berbicara, Sarah tetap bungkam. Bahkan teman-teman Libra tak bisa mengajaknya berbicara.
Libra dan Isabela duduk di teras, sedangkan Sarah sedang berdiri mematung di halaman rumah sambil memandangi bunga mawar yang berwarna putih. Sudah satu jam Sarah berdiri seperti itu.
“Bel,” panggil Libra sambil terus mengawasi Sarah.
“Hm.”
“Gue mau ke rumah Arzan.”
“Ikut! Gue benci banget sama tu orang! Gue pengen nampar dia sampe bibirnya pecah!” ujar Isabela geregetan.
“Biar gue aja. Gue mau bikin perhitungan sama itu orang!”
“Gue titip tamparan yang paling keras!”
Libra mengangguk. Dia pasti akan melakukan apa yang Isabela minta. Entah besok atau lusa dia akan mendatangi Arzan. Dia tak peduli dengan kondisi Arzan yang belum pulih sepenuhnya.
“Ib, gue gak tau harus gimana lagi.” Isabela menunduk lesu, dia memainkan jarinya dengan perasaan gelisah. Sudah banyak cara yang dia lakukan, tapi belum ada perubahan pada diri Sarah.
“Gue juga bingung, Bel. Kali ini Sarah bener-bener kehilangan arah. Dia gak punya semangat hidup lagi, gak punya tujuan, bahkan gairah hidupnya sudah hilang.”
Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Keheningan yang menyelimuti begitu terasa. Bahkan mereka bisa mendengar suara cicak ataupun kumbang yang terbang di atas kelopak bunga.
Tubuh Sarah semakin kurus. Beberapa jerawat tumbuh di wajahnya yang begitu kusam. Bahkan kulit tubuhnya sangat kering. Rambut yang berwarna honey, kini sangat kusut tak terawat. Dia benar-benar kacau.
Semburat merah menerpa tubuh Sarah. Tak terasa hari sudah semkain sore, namun Sarah masih betah berdiri di halaman. Dia memandangi bunga, memetiknya, bahkan mencabuti rumput yang tumbuh liar di bawahnya.
Selama Sarah menjadi seperti itu, Libra perlahan-lahan mulai berubah. Dia jarang pergi dengan wanita, bahkan sudah menjauhi beberapa wanita. Dia fokus pada skripsinya dan fokus membantu Sarah. Dia ingin Sarah kembali seperti semula. Dia sangat merindukan senyum, tawa bahkan suara Sarah.
“Bel, lo deket sama Arga?” tanya Libra memecah keheningan.
Isabela tersenyum simpul. Akhir-akhir ini dirinya memang cukup dekat dengan Arga. Tapi dia belum bisa menyimpulkan apa arti dari hubungannya itu.
“Arga orangnya pendiem banget, gue sampe bingung mau ngomong apa,” keluh Isabela sambil mengingat-ingat Arga yang memang irit bicara. Dia harus pintar-pintar mencari topik pembicaraan agar suasana tak terlalu hening.
Libra tertawa sejenak, sahabat satunya itu memang sangat irit bicara. Dia tak pernah bertanya dulu ataupun membuka topik obrolan. Dia lebih suka menjadi pendengar.
“Emang gitu orangnya, lo harus sabar kalo sama dia,” kata Libra mengingatkan.
“Untung cakep!”
Lagi-lagi Libra hanya tertawa. Dia melihat wajah Isabela yang tampak begitu lucu saat mengeluhkan Arga. Meskipun begitu, dia tahu jika Arga memang menyukai Isabela. Bahkan Arga mulai tertarik dengan Isabela saat pertama kali bertemu. Arga sama sekali tak mempermasalahkan masa lalu ataupun status Isabela.
Ketika matahari mulai kembali ke ufuk barat, Libra beranjak dari tempat duduknya menuju Sarah. Dia berdiri di samping Sarah dan diam beberapa saat. Setelah itu barulah dia berkata, “Masuk, yuk.”
Karena tak mendapat respon dari Sarah, Libra pun membimbing Sarah menuju ke dalam rumah. Dia juga meminta kepada Isabela agar membantu Sarah mandi dan berpakain. Ya, semua aktivitas Sarah memang di bantu oleh Isabela ataupun Libra.
