
Sarah di buat pusing oleh tangisan Ava. Entah sudah berapa lama Ava menangis karena ingin pulang ke rumah neneknya. Hal seperti ini sudah Sarah duga, setidaknya akan terjadi satu atau dua kali. Tapi dia tak menduga akan terjadi secepat ini. Padahal dia baru tinggal beberapa hari di apartemen Libra.
Berbagai macam cara sudah Sarah lakukan untuk menenangkan Ava. Namun usahanya sia-sia belaka karena Ava masih terus menangis histeris. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Ketika sedang mencapai puncak kebuntuan, tiba-tiba Libra pulang.
“Loh, Ava kenapa?” tanya Libra bingung ketika melihat Ava sedang menangis histeris sambil melempar-lempar mainannya.
“Dia minta pulang, gue bingung harus gimana lagi biar dia berhenti nangis,” ujar Sarah dengan raut wajah pasrah. Dia duduk di sofa sambil menatap Ava dengan mata berkaca-kaca.
Libra menaruh tas gendongnya di atas meja, lalu mencoba mendekati Ava dan membujuknya. Dengan sangat sabar Libra membujuk Ava sampai Ava mau berhenti menangis. Entah belajar darimana, tapi Libra begitu mahir membujuk Ava.
“Sarah, gue mau bawa Ava jalan-jalan. Lo kalo mau me time, pergi aja gak apa-apa. Biar gue yang urus Ava,” kata Libra seraya menggendong Ava. Dia melihat gurat lelah di wajah Sarah, dan itu membuatnya berinisiatif membawa Ava pergi agar Sarah bisa bebas barang sejenak.
“Lo yakin?” tanya Sarah sedikit ragu. Dia takut jika Ava akan kembali menangis dan meminta untuk pulang.
Libra mengangguk pasti. Dia merasa bisa mengatasi Ava dengan mudah. Sebelum pergi, Libra makan siang terlebih dahulu sementara Ava berganti baju. Sarah sangat berterimakasih kepada Libra. Jika tak ada Libra, entah apa yang akan terjadi.
Setelah kepergian Libra dan Ava, Sarah merebahkan tubuhnya di atas karpet yang ada di depan TV. Dia memandangi langit-langit apartemen dalam diam. Namun lama-kelamaan air matanya menetes. Dia lelah, dia butuh seseorang untuk tempatnya bersandar.
“Mah, Sarah capek,” lirih Sarah dengan air mata yang sudah mengucur deras. Hidup sendirian ternyata tak mudah. Berdiri di kaki sendiri tanpa adanya tempat untuk bertopang ternyata sangat sulit. Sewaktu-waktu bisa roboh kapan saja.
Sarah menangkupkan tangannya di wajah, bahunya bergetar hebat karena menangis. Dia menumpahkan segalanya dalam bentuk air mata, karena hanya itu yang bisa dia lakukan. Jika bibir tak lagi dapat bicara, maka air mata solusinya.
Menangis bukan berarti cengeng, namun itu bisa membuat perasaan menjadi lebih lega dan beban akan berkurang sedikit. Ya, hanya sedikit.
Sarah memegang dadanya yang terasa begitu nyeri. Rasa sesak yang dia rasakan begitu membuatnya tersiksa. Air matanya terus bercucuran, suara tangisnya bahkan sudah tak bisa di tahan lagi.
“Mah, Sarah butuh Mamah,” rengek Sarah seperti anak kecil yang di tinggal pergi sebentar oleh ibunya. Meskipun dia sudah memiliki Ava, tapi separuh dunianya telah hancur. Ternyata benar kata orang, dunia kita akan baik-baik saja selama ibu masih ada. Tapi jika tidak?
“Zan, ke-ke-napa lo tega nyakitin gue sih?” lirih Sarah dengan terbata-bata. Sekuat apapun manusia, pasti dia akan jatuh ke titik terendahnya. Sabar ada batasnya, kuat ada kapasitasnya, dan tegar ada masa habisnya.
Cukup lama Sarah membiarkan dirinya terus menangis. Matanya bengkak dan memerah, ingusnya bercecer kemana-mana, dan rambutnya kusut. Penampilan Sarah benar-benar kacau. Dulu dia pernah ada di posisi ini. Bedanya, dulu Sarah menangis di pelukan Naura sedangkan sekarang menangis di pelukan angin yang begitu hampa.
