
Sarah menatap gundukan tanah yang ada di depannya dengan nanar. Dadanya begitu sesak, tubuhnya lemas, bahkan otaknya tak bisa berpikir dengan jernih. Entah apa rencana Tuhan, tapi Sarah benar-benar tak bisa menerima kepergian Ava.
Dengan lemah, jari-jemari Sarah meremas gundukan tanah yang ada di depannya. Langit mendung dan semilirnya angin menambah suasana duka yang sedang dia rasakan.
Di samping kanan Sarah ada Libra yang sedang berdiri dengan mata sembab. Sedangkan di samping kirinya ada Isabela yang penampilannya juga terlihat kacau. Di belakangnya, berdiri teman-teman Libra yang suka masih sesenggukan.
Keluarga Arzan sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Tetangga-tetangga Sarah juga sudah pulang.
Tak ada yang membuka suara hingga beberapa lama. Mereka semua benar-benar hanyut dalam kesedihan. sampai akhirnya rintih hujan turun perlahan-lahan. Semua orang berlarian mencari tempat teduh, sedangkan Sarah masih tetap jongkok di samping makam Ava.
“Sarah, kita pulang, yuk,” ajak Libra dengan suara lembut. Dia ikut berjongkok sambil memegang bahu Sarah.
Sarah menggeleng lemah. Dia membiarkan rintik hujan membasahi tubuhnya. Bahkan dia berharap jika rintik hujan itu berubah menjadi besar. Dia ingin menangis di bawah derasnya hujan.
“Nanti lo sakit,” ucap Libra lagi. Kali ini wajahnya terlihat khawatir. dia tak kuasa melihat Sarah sehancur ini.
Bukannya menurut, tangis Sarah justru kembali pecah. Kesunyian yang tercipta di makam itu berubah menjadi mencekam. Kini hanya ada Sarah dan Libra, sedangkan yang lainnya sudah beranjak pulang karena gerimis semakin deras.
Melihat Sarah menangis seperti itu, hati Libra rasanya seperti teriris. Dia mendekap Sarah dalam pelukannya. Dia mengelus punggung Sarah dengan lembut. Dia hanya diam, tak mampu berkata apa-apa.
“Lo harus kuat,” bisik Libra di sela derasnya hujan. Dia tak peduli dengan bajunya yang kini sudah basah kuyup. Bahkan dia tak peduli dengan tubuh yang kini menggigil kedinginan. Dia hanya peduli dengan perasaan Sarah.
“Hiks…hiks…hiks…Ibra.” Sarah terus menangis sambil mencengkram kemeja Libra. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Libra. Tubuhnya seperti mati rasa, dia tak bisa lagi merasakan dingin, atau apapun itu. Dia hanya ingin menangis sepuasnya.
“Hust,” Libra terus mengelus-elus punggung Sarah, berharap agar tangis Sarah segera reda.
Entah berapa lama Sarah menangis, kini tubuhnya benar-benar mengenaskan. Libra yang tak kuat lagi menahan dingin segera mengajak Sarah untuk pulang. Melihat Sarah yang terus menggeleng, akhirnya Libra nekat menggendong Sarah menuju mobilnya.
“Lepasin! Gue mau di sini aja sama Ava!” teriak Sarah sekuat tenaga. Namun suaranya sangat lirih karena tenaganya sudah habis.
“Ibra, turunin gue!” pekik Sarah yang lagi-lagi suaranya terdengar sangat lirih.
Libra sama sekali tak peduli, dia terus berjalan menuju mobilnya. ketika sampai di samping mobil, dia menurunkan Sarah dan membuka pintu. Setelah membantu Sarah duduk di kursi penumpang dan memasang seatbelt, Libra berlari memutar menuju kursi kemudi.
Sepanjang jalan, Sarah masih terus menangis histeris. Dia memukul-mukul dadanya sambil merancau nama Ava. Libra benar-benar tak tega melihat Sarah seperti itu. Dia berjanji kepada dirinya sendiri akan menghajar Arzan setelah Arzan keluar dari rumah sakit.
Sambil menahan dingin, akhirnya Libra sampai di rumah Sarah. Ketika baru saja turun dari mobil, Isabela menyambut mereka dan segera membantu Sarah.
