
Kamu yang terluka, tapi aku yang merasakan sakit.
“APA LO BILANG?” teriak Sarah membuat Libra terlonjak kaget. Bahkan Isabela langsung berlari ke luar.
“Ibra, ada apa?” tanya Isabela tak mengerti. Dia memandangi Sarah dan Libra bergantian, berusaha mencari tahu.
“Ava masih ada! Gue masih bisa ngerasain kalo dia ada di sini!” pekik Sarah. Dia memegangi kepalanya, lalu lama-kelamaan dia menjambaknya dengan kuat.
“AVA!” teriak Sarah sambil kembali berurai air mata.
Libra langsung meletakkan piring ke atas meja, sedangkan Isabela berlari menuju Sarah dan memeluknya.
“Gue gak butuh di peluk!” seru Sarah sambil mendorong tubuh Isabela hingga terpental. Tak hanya itu, dia kembali menjambak rambutnya dengan frustasi.
Libra mendekatkan tubuhnya kea rah Sarah, lalu memeluknya dengan erat. Tangannya yang kokoh melingkar di punggung Sarah, membuat Sarah tak bisa bergerak. Dia hanya bisa menangis dengan bahu yang bergerak naik turun. Suara seraknya terus memanggil-manggil nama Ava.
Isabela segera berdiri, lalu kembali duduk di samping Sarah. Dia mengelus Pundak Sarah sambil menenangkannya. Usaha Libra dan Isabela tak kunjung membuahkan hasil karena Sarah masih terus menangis dengan histeris. Sesekali dia memberontak agar lepas dari pelukan Libra.
Libra menepuk-nepuk punggung Sarah, lalu membisikan kalimat-kalimat penenang di samping telinganya. Tenaganya yang jauh lebih besar, mampu mengunci tubuh Sarah agar tak memberontak lagi.
“Ib, lo tidur di sini ya. gue takut Sarah kenapa-napa,” pinta Isabela dengan raut wajah memohon. Dia khawatir jika Sarah akan melakukan hal yang nekat.
“Oke, kita jagain Sarah bareng-bareng.”
“Lo tidur di ruang santai ya, nanti gue siapin tempatnya,” kata Isabela. Dia masih duduk sambil mengusap-usap bahu Sarah.
Libra hanya mengangguk patuh. Untuk beberapa hari ini dia akan menemani Sarah. Dia akan mengesampingkan urusan pribadinya demi Sarah.
Setelah Isabela beranjak pergi, Libra masih memeluk Sarah. Namun dia mengendurkan pelukannya agar Sarah tak terlalu sesak. “Lo harus jadi Sarah yang kuat seperti biasanya,” lirih Libra.
Sarah masih sesenggukan, tapi dia sudah tak memberontak lagi. Kini justru bersandar nyaman di dada Libra. Di kondisinya yang seperti ini, lagi-lagi Libra ada di sampingnya.
Hidup tanpa Ava? entahlah, Sarah tak bisa membayangkan. Ketika Ava memilih untuk hidup bersama Arzan beberapa minggu, rasanya Sarah hampir gila. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apakah dia akan benar-benar gila? Atau ingin ikut mati?
Sarah merasa tak berguna hidup di dunia. Semua orang yang di sayanginya perlahan-lahan pergi, membuatnya trauma akan kepergian.
“Ib, gue gak sanggup,” bisik Sarah seraya mendongak, mencari mata Libra dan menatapnya dengan tatapan nanar. Hidungnya yang merah, matanya yang sembab, dan bibirnya yang pucat membuat Libra seperti terjatuh ke dasar jurang. Dia ikut merasakan apa yang Sarah rasakan.
“Sarah, gue percaya kalo lo bisa melalui ini semua. Tuhan pasti punya rencana yang indah buat lo, jangan putus asa ya,” pinta Libra. Mata mereka saling beradu pandang, namun pikirannya melayang entah kemana.
Sarah menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu memejamkan mata agar air matanya tak jatuh lagi. Ketika membuka mata, Libra masih menatapnya dengan intens.