***
Sarah duduk di sebuah bangku yang ada di taman tak jauh dari apartemen Libra. Dia mengenakan blouse berwarna putih di padukan dengan rok jeans di bawah lutut. Dia mengenakan kaca mata hitam agar mata sembabnya tak terlihat orang lain.
Setelah lama menangis, Sarah butuh udara segar agar bisa bernapas lega. Dia duduk seorang diri sambil mendengarkan musik. Di sekelilingnya ada beberapa orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang asik membaca buku, berbincang, menikmati camilan, atau sekedar berduaan dengan pasangan.
Pasangan? Sarah sampai lupa bagaimana rasanya memiliki seorang pasangan. Sudah cukup lama dirinya hidup seorang diri. Tanpa orang tua dan pasangan. Jika di tanya seperti apa rasanya? Maka Sarah tak bisa menjabarkannya. Terlalu menyakitkan.
Satu jam Sarah duduk diam sambil mengamati orang-orang sekitar, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyalakan laptop dan melanjutkan menulis. Dia meluapkan isi hatinya melalui tulisan-tulisan.
“Halo, Kak,” sapa seorang anak laki-laki dengan mata yang begitu indah, dia terlihat berumur empat atau lima tahun.
Sarah menoleh ke arah anak laki-laki itu, lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Dia menghentikan aktivitas menulisnya, lalu menatap bocah itu dengan tajam. Mata birunya yang begitu jernih menghipnotis Sarah sejenak.
“Ada apa, sayang?” tanya Sarah.
Anak laki-laki bermata biru itu duduk di samping Sarah, lalu mencondongkan tubuhnya untuk melihat layar laptop Sarah. Dia penasaran dengan apa yang di kerjakan Sarah.
“Kakak lagi bikin apa?”
“Lagi bikin cerita.”
Anak bermata biru itu mengangguk-angguk. Lalu bertanya lagi, “Kak, mau gak jadi Mamaku?” tanyanya dengan polos. Matanya menatap Sarah dengan penuh harap.
Sarah terkejut mendengar pertanyaan itu, tapi kemudian tertawa geli. Dia tak menyangka ada anak kecil yang meminta begitu. Dengan lembut Sarah mengusap puncak kepala anak bermata biru itu.
“Emang Mama kamu kemana?”
“Kata Papa, Mama selingkuh dan pergi gitu aja,” jawabnya.
Lagi-lagi Sarah di buat kaget oleh anak bermata biru yang ada di sampingnya. Ayah macam apa yang mengatakan hal seperti itu kepada bocah yang bahkan tak tahu arti kata selingkuh.
“Jonas,” panggil seorang wanita cantik mengenakan rok span di atas lutut, sedangkan atasannya kemeja berwarna merah muda. Wanita itu terlihat sudah berumur, namun tetap terlihat cantik.
Jonas menoleh dan tersenyum kepada wanita itu, tangannya melambai agar wanita paruh baya itu mendekat.
“Maaf, Nona, jika Jonas berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan,” ujar wanita paruh baya itu seraya membungkukkan sedikit badannya.
“Tidak, dia tidak berbuat apa-apa,” jawab Sarah. Kaca mata hitamnya masih bertengger di atas hidungnya, dia tak mau mata sembabnya terlihat.
“Ayo, Jonas, kita pulang. Nanti Papa marah,” ujar wanita paruh baya itu seraya menuntun Jonas untuk pergi.
“Bye, Kakak cantik. Pikirkan matang-matang permintaanku,” ujarnya sebelum pergi.
Sarah hanya meringis mendengar perkataan anak bermata biru yang ternyata bernama Jonas. Lalu siapa wanita itu? Pikir Sarah. Jika di pikir-pikir, tidak mungkin itu ibunya. Pakaian wanita tadi terlalu formal, bahkan terlihat seperti sekertaris seorang CEO.
Sarah segera melupakan kejadian itu dan lanjut menulis. Dia tak mau pikirannya terganggu, apalagi oleh hal sepele seperti itu.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