***
Setelah Isabela mengganti pakaian Sarah, kini Libra menggosok rambut Sarah di ruang TV. Dia juga sudah mengganti pakaiannya sendiri. Untungnya, Isabela memiliki beberapa pakaian lelaki bekas mantan suaminya.
“Ib, gue masak dulu ya. Lo jagain Sarah dulu,” ujar Isabela ketika datang sambil membawa dua cangkir teh hangat.
“Minum teh dulu ya,” kata Libra seraya meletakkan handuk kecil di sandaran sofa, lalu meraih cangkir yang berisi the hangat serta sendok makan. Dia menyendok teh tersebut, lalu meniupnya perlahan. Setelah tak terlalu panas, Libra menyodorkan ke depan mulut Sarah dan memintanya agar membuka mulut.
Sarah tetap bergeming untuk beberapa saat. Mulutnya tertutup rapat, pandangannya kosong, bahkan tubuhnya membeku. Dia sama sekali tak bereaksi. Melihat Sarah yang seperti itu, Libra memaksa agar mulut Sarah membuka.
Akhirnya Libra berhasil membuat Sarah meminum teh beberapa sendok. Meskipun begitu, dia cukup lega. Kini Sarah tampak seperti mayat hidup. Bahkan Sarah belum makan sesuap nasipun dari kemarin.
Saat ini, Sarah hanya duduk sambil memandang kosong ke arah depan. Di sampingnya ada Libra yang menatapnya dengan perasan tak karuan. Wajah cantik Sarah kini terlihat sangat pucat dengan mata yang sayu. Rambutnya yang biasanya lembut dan dan berkilau, kini kusut tak terurus. Bahkan bibir yang biasanya berwarna merah muda, kini putih pucat dan kering.
“Ib, makanan udah siap, lo suapin Sarah ya,” ujar Isabela yang tiba-tiba muncul di ambang pintu. Matanya tampak lelah, tapi dia sama sekali tak menunjukan kelelahannya di depan Sarah ataupun Libra. Pekerjaan yang semakin hari semakin banyak membuatnya sibuk.
“Oke,” sahut Libra seraya bangkit dari sofa. Dia berjalan di belakang Isabela menuju dapur.
“Gue masak sayur sop buat Sarah, terus seafood buat kita,” ujar Isabela seraya menunjuk makanan yang ada di atas meja. Dia segera menyendok nasi dan menuang sayur sop di atasnya. Setelah itu menyerahkan kepada Libra.
“Kalo Sarah gak mau makan gimana?” tanya Libra tampak putus asa. Jika minum bisa di paksa, apakah makan juga bisa di paksa?
“Paksa aja, dari kemaren dia belum makan!” tegas Isabela.
Libra mengangguk, setelah itu kembali ke ruang TV. Dia mendudukkan diri di sebelah Sarah, lalu mulai menyendok nasi.
“Sarah, makan dikit ya,” pinta Libra dengan nada lembut. Dia menyodorkan sendok ke depan mulut Sarah, memerintah agar mulut Sarah terbuka.
Sarah tetap bergeming, dia melirik sekilas ke arah Libra, lalu kembali menatap kosong ke depan.
“Sarah, please. Makan ya,” lirih Libra dengan sabar. Tangannya masih menggantung sambil memegang sendok, berharap Sarah mau membuka mulutnya.
“Ava, kamu mau makan apa sayang? Bunda bikinin ya,” lirih Sarah dengan tatapan kosong. Entah sadar atau tidak, tapi dia benar-benar mengucapkan itu, seolah-olah mengucapkannya kepada Ava.
Ketika tangan Libra mulai pegal, dia menurunkannya dan meletakkan kembali sendok itu di atas piring.
“Sarah, lo harus sadar. Lo harus ikhlasin Ava.”
“Ikhlas? Emang Ava kemana? Ava gak kemana-mana kok, dia di sini sama gue,” sahut Sarah dengan suara sedikit bergetar. Matanya menatap tajam ke arah Libra. Untuk beberapa detik, Libra merasa ngeri dengan tatapan Sarah.
“Sarah, Ava udah gak ada.”
“APA LO BILANG?” teriak Sarah membuat Libra terlonjak kaget. Bahkan Isabela langsung berlari ke luar.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️