Setelah meletakan piring di dapur, Libra berkata, “Ya udah. Sekarang lo harus tidur,” perintah Libra. Dia menuntun Sarah menaiki tangga menuju lantai atas. Membimbing Sarah naik ke ranjang, dan membaringkan tubuhnya dengan nyaman.
“Selamat tidur, semoga mimpi indah,” ucap Libra dengan lembut, lalu mengecup kening Sarah dengan sayang. Dia menyelimuti tubuh Sarah sebatas dada. Setelah mematikan lampu, Libra keluar menuju ruang santai yang sudah di tata sedemikian rupa oleh Isabela. Libra membaringkan tubuhnya di atas kasur busa dengan nyaman. Di tariknya napas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara perlahan. Rasanya sangat nyaman berbaring di kasur empuk setelah kelelahan.
***
Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Tapi Isabela masih asik melakukan streaming di depan layar ponselnya. Meskipun tubuhnya lelah dan matanya mengantuk, dia tetap terlihat semangat di depan kamera.
Dia menyapa dan mengobrol dengan penontonnya. Namun ada satu komentar yang membuatnya terusik. Orang it uterus mengomentari kehidupan pribadinya. Dia mengatakan jika Isabela merupakan janda muda yang sengaja menggugurkan kandungannya. Kolom komentar miliknya lambat laun menjadi ricuh, banyak orang yang meminta klarifikasi kepada dirinya.
“****! Siapa sih ni orang?” batin Isabela sebal.
Meskipun dia merasa jengkel, tapi dia tetap melanjutkan siaran langsungnya. Dia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadinya.
Bahkan ketika selesai melakukan siaran langsung, ada banyak orang yang mengiriminya pesan dan menanyakan kebenaran berita itu. Isabela tampak kesal dengan isu baru tentang dirinya.
“Dasar netizen! Sukanya komen seenak jidat! Lo tau apa tentang hidup gue?” omel Isabela di depan layar ponselnya. Rasa lelah dan jengkel bercampur menjadi satu, membuat Isabela uring-uringan tak jelas.
Isabela berjalan menuju meja riasnya, lalu membuka laci dan mencari-cari sesuatu. Senyumnya mengembang ketika barang yang di carinya ketemu. Dia mengambil sekotak rokok yang masih tersisa banyak. Selama ini dia merokok diam-diam di belakang Sarah. Dia juga mulai mengkonsumi alkohol untuk menghilangkan insomnia.
Setelah melolos satu batang rokok, dia menyulutnya dengan korek. Dia menghisap rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke arah luar jendela. Dia sengaja merokok di pinggir jendela agar asapnya tak berkumpul di dalam ruangan.
Rasa lelah dan jengkel yang di alaminya beberapa menit yang lalu, kini perlahan sirna. Rokok membantunya menjadi tenang. Pikiran yang begitu memusingkan, perlahan-lahan menghilang.
Dia kembali menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya ke udara. Asap itu bergerak menjauhi dirinya, menuju luar jendela dan akhirnya sirna di telan udara.
Beberapa kali Isabela menghela napas, memejamkan mata, bahkan memijit keningnya. Entahlah, akhir-akhir ini dia semakin sibuk sehingga mudah lelah.
“Sarah,” lirih Isabela. Dia merasa iba melihat Sarah seperti itu. Dia ingin membantu Sarah, menjaganya, bahkan memulihkan mental Sarah. Tapi apakah bisa?
“Brengsek!” umpat Isabela ketika mengingat Arzan, mantan suami Sarah yang menyebabkan Ava meninggal. Dia tahu banyak hal tentang Arzan melalui Libra. Ingin rasanya dia mendatangi Arzan dan mengajarnya habis-habisan.
Selama ini dia berpikir jika mantan suaminya adalah manusia terkejam. Tapi salah! Masih ada orang lain yang lebih kejam dari suaminya sendiri.
Cukup lama Isabela merokok di pinggir jendela, sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidur. Besok adalah ahri yang sibuk. Dia harus mengurus semua pekerjaan rumah menggantikan Sarah, dia juga harus bekerja dan bertemu beberapa orang.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️