
Sarah sudah selesai memasak makan malam. Dia sedang menunggu Libra dan Ava pulang. Sambil menunggu, dia kembali melanjutkan menulis novel. Ketika asik mengetik, tiba-tiba ponselnya berdering.
“Arzan,” batin Sarah heran.
Dia kembali meletakkan ponsel itu dan lanjut menulis. Namun lagi-lagi ponselnya berdering. Karena merasa terganggu, akhirnya Sarah mengangkat telepon itu dengan terpaksa.
“Halo,” sapa Sarah setelah menggeser tombol hijau di layar teleponnya.
[Sarah, lo dimana si? Gue beberapa kali ke rumah lo tapi rumahnya kosong. Lo pergi kemana?] tanya Arzan dengan nada yang terdengar khawatir.
Sarah diam saja, dia bingung harus mengatakan apa. Tak mungkin dia berkata jujur, bisa-bisa Arzan akan marah.
[Sarah, ada apa? Lo ada masalah? Kalo lo ada masalah bilang aja ke gue] ujar Arzan dengan nada yang lebih lembut. Tapi sebenarnya dia merasa panik, hanya saja tidak menunjukan langsung di depan Sarah.
Darah Sarah berdesir. Sial! Mendengar suara lembutnya saja Sarah kalut. Tidak! Sarah tak boleh lengah.
“Gue gak apa-apa, kok.”
[Terus sekarang lo dimana? Gue bakal susul lo]
“Lo gak perlu tahu gue di mana!” tegas Sarah. Dia ingin hidup tenang barang sesaat saja. dia tak mau Arzan tahu, lalu datang dan kembali membuatnya tak karuan.
[Apa? Gak perlu tahu? Sarah, gue ayahnya Ava, gue berhak ketemu sama Ava. Lo gak bisa kaya gini, Sarah. Please, jangan bikin gue kepikiran] ujar Arzan tak terima.
Sarah menjauhkan ponselnya sejenak untuk menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menempelkan ponselnya di samping telinga.
“Arzan, gue gak apa-apa. Kalo waktunya udah tepat, gue bakal kabarin gue ada di mana,” ujar Sarah kemudian, lalu dia segera menutup telepon. Dia tak mau mendengar ucapan Arzan lebih banyak lagi, dia tak mau terpengaruh.
Setelah mematikan telepon, Sarah memijit keningnya yang terasa pusing. Hidupnya terlalu memusingkan. Banyak hal yang tiba-tiba terjadi kepadanya. Tak berapa lama ponselnya berdering kembali, dia melirik sekilas dan ternyata itu Arzan. Dia sudah memantapkan hati untuk mengabaikan telepon Arzan. Telepon itu tak berlangsung hanya sekali, namun beberapa kali yang membuat Sarah dongkol.
“Bundaaa,” teriak Ava keras membuat Sarah menegakkan tubuhnya dan berusaha mengatur emosinya. Dia segera berjalan menghampiri Ava.
“Kamu darimana aja sama Om Ibra?” tanya Sarah seraya menangkup wajah Ava dengan kedua tangannya.
“Jalan-jalan, Bun. Ava ke taman bermain, Ava juga di beliin baju bagus sama Om Ibra,” ujar Ava dengan mata berbinar. Dia benar-benar terlihat bahagia.
Sarah tersenyum, lalu mengajak Ava dan Libra untuk makan malam. Namun sebelum makan, Ava meminta untuk memakai baju yang di belikan oleh Libra. Anak kecil memang begitu, ketika memiliki baju baru pasti akan langsung di pakainya.
“Makasih, Ib. Lagi-lagi gue ngrepotin lo,” ujar Sarah ketika mereka bertiga menuju meja makan.
“Santai aja, Ava udah gue anggap sebagai ponakan gue sendiri,” kata Libra seraya duduk di meja makan. Mereka bertiga menikmati makan makam, sepanjang makan, Ava mengoceh tentang pengalamannya beberapa saat yang lalu bersama Libra. Dia menceritakan apa saja yang di lihatnya, dia juga bertanya tetang segala sesuatu yang tidak di mengerti kepada Libra.