***
“Apa apa , Bel?” tanya Libra dengan wajah panik.
“I…itu,” tunjuk Isabela ke arah Sarah yang kini tergeletak dengan tangan bersimpah darah.
Mata Libra terbelalak lebar. Dia segera berlari menghampiri Sarah. Dia memeriksa denyut nadi Sarah, lalu memanggil-manggil namanya. Untuk sejenak dia begitu panik sehingga takt ahu harus berbuat apa.
“Sarah, bangun!” Libra menggoyang-goyang tubuh Sarah dengan cukup keras. Matanya menatap pergelangan tangan Sarah yang kini bersimpah darah.
Ketika Isabela sibuk melakukan siaran langsung dan Libra mengerjakan tugas, diam-diam Sarah mneuju dapur dan mengambil pisau. Dia menyayat pergelangan tangannya dengan pisau hingga mnegelurkan banyak darah.
Melihat Libra yang masih meggoyang-goyang tubuh Sarah, Isabela kembali berteriak menyadarkan Libra.
“Ibra! Kita bawa ke rumah sakit sekarang!”
Libra mengangguk, lalu menggendong Sarah ala bridal menuju mobil. Dia membaringkan tubuh Sarah di jok tengah, dengan kepala yang di pangku oleh Isabela.
Baik Libra ataupun Isabela terlihat sangat khawatir. Mereka takut jika nyawa Sarah tak terselamatkan.
“Ib, buruan!” seru Isabela tak sabaran.
Libra tak menyahut, namun kakinya menginjak pedal gas lebih kencang. Dia memusatkan perhatiannya ke jalanan, dia ingin cepat sampai di rumah sakit. Kondisi seperti ini membuatnya dejavu, dia jadi ingat ketika membawa Sarah, Arzan dan Ava ke rumah sakit.
“Sarah, pelase lo harus hidup,” ujar Isabela yang kini sudah menangis sesenggukan. Dia tak tega melihat Sarah seperti ini. Rasanya dia ingin menggantikan Sarah.
“Shit!” umpat Libra sambil membanting stir ke arah kiri, lalu kembali di jalurnya seperti semula. Dia menghindari motor yang melaju melewati batas dari lawan arah. Jantungnya masih berdebar-debar meskipun sudah lolos dari tabrakan. Di belakang, Isabela masih mengomel tak jelas karena motor itu melaju dengan sembarangan.
Ketika sampai di rumah sakit, Libra langsung melompat keluar dari mobil. Dia berlari mencari perawat ataupun dokter.
“Brengsek! Gue gak bisa nahan lagi! Lo tungguin Sarah di sini, gue mau pergi dulu,” ujar Libra sambil meninju tembok yang ada di depannya. Kini keduanya sedang di ruang tunggu, menunggu Sarah yang sedang di tangani oleh dokter.
“Gila lo, ya! kondisi Sarah lagi kaya gini lo justru mau pergi?” bentak Isabela sambil berdiri.
“Bel, gue udah gak tahan lagi. Gue mau datengin Arzan sekarang!”
“Ib, gue juga pengen datengin Arzan dan ngasih perhitungan ke dia. Tapi kondisi Sarah lebih penting!”
“Gue titip Sarah, kabarin kalo ada apa-apa,” tegas Libra dengan dada yang naik turun karena emosi. Dia ingin meluapkan emosinya ke Arzan sekarang juga.
“Ibra!” panggil Isabela dengan suara keras.
“Lo gak bisa ninggalin Sarah gini! Ib,” teriak Isabela sebal. Dia menatap kepergian Libra dengan jengkel. Setelah Libra menghilang dari pandangannya, Isabela kembali duduk.
“Sial!” umpatnya sambil menjambak rambutnya frustasi. panik, takut, dan jengkel beradu menjadi satu, membuat Isabela benar-benar ingin meledak.
Sambil menunggu Sarah, Isabela hanya duduk sambil menangkup wajah dengan kedua tangannya. Dalam hati dia terus berdoa agar Sarah baik-baik saja. Jika terjadi sesutau dengan Sarah, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk membunuh Arzan. Meskipun resikonya dia harus masuk penjara, tapi tak peduli.