“Sarah, lo gak apa-apa kan di apartemen sendiri? Gue mau pergi ketemu pacar gue,” ujar Libra di sela suapannya.
“Iya, gak apa-apa. Serius lo cuma mau ketemu sama pacar lo?” tanya Sarah sambil menyuapi Ava.
“Ya, enggak si. Gue kayaknya pulang pagi. Toh besok juga libur.”
Libra tersenyum simpul, “Gue gak janji kalo soal itu,” ujarnya sambil nyengir lebar.
***
Libra masuk ke dalam club malam, mencari sosok wanita cantik berambut blonde. Matanya bergerak-gerak ke sana kemari. Ketika melihat sosok yang dicarinya, dia segera menghampirinya.
“Hai, sayang. Kok lama banget?” tanya Victoria seraya merentangkan tangannya dan memeluk Libra dengan sayang.
“Maaf, ya. Tadi macet,” ujar Libra seraya balas memeluk Victoria. Dia juga mencium bibir Victoria sekilas. Dia melakukan itu semua dengan perasaan yang biasa saja. Dia hanya tertarik dengan Victoria karena kecantikan dan kepopulerannya saja, bukan karena cinta. Ya, selama ini dia tak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya.
Libra pernah jatuh cinta, itupun hanya sekali. Namun cintanya tak terbalaskan, dan sejak itu dia menjadi seorang sangat playboy. Wajahnya yang begitu tampan membuatnya mudah untuk mendapatkan wanita manapun.
Lalu, apakah Libra masih mencintai cinta pertamanya? Ya! Sampai detik ini, dia masih menyimpan nama cinta pertamanya di hati. Dia menyimpan nama itu baik-baik, menjaganya agar tetap utuh.
Libra mendudukkan diri di sofa, sementara Victoria duduk di pangkuan Libra. Kedua tangan Libra memeluk pinggang pacarnya, sedangkan Victoria mengalungkan kedua lengannya di leher Libra. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Namun faktanya tak seindah itu.
Banyak laki-laki yang iri dengan Libra, mendapatkan wanita secantik Victoria memang menjadi impian banyak lelaki. Tapi sepertinya Libra tak peduli dengan itu. Dia lebih peduli bahwa dirinya di kenal banyak orang.
“Sayang, kita jadi jarang ketemu, lo sibuk apa sih?” tanya Victoria seraya membelai rahang Libra.
Libra menatap mata Victoria dengan tatapan lembut. Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Victoria.
“Maaf ya, gue sekarang sibuk bikin komik,” ujar Libra berbohong.
“Gue janji, kalo gue udah gak sibuk lagi, gue bakal ajak lo jalan-jalan,” sambungnya. Dia tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dia mengucapkan itu hanya sebagai kalimat penenang saja.
“Janji?” tanya Victoria mengulangi ucapan Libra.
Libra mengangguk pasti, lalu mencium kening Victoria dengan penuh sayang. Cukup lama mereka mengobrol, bahkan Libra menemani Victoria berjoget di lantai dansa. Dan sepanjang itu, ada saja laki-laki yang melirik iri ke arah Libra.
Ketika jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, Libra mengantarkan Victoria pulang.
“Good night, honey. Langsung tidur ya, jangan begadang,” kata Libra sebelum melajukan mobilnya pulang.
“Night to. Iya, lo juga langsung pulang dan jangan begadang buat ngerjain komik,” balas Victoria seraya berjalan mendekati Libra. Dia mencondongkan sedikit tubuhnya, lalu mencium pipi Libra dari luar jendela. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.
Libra melajukan mobilnya untuk pulang. Tidak! Libra tidak pulang, dia pergi lagi untuk menemui salah satu simpannya. Ya, Libra memang harus pintar-pintar mengatur waktu.
Ketika sedang mengendarai mobilnya, Libra mengirim pesan kepada Sarah.
[Jangan begadang buat ngerjain novel, lo harus istirahat]
Setelah terkirim, dia melempar ponselnya ke jok samping. Lalu kembali fokus menyetir. Semakin malam, jalanan justru semakin ramai. Banyak mobil dan motor yang berlalu lalang, apalagi ini malam minggu.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